Kita tak menyadari sepenuhnya bahwa ruang dan waktu adalah
dimensi yang selalu menjalin dalam kehidupan kita, dalam pikiran, emosi
dan tingkah laku kita. Ruang dan waktu ibarat dua buah sisi logam yang saling
melengkapi, bukan sebaliknya untuk diundi. Ruang bisa melebur bersama waktu,
dan waktu bisa membawa pergi ruang dalam sejarah. Kita hanya entitas yang
singgah dalam dimensi ruang dan kemudian waktu yang harus memisahkan kita. Waktu
terus bergulir seperti bola yang terus mengeliding tanpa henti, meninggalkan kita
dibelakang yang masih menyimpan kenangan dengan melekatkan jiwa kita pada
ruang-ruang yang mulai usang.
Tampilkan postingan dengan label Soul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soul. Tampilkan semua postingan
Di masa kecil saya suka membaca majalah anak-anak dan menonton film
kartun di tv nasional saat itu. Sering saya temui berbagai kisah dan dongeng
tentang negeri di atas awan. Satu kisah yang paling diingat adalah benih
tanaman yang diberikan seorang nenek tua yang baik hati kepada seorang gadis
cantik untuk ditanam. Benih tersebut akhirnya tumbuh dan terus menjulang ke
atas menembus awan dan memperlihatkan sebuah negeri di atas awan. Inilah
gambaran fantasi sejak zaman nenek moyang, tentang harapan umat manusia bisa
menembus dan menyentuh awan. Bukan sekedar mitos, kini kita juga mempunyai
kesempatan sejenak berada di atas awan, sebuah negeri di atas awan.
Dari tahun ke tahun, dari Agustus ke Agustus. Berlahan-lahan disekeliling kita berganti.
Pelan atau cepat. Agustus adalah bulan ke delapan dalam tahun kelender Gregorian.
Agustus diambil dari nama Kaisar Romawi Octovianus Augustus. Sebelumnya Bulan
ini bernama Sextilis yang berarti
bulan ke enam dalam sepuluh bulan kelender asli Bangsa Romawi yang dimulai dari
Maret. Kemudian Bulan Januari dan Februari ditambahkan sebelum Bulan Maret
dalam tahun tersebut, sehingga bulan ke enam (sextilis) berubah menjadi bulan
ke delapan (Agustus).
Jumat, 01 Agustus 2014
Human Interest,
Sejarah,
Soul
Mengintip Sedikit Sejarah Asia Tengah melalui Sabina Altynbekova
Pada pergelaran Kejuaraan Voli Asia,
Asian Women Volleyball U-19 Championship ke-17, pada 16-24 Juli 2014
di China Taipei lalu. Tampil sosok perempuan yang kemudian menjadi pembahasan
menarik di dunia maya, bukan karena aksi permainannya tetapi lebih pada
kecantikan dan kemolekan tubuh yang dimiliki seorang atlit bola voli asal Kazakhstan.
Namanya Sabina Altynbekova, mendadak tenar dan menjadi perbincangan di jejaring
sosial setelah salah satu user 9gag.com memposting foto-foto
aksinya di lapangan. Dengan
tubuh tinggi semampai, ditambah kecantikan wajah imut oriental dengan mata teduh
yang memesona, serasa memiliki kecantikan sempurna. Sehingga banyak komentar
dan guyonan yang muncul untuk menjadikannya sebagai kekasih dan segera menyatakan
diri sebagai penggemar.
ArtPics - Photography © Peter Kefali
Pergelaran
Piala Dunia 2014 hampir selesai dengan menyisahkan tiga laga lagi untuk
menentukan negara mana yang berhasil membawa pulang Piala Dunia. Terharu ketika
kita melihat ending setiap
pertandingan terutama di laga knock out.
Tampak wajah-wajah tertunduk penuh penyesalan dengan perasaan sedih, ditambah amarah
serta isak tangis yang diredam para pemain, apa lagi bagi mereka yang merasa
paling bertanggungjawab terhadap kekalahan. Tidak mudah meraih kemenangan dan
membawa pulang piala, karena piala itu terbatas dan tentunya temporal, tidak
semua bisa mendapatkannya dan para pemain tidak selamanya memiliki kesempatan
untuk mengulang di waktu yang lain. Butuh perjuangan dan kerja keras, tapi juga
sangat ditentukan oleh apa yang dinamakan “takdir” sebagai faktor “x”, atau
dunia barat menyebutnya “dewi fortuna” sebagai keberuntungan, karena hanya ada
satu pemenang. Dan pastinya setiap pergelaran ini menghadirkan kisah berbalut
drama yang terekam dan sulit terlupakan.
“Ketika
seorang perempuan memutuskan menikah, Ia akan mengecewakan banyak lelaki hanya
untuk dikecewakan oleh seorang lelaki.” (Helen Rowland)
Kutipan di atas, jika diajukan kepada
seseorang perempuan, Ia akan menolaknya. Namun jika dilihat dari substansi
pernyataan tersebut, mereka seharusnya mengakui bahwa ada hati para lelaki yang
harus dikecewakan, ketika mereka telah memutuskan menikah dengan seseorang yang
menjadi pilihan. Para perempuan hanya menolak jika mereka akan dikecewakan.
Setiap insan punya ekspetasi yang cerah terhadap masa depannya, kita membentuk
harapan bagai sebuah garis yang linear, namun nyatanya kadang garis itu
bergerak acak. Dalam konteks sebuah hubungan personal misalnya, selalu ada
konsekuensi yang harus diterima, dilanjutkan atau berhenti begitu saja, menjadi
dimiliki atau tidak memiliki! Entah dalam perjalanannya kebahagiaan dan
kekecewaan senantiasa dipisahkan oleh jarak yang tak jauh.
Photo: Arno Burgi - "Ich liebe
Dich" – Botschaft
Dalam sebuah film Jerman yang saya
tonton, seorang perempuan mengucapkan “ich liebe dich” dengan tegas dan
mengingatkan saya pada berbagai bahasa dunia, tentang bagaimana mengungkapkan
perasaan cinta. Sebuah perasaan manusia yang sangat manusiawi, yang menghantarkan
setiap orang pada kesempurnaan tentang hidup!. Kadang orang mengatakan bahwa
jatuh cinta adalah bentuk kegilaan yang dapat diterima. Perasaan cinta tak
mengenal batas dan zaman, yang seringkali terdefenisikan dalam semua hal, pada
semua entitas yang kita gerakan atau kita temukan sehari-hari.
Sebuah hotel yang berada di Jalan Timor Raya Nomor 122,
Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Hotel
dibuka sejak awal tahun 2011 dengan fasilitas 60 kamar, yang hingga saat ini
terus dikembangkan untuk menjadi hotel berbintang tiga yang nyaman dan ramah di
Kota Kupang. Hotel yang dibangun melalui konsorsium Taruna Kusan ini,
menjadikan sebagai salah satu hotel bintang dengan kepemilikan lokal di Kota
Kupang. Hotel yang menawarkan pilihan akomodasi sederhana terbaik untuk
perjalanan wisata atau bisnis dengan lokasi strategis di dekat pantai Laut
Timur Kupang, yang memudahkan akses ke berbagai destinasi di Kota Kupang dengan
berbagai tambahan pelayanan spesial lainnya. Kehadiran hotel ini akan meningkatkan pertumbuhan konstribusi sektor ekonomi tersier bagi Kota Kupang yang juga tentunya berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
Entah
sejak kapan kata ini dipakai, hubungan
jarak jauh atau dalam bahasa Inggrisnya long-distance
relationship (LDR) atau dengan
tambahan kata romantis menjadi long-distance
romantic relationship (LDRR).
Mungkin sudah setua dengan peradaban umat manusia, konon kabarnya Adam dan
Hawa, ketika diusir dari taman firdaus jatuh ke bumi secara terpisah dalam jarak
yang sangat jauh, dengan kontak batin mereka saling mencari keberadaan
masing-masing hingga kemudian waktu bisa kembali mempertemukan mereka. Demikian
juga berbagai kisah yang mengikuti di segala zaman, di kala sang kekasih
terpisah jauh oleh bentangan alam yang memupuk rasa rindu untuk saling bertemu.
Seperti sang pelaut yang berlayar jauh meninggalkan kekasihnya, sang prajurit
yang ditugaskan di medan tempur hingga sang pekerja yang mengadu nasib di
negeri orang.
![]() |
| picture:
tresscox.com.au |
Tiga puluh satu hari bergeser dari
awal tahun 2014, tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Namun bulan ini berbeda
karena begitu serasa panjang, bulan dengan rutinitas kerja yang tinggi dan
beberapa kali harus pulang pagi, seolah tak ada hari untuk libur. Bulan dengan
begitu banyak hal yang harus dilakukan segera dengan jumlah jam tidur yang
berkurang. Pekerjaan seperti mengalihkan perhatian dari esensi Januari, sebagai
bulan pembuka di setiap tahunnya, bulan yang seharusnya dipenuhi dengan konsep
bukan hal teknis, bulan yang seharusnya dipenuhi mimpi-mimpi bukan hal-hal
praktis. Januari dengan jumlah hari yang lebih menjadi penanda jejak, setahun, empat tahun atau berpuluh-puluh tahun yang lalu. Di bawah pohon itu, dibawah
naungan koridor, dibawah atap bangunan besar, di sofa biru hingga malam panjang
yang datang berbisik. Masihkah itu dalam kenangan, atau kah sang raksasa waktu
telah menelannya.
Mengenang adalah kelebihan manusia
yang tidak dimiliki makhluk manapun. Membuka kembali guratan halaman-halaman
yang pernah dibuka memberi sentuhan ritmik sanubari akan halaman-halaman yang
pernah dibaca, pernah dilalui, pernah diceritakan dan pernah didiskusikan. Kenangan
itu membawa keteduhan bahwa masa lalu adalah keindahan yang pernah digapai.
Mendekap lalu menciumi dan mengharumi rentetan halaman yang seperti berlari,
menepuk punggung buku seakan tak ingin melepaskannya, mengengamnya ibarat peti
emas dan menimangnya laksana merpati dan kemudian merapikannya kembali.
photo: 5herly.blogspot.com
Ketika
malam-malam panjang menjadi hal yang menakutkan, kala hidup seperti terhimpit
dalam pergolakan untuk menyerah atau melawan. Sedangkan hari-hari bisa dilewati
dengan menghilangkan sedikit rasa perih. Mimpi kadang mengiring pada sebuah
masa depan yang sulit diterima dalam kerangka realitas hari ini, bahwa syarat-syarat
denyut kehidupan harus terus terpenuhi, lalu bagaimana kemudian!
Dalam bulan Ramadhan memang sebaiknya mengisi waktu dengan banyak membaca, baik
Al-Qurannul Karim maupun bacaan islami lainnya. Kali ini saya membaca buku
tentang perempuan berjudul “Perempuan”
dengan judul kecil, “dari Cinta sampai
Seks, dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru”
karya M. Quraish Shihab, yang telah dikenal
sebagai pakar al-Qur'an di Indonesia dan sudah menghasilkan lebih dari 50 karya yang telah
dibukukan. Penulisan buku ini memiliki karakteristik sesuai dengan kemampuan
sang penulis dalam menerjemahkan dan meyampaikan
pesan-pesan al-Qur'an dalam konteks kekinian tanpa kaku menilai al-Qur'an secara tekstual. Model penafsirannya adalah dengan menggunakan sejumlah ayat al-Qur'an, hadis rasul, pandangan ulama tradisional dan kontemporer
serta keilmuan modern yang membahas masalah tertentu, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat
tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap permasalahan yang menjadi pokok pembahasan.
Photo: www.m5x.eu
Kita lebih sering mendengar
kisah perempuan yang tersakiti perasaan oleh seorang laki-laki, namun bagaimana jika berbalik justru laki-laki yang
tersakiti oleh perempuan. Kisah cinta yang diterima, sebanding dengan kisah cinta
yang ditolak, rupanya hal ini yang dialami oleh seorang penulis script film Scott Neustadter, yang
kemudian mengkisahkan percintaan gagalnya, penuh perasaan dan berpuncak pada
patah hati. Kisah cinta ini dirangkum dalam sebuah film berjudul (500) Days of Summer yang di produksi oleh Fox Searchlight Pictures tahun 2009 di Amerika.
![]() |
| photo: Reuters |
Kenapa manusia selalu membuat
kesalahan dalam hidup, jika kita berjanji untuk tidak mengulang kesalahan yang
sama, kenapa kesalahan itu masih terulang. Apakah kita bagian dari kesalahan
yang seolah terencana
itu!. Dalam hidup memang ada doktrin yang mengajarkan untuk mengikuti yang benar dan menjauhi
yang salah. Jika dengan parameter yang
telah diyakini maka seharusnya dengan mudah kita bisa membedakan mana yang baik dan
mana yang buruk. Namun yang namanya manusia sesungguhnya adalah mahluk fana yang selalu berbuat salah.
“Apalah arti sebuah senyuman?” meminjam bahasa sastrawi ala Shakespeare, begitulah kira-kira pengantar dari sebuah tulisan ini. Jawabannya mungkin sederhana bahwa senyum memberikan hidup lebih berarti. Bukankah senyuman adalah awal dari persehabatan yang baik. Senyuman semacam chemistry yang mengikat, ada yang sementara saja atau mungkin untuk selamanya.
Tujuh puluh lima tahun yang lalu, di Istana Soestdijk Baarn-Belanda pada 31 Januari 1938, lahir Beatrix
Wilhelmina Armgard atau yang lebih dikenal dengan Ratu Beatrix saja, yang adalah putri pertama dari Ratu Juliana. Di
tahun 1980, Ketika Ratu Juliana turun tahta, Beatrix diangkat menjadi
Ratu Belanda yang berkuasa hingga kini.
![]() |
| Ilustrasi |
Seorang perempuan yang mencintai pantai, begitu menanti saat di mana ia bisa diperhadapkan
dengan lautan, bersua dengan alam. Ia akan datang seolah pantai menyambutnya
dan mengabaikan bahwa ia sesungguhnya menyambut pantai. Sambil tersenyum dengan
menghirup aroma laut dan merasakan angin laut yang sepoi menerpa serta mendengar deburan ombak yang
menghempas pantai. Waktu terbaik
untuk mencari ketenangan.
Hari ini ada tetangga yang
meninggal dunia. Orang-orang pada ramai membicarakan kematian seseorang yang
memang dianggap mudah bergaul di kelurahan kami.
Kematiannya yang mendadak di usia
setengah baya, menjadi salah satu bahan pembicaraan di mana-mana. Memang kabar meninggal dunianya
seseorang secara mendadak adalah sebuah berita yang berbeda
jika dibandingkan dengan orang yang meninggal karena sakit. Entah kematian itu memang misteri, apakah matinya seseorang
karena sakit, dibunuh, kecelakaan, bencana atau hal-hal sepele yang dapat membuat seseorang kehilangan nyawa. Bahwa hal tersebut kelak akan terkuak disuatu saat nanti bagi setiap
insan bernyawa.
Adalah kata-kata yang abadi kala penulisnya sudah berakhir!. Kiranya dalam sebuah perjalanan hidup ada momentum yang membuat seseorang lebih dewasa dalam berpikir atau sebaliknya, jauh lebih naif dalam jiwa yang kekanak-kanakan. Semua hanya dapat terdokumentasi jika tertulis dengan baik sebagai catatan. Dengan melihat kembali, mungkin serasa nelangsa dan terharu dari guratan jejak yang telah ditinggalkan. Kita akan lebih menghargai masa depan, jika dapat menyimpan catatan masa lalu. Memang catatan akan lebih berarti ketika telah melintasi waktu yang panjang.
Langganan:
Postingan (Atom)
My Facebook
Catatan....!!!
Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!













.jpg)








- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact