Bagi generasi 80 dan 90-an, siapa yang tidak mengenal Mick Jagger. Pentolan
dan vokalis grup band The Rolling Stones asal Inggris yang mengusung aliran rock, blues rock, rock and roll hingga
country rock. Gema Mick Jagger juga sampai ke Pulau Timor, banyak kaula
muda yang mengemari sang lagenda musik rock ini, poster Rolling Stones ada di kamar-kamar anak muda. Logo dari band bertebaran di Kota Kupang, orang Kupang biasa
menyebutnya logo lo lidah atau menjulurkan
lidah, sebagaimana ikon dari Mick Jagger sendiri.
Tampilkan postingan dengan label Pulau Timor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pulau Timor. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Agustus 2020
Flobamora,
Pariwisata,
Pulau Timor,
Tokoh
Mick Jagger di Malaka – Nusa Tenggara Timur
Foto credit: EL Ghyzel Glenn
Raputasi besar keberadaan manusia di
kehidupan ini adalah karena manusia memiliki akal pikiran. Dan akal yang menentukan
sikap dan pola tingkah laku selanjutnya dan kemudian menjadi pandangan yang
harus ditempuhnya. Masyarakat Timor sebagai entitas awal penghuni pulau Timor
telah memiliki keakraban dengan pandangan khusus tentang alam semesta, tentang
kosmos. Inilah menjadi dasar awal pandangan dan penilaian terhadap kosmos.
Relasi pola hubungan dasar ini yang dibangun dalam sebuah tata tertib kosmos
dan membentuk pola berpikir kosmis, di mana manusia hanyalah sebuah bagian
kecil dari alam semesta ini, atau sebagai pelengkap kosmos yang terletak
menetap dalam peredaran di raya ini.
Adalah boneka legendaris Dakocan (Dakko-chan)
yang pernah memiliki masa kejayaan sejak tahun 1960-an hingga tahun 1990-an.
Boneka khas berwarna hitam ini berasal
dari Yokohama, Jepang dan begitu mendunia. Semula adalah boneka plastik berisi
angin yang ditiupkan hingga kemudian menjadi boneka mainan dengan
berbagai bentuk. Sejarah
boneka sebagai mainan tertua sudah ada sejak zaman Yunani, Romawi dan Mesir
kuno. Baru pada abad ke-15, boneka di produksi massal dan dijual, negara
perintisnya adalah Jerman. Dan kini industri boneka berkembang pesat dengan
berbagai karakter dan dari segala penjuru dunia. Salah satunya datang dari
salah satu industri kecil yang dikembangkan dari Pulau Atauro di negara Timor
Leste, dan telah menjadi boneka ikon dari Pulau Atauro yaitu Boneca
de Atauro (Boneka Atauro).
Pada pelaksanaan event kegiatan Sunda Kecil Expo 2016, yang
berlangsung 07-10 September 2016 di Kupang. Sebagai implementasi dari semangat “historika
Sunda Kecil” yang melahirkan kerjasama antara 3 (tiga) Provinsi yaitu, Bali,
NTB dan NTT, sebagai wujud sarana promosi dalam mendukung sinergitas antara
pemerintah dan swasta/investor/pelaku usaha untuk mendukung percepatan proses
pengembangan investasi di daerah. Kegiatan ini dalam menunjang segi tiga
pertumbuhan ekonomi antara Indonesia (NTT), Timor Leste (Dili) dan Australia
(Darwin) dengan melakukan serangkaian kegiatan berupa pameran pembangunan, pariwisata,
potensi investasi, industri dan perdagangan, UKM dan industri kreatif serta
pergelaran seminar, kesenian, kebudayaan dan hiburan lainnya.
Budaya Kosu, foto: fb
Atoni van Timor
Kebudayaan
itu seperti spora yang yang terbawa angin, entah kemana dan kemudian akan
tumbuh dan menjadi sebuah kebudayaan sebagai jejak dari kebudayaan asalnya,
atau seperti biji-bijian yang di bawa burung dalam perutnya untuk dibuang ke
ranah jauh, bertumbuh dan menjadi pohon kebudayaan yang baru di tanah tempat
berlabuh. Sulit untuk menemukan asal muasal budaya karena budaya tumbuh tanpa
pemberitahun, bergerak tanpa peta dan berkembang tanpa mengenal dimensi.
Foto: Rens Benu
Ketika masih
tinggal di pedalaman Pulau
Timor, saya hampir selalu bolak balik Kota SoE-Kupang-SoE, semua
dilakukan hampir di setiap suasana hari entah itu shubuh, pagi, siang, petang
hingga malam dan juga di
segala suasana hati baik senang maupun sedih. Dalam keremangan fajar hingga gelap malam
masih ada terlintas dalam bekas
sisa-sisa memori yang tak hilang di mata. Seperti jigsaw yang berkelebat dalam ingatan perjalanan menggunakan bis
antar kota dalam provinsi, ketika melewati dan melihat lekukan jalan, jembatan,
turunan dan mendaki sesuai dengan topografi Pulau Timor. Entah dalam sadar atau
sedikit tertidur semua itu kini sudah sangat jarang dilakukan lagi. Semua itu
terjadi antara tahun 1997-2000 hingga 2006-2009.
Minggu, 20 Desember 2015
Pulau Timor,
Serba Serbi
Vatikan, Timor dan Traffic Pengujung Blog yang tiba-tiba Membludak
Kemarin tanggal 19/12/2015, saya dikagetkan
dengan traffic pengujung blog pribadi saya yang begitu
melonjak, sudah seperti biasanya saya langsung bisa mendeteksi laman apa dari blog saya yang sedang trend
dibaca,
dan sebab apa yang terjadi sehingga laman itu ramai dikunjungi. Kali ini
tulisan saya tentang mitologi Pulau Timor begitu ramai dilihat, entah ada
sebab apa dan setidaknya memerlukan sesuatu
untuk segera dianalisa. Lalu
kemudian di awal pagi ini, di berbagi kiriman media sosial facebook
dari seorang teman yang baru dikenal, saya menemukan kutipan tulisan dari Antoninho Benjamim Monteiro yang berisi seperti di bawah ini:
Nusa Tenggara Timur selalu
memberikan corak kebudayaan yang berbeda dengan wilayah lainnya di Nusantara.
Salah satunya bisa dilihat dari beragamnya jenis tarian dari daerah
ini. Umumnya tarian asal NTT memiliki kesan tarian pergaulan, ritual adat istiadat, pesta
perkawinan, pesta panen
baru atau acara
dengan nuansa kegembiraan lainnya. Kini tarian yang semula hanya dilihat oleh kalangan terbatas,
saat ini telah dipentaskan diruang publik yang lebih luas. Tarian sebagai sebuah kesenian memperlihatkan gerak tubuh yang memiliki irama, dengan menampilkan tema masing-masing seperti tari pergaulan, ungkapan perasaan, maksud dan
pikiran. Tarian tentunya selalu diiringgi dengan alat musik yang membantu mengiringi penari untuk lebih mengekspresikan diri secara estetis. Keharmonisan sebuah tari
tentunya dilihat dari aspek yang ditampilkan yaitu wiraga (raga), wirama (irama), dan wirasa (rasa).
Selasa, 14 Oktober 2014
Flobamora,
Pulau Timor,
Sejarah,
Tokoh
Donald P. Tick, Sejarawan Pemerhati Kerajaan-Kerajaan Nusa Tenggara Timur
Tokoh yang satu ini telah
berkecimpung dalam penelitian tentang kerajaaan-kerajaan di Indonesia selama 30
tahun. Beliau telah membentuk Pusat
Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia (PUSAKA) bermarkas di Vlaardingen (Belanda). Ia melakukan upaya
besar untuk meneliti sejarah dan para pewaris dari kerajaan-kerajaan di Indonesia
dengan kondisi kekiniannya. Dan saat ini Beliau sedang menekuni penyusunan ensiklopedia
seluruh kerajaan di Nusantara. Harapannya adalah tetap menjaga ketersediaan
informasi dari kurang lebih 300 kerajaan
di tanah air dengan segala pendokumentasiannya. Dalam proses ini Beliau
telah melakukan kunjungan ke berbagai kerajaan,
serta mengunjungi para raja dan sultan di daerah-daerah
tertentu di Indonesia untuk melakukan penelitian terkait sejarah mereka. Dengan demikian dapat
terkumpulnya berbagai informasi lengkap tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Hal ini juga melibatkan keterkaitan dengan sumber-sumber
dari banyak orang yang saling terhubung dengan sejarah kerajaan. Karena bagaimanapun
sejarah sebuah kerajaan memilki kepentingan yang luas bagi lapisan masyarakat
dalam mengukuhkan kearifan di masa lalu. Sumber-sumber yang ada seperti dokumentasi
foto lama dan kini, serta sumber-sumber tertulis lainnya. Mengingat selama ini
banyak sumber-sumber tentang sejarah sebuah kerajaan, hanya tersimpan rapi di
negeri Belanda, dan hasrat dari sejarawan ini adalah membawa kembali sejarah
kerajaan masa lalu ke tempat di mana sejarah itu berasal.
Minggu, 17 Agustus 2014
Flobamora,
Pulau Timor,
Sejarah
Upacara Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1960 di SoE - Timor Tengah Selatan
Upacara kemerdekaan Republik Indonesia pertama kali
digelar pada tanggal 17 Agustus 1945, dikediaman Soekarno, Jalan
Pengangsaan Timur 56, Jakarta. Kegiatan berupa pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, kenaikan bendera dan nyanyian lagu Indonesia Raya telah menjadi tradisi yang hingga kini terus dirayakan setiap
tahunnya di seluruh penjuru tanah air. Saat ini upacara peringatan
proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia digelar di 3 tempat, yakni tingkat
Kabupaten/Kota (Kantor Bupati/Walikota), Provinsi (Kantor Gubernur), dan
Nasional (Istana Negara).
Bahasa sebagai kapasitas yang dimiliki manusia
merupakan sistem komunikasi yang kompleks. Sederhananya bahasalah yang membuat
manusia saling mamahami dan bisa bekerja sama. Bahasa mengantarkan seseorang
untuk berdiri di posisi sosial untuk saling mengekspresikan diri dan
memanipulasi objek dalam lingkungan. Bahasa begitu beragam dan
begitu produktif dari ribuan kosa kata bisa menjadi jutaan kalimat yang tidak
terbatas. Selain itu bahasa bersifat dinamis sehingga berbagai kemungkinan
perubahan dapat saja terjadi setiap saat dan apa saja dalam struktur bahasa.
Kesempatan kali ini,
kita akan beranjak keluar kota Kupang melintasi jalan trans Pulau Timor. Tujuan
kita adalah Kota SoE yang berjarak 110 km dari Kota Kupang. SoE sebagai salah
satu kota di pedalaman pulau Timor ini adalah ibu kota dari Kabupaten Timor
Tengah Selatan. Untuk sampai ke Kota SoE dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam
perjalanan, baik menggunakan mobil pribadi, travel, bus ataupun dengan sepeda
motor. Jalan trans Timor yang kita akan lewati relatif baik, namun sejenak kita
berpikir bagaimana keadaan jalan ini satu abad atau seratus tahun yang lalu.
Tentu tidak seperti yang kita lihat dan nikmati hari ini!
Sebuah buku tentang khazanah sejarah
Kota Kupang berjudul “Koepang Tempo Doeloe”, setidaknya menambah deretan buku-buku sejarah yang masih sedikit tentang keberadaan kota Kupang dalam skala lokal
hingga nasional. Buku yang menambah referensi tentang Kota Kupang ini, tentunya menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi
masyarakat Kota Kupang yang merindukan dan ingin kembali menemukan unsur heritage
pembangunan Kota Kupang dari masa ke masa, dan dibawakannya ke hadapan pembaca sebagai bacaan
alternatif kilasan sejarah dengan nuansa yang baru dan sedikit berbeda. Salah
satunya adalah dengan menguatkan kajian dengan menambah unsur folklore atau cerita rakyat yang
berkaitan dengan migrasi komunitas yang semula berasal dari sejarah penceritaan
(oral history).
Ketika masih bersekolah di tingkat SD dan SMP, saya masih menghapal hingga kini wajah para pahlawan nasional yang lukisannya terpajang di hampir sekeliling dinding ruang kelas dan termuat di dalam uang kertas BI dengan berbagai pecahan yang dicetak oleh Perum Peruri, sebut saja Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Kapiten Pattimura, dan lain-lain atau juga bisa melihat siluet dalam tanda air uang kertas tersebut. Sejauh ini apa telah disosialisasikan pemerintah berbekas bagi generasi saat ini. Namun kemudian muncul pertanyaan siapa pahlawan nasional yang berasal dari NTT, yang berjuang dengan gigih mempertahankan wilayahnya dari ekspansi kolonial, kita hanya sekedar tahu dari pelajaran muatan lokal saja.
“Bukan
lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai, tiada
topan kau temui, ikan dan udang datang menghampirimu, orang bilang tanah kita
tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Itulah syair lagu "Kolam
Susu" yang pernah dipopulerkan grup musik legendaris Koes Plus pada era
1970-an. Koes Plus adalah grup musik yang sangat terkenal pada dasawarsa
1970-an yang berasal dari Tuban, Jawa Timur dan dianggap sebagai pelopor musik
pop dan rock 'n roll di Indonesia. Personil band ini pernah dipenjara karena
musiknya yang dianggap membawa aliran semangat budaya kapitalisme, disaat
pemerintah kala itu anti terhadap kapitalisme atau sesuatu yang berasal dari
barat.
Selasa, 23 April 2013
Budaya,
Pulau Timor
Ethnic Runaway, Episode: Fatukoto Timor Tengah Selatan – NTT
Memang kemilau etnik di Nusa Tenggara Timur tak habis untuk dieksplorasi. Tak berselang lama Ethnic Runaway kembali ke Pulau Timor, sempat sebelumnya Ethnic Runaway dengan Episode: Fatukopa Timor Tengah Selatan tayang Maret lalu, kali ini Trans Coproration berkesempatan untuk menayangkan Ethnic Runaway, Episode: Fatukoto yang merupakan sebuah desa di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan - NTT dengan mendatangkan dua orang artis Jakarta, mereka adalah Agung Hercules dan Chacha Frederica.
Pulau Timor (google maps)
Pulau Timor
dengan luas
sekitar 30.777 km² ini, terletak dibagian selatan nusantara. Dalam
sejarah politik pulau ini dipartisi
menjadi dua bagian selama berabad-abad akibat penjajahan. Melalui perjanjian Lisboa pada tahun
1859, Belanda
dan Portugis menjalin kesepakatan bahwa Belanda menguasai bagian barat pulau Timor dan
Portugis menguasai bagian timurnya. Sekarang Timor Barat atau dahulu
dikenal sebagai Timor Belanda
sampai 1949, telah
menjadi bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur - Indonesia, sedangkan Timor Timur atau dahulu dikenal sebagai Timor
Portugis, sebuah
koloni Portugis sampai tahun 1975 dan sempat menjadi bagian dari Indonesia hingga tahun
1999, dan pada tahun 2002 telah menjadi negara merdeka Republik
Demokratik Timor Leste. Walau demikian
menurut legenda masyarakat di Pulau
Timor baik di bagian barat maupun timur sebagai akar sejarah budaya yang sama
sebelum kedatangan imprealisme, bahwa Pulau Timor berasal dari buaya (Crocodylidae) yang
menjelma menjadi sebuah pulau.
Selasa, 05 Maret 2013
Budaya,
Human Interest,
Pulau Timor
Ethnic Runaway, Episode: Fatukopa Timor Tengah Selatan – NTT
Menarik adalah untuk sekian kalinya,
Nusa Tenggara Timur menjadi tempat tujuan lokasi pengambilan
gambar tayangan adventure yang lagi
marak di berbagai stasiun televisi nasional saat ini. Tak terhitung berapa
banyak kekayaan kebudayaan NTT yang telah di ekspose seperti dalam rubrik Si Bolang, Jejak Petualang dan Ethnic Runaway atau tayangan sejenis lainnya. Ini menunjukkan bahwa NTT
tersimpan begitu banyak potensi pariwisata budaya dan tradisi yang tak habisnya
dieksplorasi. Tentu sebuah prestasi bagi dunia swasta yang ikut
membantu pemerintah daerah untuk meningkatkan aspek pariwisatanya.
Harus disadari bahwa lukisan tempo
doeloe adalah produk masa lalu yang dikembangkan di negeri Hindia Belanda, oleh
para penjelajah Eropa dengan kepentingan tertentu. Sehingga karya-karya pelukis
Eropa tersebut memiliki unsur subjektivitas dalam memahami realitas. Terkadang
lukisan dihasilkan lebih mempertimbangkan hasil imajinasi, bahkan lebih ekstrem
lagi jika sang pelukis tidak pernah datang ke nusantara atau melihat realitas secara
langsung dan malah melukis berdasarkan naratif dan deskriptif dari orang lain
yang pernah bertualang di nusantara. Dengan demikian lukisan sebaiknya ditelaah
untuk memahami unsur imaji dari para pelukisnya.
Dalam beberapa pengamatan, saya
telah menemukan beberapa kisah yang ambigu dalam lukisan seperti terlihat pada
rangkaian lukisan-lukisan dengan argumen berikut ini:
1) Ambassadors of the VOC to Timor in 1756
![]() |
| collectie.tropenmuseum.nl |
Mengunjungi Kota Atambua,
Kabupaten Belu adalah yang pertama kalinya buat saya. Atambua adalah kota perbatasan dengan Negara Timor
Leste dan berjarak sekitar 289 kilometer dari Kupang dan berada di sentral Pulau Timor. Arti nama Kota
Atambua diperkirakan berasal dari nama sebuah
tempat berkumpul orang-orang untuk melakukan aktifitas perdagangan budak. Kemungkinan yang dijadikan budak saat itu adalah orang-orang
yang dianggap memiliki ilmu sihir (suanggi), sehingga ditangkap dan dijadikan
budak. Suanggi dalam bahasa
Belu (Tetun) adalah “buan” dan untuk budak atau hamba sahaya adalah “ata”, sehingga menjadi nama atambua, yang berarti “budak atau hamba suanggi”. Masih menurut cerita bahwa
budak-budak yang telah dibeli dibawa ke pantai utara, saat ini dikenal dengan
nama Pelabuhan Atapupu yang berjarak 48 kilometer dari Kora Atambua. Nama Atapupu
berasal dari kata “ata” untuk budak dan “pupu” (berkumpul) atau juga berasal
dari kata “futu” (diikat), sehingga berarti “tempat budak berkumpul atau budak
diikat”, sambil menunggu kapal untuk di bawa keluar Pulau Timor.
Langganan:
Postingan (Atom)
My Facebook
Catatan....!!!
Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!
























- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact