Sejarah Kota Kupang dapat ditelusuri dari
berbagai sumber tertulis yang terdokumentasi. Catatan dari berbagai
kalangan tersebut, tentu perlu ditunjang
oleh gambar yang setidaknya memberikan
pengalaman
visual. Kita telah sering melihat dokumentasi foto kupang tempo doloe yang
rata-rata di awal abad ke-20 atau di atas tahun 1900-an, namun
sulit untuk mendapatkan visualisasi abad ke-19. Sehingga sumber lain yang dapat
membantu visualisasi adalah lukisan Kupang tempo doloe. Jika kita berpikir
lebih cerdas, maka lukisan dapat memberikan
sumber
informasi Kota Kupang di masa lalu.
| Buku terbitan koleksi penerbit |
Pada
pertengahan bulan lalu, saya menyempatkan berkunjung ke Komunitas Bambu yang
terletak di Depok, Jawa Barat. Komunitas Bambu yang kemudian disingkat menjadi
KOBAM, telah dikenal sebagai sebuah lembaga penerbitan buku yang secara khusus menggarap buku-buku ilmu pengetahuan
sejarah, budaya dan humaniora. Kehadiran penerbitan ini menambah khazanah
keilmuan terkhusus bertemakan sejarah bangsa. Penerbit Kobam didukung dengan jaringan
distribusi buku yang luas, sehingga memudahkan menemukan buku terbitan Kobam di
berbagai toko buku, termasuk di Toko Buku Gramedia se-Indonesia dan jaringan
toko buku online.
![]() |
|
Picture: http://john.ellingsworth.org/
|
“Apalah
arti sebuah nama?, Apa yang kita sebut mawar dengan kata apapun, keharumannya
akan sama saja...” (William Shakespeare, dalam Romeo dan Juliet)
Kalimat milik pujangga Shakespeare yang
dilantunkan oleh Juliet, sepertinya telah menjadi trade mark di abad modern ini, entah dengan nada sinis atau bukan.
Sentilan ini setidaknya memacu kita untuk mengerti dan memahami sejauh mana arti sebuah nama. Nama
secara kontekstual adalah identitas non fisik pertama yang diterima manusia
setelah dilahirkan, selain identitas fisik seperti ras, jenis kelamin dan
ciri-ciri fisik lainnya. Tak berlebihan jika seorang bayi yang dilahirkan
dengan nama yang telah dipersiapkan dan diberikan adalah sosok manusia yang
didoakan dan dinantikan kehadirannya dalam keluarga. Sedangkan
di sekitar kita masih banyak bayi yang tidak pernah diharapkan kehadirannya,
yang tentu namanya tak akan pernah
diberikan. Nama adalah doa orang tua, demikianlah pembelaan terbaik dari
sindiran Shakespeare.
Di
awal bulan ini, blog pribadi yang tengah saya kelola telah mencapai angka
statistik di atas 10.000 halaman. Mungkin
adalah rasa senang yang patut saya rasakan bahwa blog yang dikelola telah menunjukan performa yang baik. Mencapai angka
10.000 dalam waktu sepuluh bulan sejak 28
November 2011, setidaknya menjadi sedikit prestasi bagi blog yang saya kelola. Istimewanya
bahwa blog yang anda baca saat ini adalah karya tulisan
atau catatan saya sendiri tanpa mengutip tulisan atau catatan orang lain atau yang biasa di sebut “rebloging”.
Pekan lalu (23/09/2012) saya membaca berita tentang wafatnya
Guru Besar Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Prof. dr. Firman Lubis, MPH, beliau berpulang dalam usia 68 tahun. Seorang yang
pakar dalam pengembangan kedokteran komunitas di Indonesia dan juga sekaligus
sebagai seorang sejarahwan
yang saya kagumi. Latar belakang kekaguman saya adalah buku-buku tentang sejarah sosial Kota Jakarta yang ditulis beliau, dan menurut saya unik karena menjadi sebuah bentuk
penulisan autobiografi dengan genre berbeda, melalui pendekatan kontekstual
kehidupan Ibu Kota Jakarta dan pengaruh konstelasi terhadap perkembangan nasional
kala itu.
Adalah kata-kata yang abadi kala penulisnya sudah berakhir!. Kiranya dalam sebuah perjalanan hidup ada momentum yang membuat seseorang lebih dewasa dalam berpikir atau sebaliknya, jauh lebih naif dalam jiwa yang kekanak-kanakan. Semua hanya dapat terdokumentasi jika tertulis dengan baik sebagai catatan. Dengan melihat kembali, mungkin serasa nelangsa dan terharu dari guratan jejak yang telah ditinggalkan. Kita akan lebih menghargai masa depan, jika dapat menyimpan catatan masa lalu. Memang catatan akan lebih berarti ketika telah melintasi waktu yang panjang.
Akhir bulan kemarin saya
berkunjung ke Gramedia Kota Kupang, tidak seperti biasanya di lantai dua tempat
penjualan buku, begitu baru masuk telah tampak tumpukan buku yang
sengaja ditampilkan paling depan. Buku itu tak lain dari Biografi Chairul Tanjung, Si Anak Singkong, buku yang memang lagi promo besar-besaran. Sambil lalu melihat
sebentar, sayapun beranjak kedalam melihat
beberapa buku lainnya. Di sela melihat-lihat buku, terdengar musik yang kemudian diisi dengan advertisement buku Si Anak Singkong, disuarakan oleh operator yang bertugas saat itu. Tak selang
beberapa waktu diputar lagi iklan buku yang sama, namun
kali ini adalah iklan yang sudah direcord sebelumnya dan tampaknya diperdengarkan di seluruh toko buku Gramedia se-Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)
My Facebook
Catatan....!!!
Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!













- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact