Bagi generasi 80 dan 90-an, siapa yang tidak mengenal Mick Jagger. Pentolan
dan vokalis grup band The Rolling Stones asal Inggris yang mengusung aliran rock, blues rock, rock and roll hingga
country rock. Gema Mick Jagger juga sampai ke Pulau Timor, banyak kaula
muda yang mengemari sang lagenda musik rock ini, poster Rolling Stones ada di kamar-kamar anak muda. Logo dari band bertebaran di Kota Kupang, orang Kupang biasa
menyebutnya logo lo lidah atau menjulurkan
lidah, sebagaimana ikon dari Mick Jagger sendiri.
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Agustus 2020
Flobamora,
Pariwisata,
Pulau Timor,
Tokoh
Mick Jagger di Malaka – Nusa Tenggara Timur
Selasa, 14 Oktober 2014
Flobamora,
Pulau Timor,
Sejarah,
Tokoh
Donald P. Tick, Sejarawan Pemerhati Kerajaan-Kerajaan Nusa Tenggara Timur
Tokoh yang satu ini telah
berkecimpung dalam penelitian tentang kerajaaan-kerajaan di Indonesia selama 30
tahun. Beliau telah membentuk Pusat
Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia (PUSAKA) bermarkas di Vlaardingen (Belanda). Ia melakukan upaya
besar untuk meneliti sejarah dan para pewaris dari kerajaan-kerajaan di Indonesia
dengan kondisi kekiniannya. Dan saat ini Beliau sedang menekuni penyusunan ensiklopedia
seluruh kerajaan di Nusantara. Harapannya adalah tetap menjaga ketersediaan
informasi dari kurang lebih 300 kerajaan
di tanah air dengan segala pendokumentasiannya. Dalam proses ini Beliau
telah melakukan kunjungan ke berbagai kerajaan,
serta mengunjungi para raja dan sultan di daerah-daerah
tertentu di Indonesia untuk melakukan penelitian terkait sejarah mereka. Dengan demikian dapat
terkumpulnya berbagai informasi lengkap tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Hal ini juga melibatkan keterkaitan dengan sumber-sumber
dari banyak orang yang saling terhubung dengan sejarah kerajaan. Karena bagaimanapun
sejarah sebuah kerajaan memilki kepentingan yang luas bagi lapisan masyarakat
dalam mengukuhkan kearifan di masa lalu. Sumber-sumber yang ada seperti dokumentasi
foto lama dan kini, serta sumber-sumber tertulis lainnya. Mengingat selama ini
banyak sumber-sumber tentang sejarah sebuah kerajaan, hanya tersimpan rapi di
negeri Belanda, dan hasrat dari sejarawan ini adalah membawa kembali sejarah
kerajaan masa lalu ke tempat di mana sejarah itu berasal.
Ketika masih bersekolah di tingkat SD dan SMP, saya masih menghapal hingga kini wajah para pahlawan nasional yang lukisannya terpajang di hampir sekeliling dinding ruang kelas dan termuat di dalam uang kertas BI dengan berbagai pecahan yang dicetak oleh Perum Peruri, sebut saja Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Kapiten Pattimura, dan lain-lain atau juga bisa melihat siluet dalam tanda air uang kertas tersebut. Sejauh ini apa telah disosialisasikan pemerintah berbekas bagi generasi saat ini. Namun kemudian muncul pertanyaan siapa pahlawan nasional yang berasal dari NTT, yang berjuang dengan gigih mempertahankan wilayahnya dari ekspansi kolonial, kita hanya sekedar tahu dari pelajaran muatan lokal saja.
Pekan lalu (23/09/2012) saya membaca berita tentang wafatnya
Guru Besar Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Prof. dr. Firman Lubis, MPH, beliau berpulang dalam usia 68 tahun. Seorang yang
pakar dalam pengembangan kedokteran komunitas di Indonesia dan juga sekaligus
sebagai seorang sejarahwan
yang saya kagumi. Latar belakang kekaguman saya adalah buku-buku tentang sejarah sosial Kota Jakarta yang ditulis beliau, dan menurut saya unik karena menjadi sebuah bentuk
penulisan autobiografi dengan genre berbeda, melalui pendekatan kontekstual
kehidupan Ibu Kota Jakarta dan pengaruh konstelasi terhadap perkembangan nasional
kala itu.
Akhir bulan kemarin saya
berkunjung ke Gramedia Kota Kupang, tidak seperti biasanya di lantai dua tempat
penjualan buku, begitu baru masuk telah tampak tumpukan buku yang
sengaja ditampilkan paling depan. Buku itu tak lain dari Biografi Chairul Tanjung, Si Anak Singkong, buku yang memang lagi promo besar-besaran. Sambil lalu melihat
sebentar, sayapun beranjak kedalam melihat
beberapa buku lainnya. Di sela melihat-lihat buku, terdengar musik yang kemudian diisi dengan advertisement buku Si Anak Singkong, disuarakan oleh operator yang bertugas saat itu. Tak selang
beberapa waktu diputar lagi iklan buku yang sama, namun
kali ini adalah iklan yang sudah direcord sebelumnya dan tampaknya diperdengarkan di seluruh toko buku Gramedia se-Indonesia.
Eric
Thake (1904-1982) adalah seorang seniman Australia.
Ia terkenal dengan konsep surealisme
untuk menangkap suasana dari pemandangan yang dilihatnya. Ia memproduksi cetakan,
gambar, lukisan cat air dan foto, serta karya-karyanya dipertunjukan di galeri
seni nasional Australia dan luar negeri. Pada tahun 1943, Thake terdaftar di Angkatan Udara Royal
Australia (RAAF) dengan semula bekerja
sebagai juru gambar. Dan
karena
bakatnya ia kemudian diangkat sebagai seniman perang (warartist) di tahun 1944 pada liputan
sejarah Perang Dunia II.
Serasa
beruntung suatu kali sempat bercakap-cakap dengan seorang sastrawan besar Nusa
Tenggara Timur yang telah lama bergelut dalam kubangan makna dunia
kesusastraan. Beliau adalah Gerson Poyk, sastrawan senior Nusa Tenggara Timur
yang lebih dikenal di luar daerah dibandingkan dengan tanah kelahirannya
sendiri. Jika bukan dengan penjelajahan di dunia maya dan membaca karyanya,
maka saya kurang mengenal siapa Gerson Poyk. Memang pada umumnya pelajar dan generasi
muda Nusa Tenggara Timur saat ini kurang mengenal sosok hebat ini. Padahal Ia
adalah seorang penulis, wartawan, dan juga mantan guru yang karya-karyanya
telah menempatkan dirinya sebagai salah seorang penulis besar dari Kawasan
Timur Indonesia. Hal yang mungkin dimaklumi karena Gerson Poyk adalah perintis
sastra Nusa Tenggara Timur. Namun dibelakang Gerson Poyk sudah ada beberapa
sastrawan muda yang mulai bermunculan untuk melanjutkan pengembangan sastra
Flobamora kedepan, sebagaimana yang kita harapkan demikian.
Jumat, 06 Juli 2012
Sastra,
Tokoh,
Ulas Buku
Tetralogi Buru (The Buru Quartet): Karya Pramoedya Ananta Toer
Di suatu tengah malam, seorang
teman mengajak keluar hotel mencari
santap malam. Walau tidak dalam keadaan lapar saya pun nurut saja. Kota metropolitan Jakarta membuat
insomnia seolah kambuh. Kami menyusuri Jalan KH.
Agus Salim, dahulunya jalan ini bernama Jalan Sabang, sehingga lebih dikenal
dengan kawasan Sabang, Jakarta Pusat. Kami singgah di sebuah
warung tenda dan memesan ikan bakar lalapan. Memang tidak lengkap jika
menunggu, menikmati dan mengakhiri santap malam tanpa di temani para pengamen dan peminta-minta. Namun ada juga beberapa pedagang yang membawa banyak buku-buku jualan. Disinilah baru saya melihat pedagang buku yang mobile dari satu warung tenda ke warung
tenda yang lainnya, sambil membawa banyak
tumpukan buku. Buku yang ditawarkan bermacam-macam ada yang asli ada juga yang bajakan.
Buku bajakan dapat dikenali dari warna sampul buku yang
berbeda dari sampul buku yang sama dijual di Toko Buku Gramedia. Tetapi ada yang menarik dari tumpukan buku yang dibawa
oleh bapak-bapak penjual buku itu, yaitu buku-buku Tetralogi
Buru karya Pramodya Ananta Toer serta buku Pramodya lainnya. Harga
yang tertera di sampul cenderung tinggi sehingga perlu untuk ditawar. Dengan penawaran, saya mendapatkan harga yang sangat murah dibandingkan dengan
harga pasaran yang saya ketahui. Hingga
membawa pulang kembali ke hotel satu set novel Tetralogi Buru, yang terdiri empat judul
buku (Bumi
Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca).
“Di samping bermain, di kelas enam, aku suka menonton anak-anak kelas empat bermain bola jeruk Bali. Anak-anak di kota Ruteng mengatakan ‘lemon pampermus’. Waktu itu barang siapa yang pintar main tekan yaitu salah satu kaki memberi bola, yang lain menekan kaki lawan agar tidak mengambil bola dan bawa sendiri maka dia menjadi pujaan. Ada seorang anak baru masuk kelas empat yang badannya bundar boncel pintar sekali membawa bola. Aku sangat mengagumi anak yang baru masuk itu. Di kemudian hari anak yang pintar membawa sendiri bola itu menjadi gubernur NTT.”
Langganan:
Postingan (Atom)
My Facebook
Catatan....!!!
Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!
















- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact