Kini umurku sudah dua bulan, aku semakin
bertumbuh. Pusarku juga sudah mengering. Karena lama mengering banyak teman-teman ayah
yang mengatakan aku akan menjadi anak yang hemat, pandai mengelola keuangan dan
anak yang pandai menjaga barang-barang miliknya. Sekarang juga tidurku sudah
mengikuti jadwal tidur ayah dan ibuku, aku bisa tertidur lelap bersama
istirahat malamnya kedua orang tuaku. Sekarang aku sedang berada di rumah oma,
dan inilah liburan aku yang pertama mengunjungi oma dan tente dari ayahku.
foto: antikpraveda.blogspot.co.id
Interior dan eksteror rumah kini sudah
semakin berubah dari dekade ke dekade. Berbagai perabot
ruangan sudah berubah bentuk menjadi lebih modern. Yang kuno dan jadul telah
menghilang di gudang atau bahkan telah dimusnahkan. Sejenak kita melihat kembali seperangkat kursi yang
biasanya ada di ruang tamu dan beranda rumah tahun 90-an. Kursi besi ringan dengan
jalinan tali-temali karet dan meja menyerupai meja marmer. Di Kota Kupang satu set kursi ini di sebut dengan kursi sice. Kata sice berasal dari kata zice, merupakan kata benda yang berasal dari Bahasa Belanda zitje, yang diartikan sebagai tempat duduk lengkap dengan meja
ditengah-tengahnya yang ditempatkan di ruang depan atau ruang menerima tamu. Namun istilah kursi sice tidak lagi digunakan dan yang kini
femilier adalah kursi tamu atau sofa yang terbuat dari kayu, rotan, bambu,
plastik, baja
ringan dan lain sebagainya.
Kini sudah
sebulan umurku, memang waktu berputar begitu cepat. Aku seorang bayi lucu yang
sedang mengalami pertumbuhan. Tak ada pertumbuhan manusia paling cepat selain
masa bayi. Minggu pertama aku belum begitu ekspresif karena indra penglihatanku
belum terlalu melihat dengan jelas, walau mataku telah terbuka lebar, hanya
bayang-bayang yang kutemukan. Kadang aku masih terlihat bermain sendirian,
menurut orang-orang tua aku sedang bermain dengan ruh ari-ari yang pernah
menemaniku selama di kandungan. Minggu
ketiga aku sudah
bisa merasakan pergerakan bayang-bayang wajah kedua orang tuaku. Dan sebulan kemudian aku
seperti sudah mengenali orang-orang disekelilingku, wajah ibu selalu aku tatap
baik-baik ketika menyusu dan sesekali melemparkan pandang ke ayahku.
Aku dilahirkan pada hari selasa tanggal
26-01-2016, bukan karena direncanakan begitu saja, ada proses hingga aku
dilahirkan di tanggal itu. Berdasarkan advice dokter ahli kandungan yang sudah
setahun lalu menangani kesehatan reproduksi ibuku, bahwa aku sejak bulan ke
tujuh kehamilan ibuku telah memiliki satu lilitan dileherku layaknya
menggunakan syal. Namun di minggu ke delapan lilitan bertambah menjadi dua,
sehingga disarankan untuk menghindari resiko dengan menjalani persalinan sesar.
Namun tidak serta merta saran itu di terima orang tuaku, ayah dan ibuku seolah
mengulur-ulur waktu agar persalinan bisa berlangsung normal saja. Tak sesuai dengan
harapan waktuku berada di kandungan sudah berada dipenghujung dan belum
memberikan tanda bahwa aku akan segera lahir dan akhirnya ayah ibuku mengambil
keputusan untuk segera melakukan operasi sesar tanpa harus mencoba menggunakan
perangsang.
Foto: Rens Benu
Ketika masih
tinggal di pedalaman Pulau
Timor, saya hampir selalu bolak balik Kota SoE-Kupang-SoE, semua
dilakukan hampir di setiap suasana hari entah itu shubuh, pagi, siang, petang
hingga malam dan juga di
segala suasana hati baik senang maupun sedih. Dalam keremangan fajar hingga gelap malam
masih ada terlintas dalam bekas
sisa-sisa memori yang tak hilang di mata. Seperti jigsaw yang berkelebat dalam ingatan perjalanan menggunakan bis
antar kota dalam provinsi, ketika melewati dan melihat lekukan jalan, jembatan,
turunan dan mendaki sesuai dengan topografi Pulau Timor. Entah dalam sadar atau
sedikit tertidur semua itu kini sudah sangat jarang dilakukan lagi. Semua itu
terjadi antara tahun 1997-2000 hingga 2006-2009.
Bulan Desember
tahun 2015, mungkin adalah bulan tersibuk sepanjang sejarah Kota Kupang.
Bagaimana tidak, jika beberapa event nasional diselenggarakan di Kota Kupang.
Mulai dari Perayaan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), Perayaan Hari
Ibu Nasional dan
khususnya Perayaan Natal Nasional yang untuk pertama kalinya dilaksanakan
di NTT. Di samping itu
event tahunan Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-57 Provinsi Nusa Tenggara Timur,
yang jatuh pada tanggal 20 Desember 2015, juga event lainnya seperti expo dan
pameran untuk menarik investor dalam rangka menyambut Hari HKSN serta event kegiatan Tour
de Timor dengan titik start di Atambua, Kabupaten Belu dan finish di Kota
Kupang. Kupang menjadi kota digelarnya berbagai event tersebut,
telah menjadi sebuah kepercayaan yang diberikan dan diharapkan agar warga Kota
Kupang menjadi tuan rumah yang baik.
Minggu, 20 Desember 2015
Pulau Timor,
Serba Serbi
Vatikan, Timor dan Traffic Pengujung Blog yang tiba-tiba Membludak
Kemarin tanggal 19/12/2015, saya dikagetkan
dengan traffic pengujung blog pribadi saya yang begitu
melonjak, sudah seperti biasanya saya langsung bisa mendeteksi laman apa dari blog saya yang sedang trend
dibaca,
dan sebab apa yang terjadi sehingga laman itu ramai dikunjungi. Kali ini
tulisan saya tentang mitologi Pulau Timor begitu ramai dilihat, entah ada
sebab apa dan setidaknya memerlukan sesuatu
untuk segera dianalisa. Lalu
kemudian di awal pagi ini, di berbagi kiriman media sosial facebook
dari seorang teman yang baru dikenal, saya menemukan kutipan tulisan dari Antoninho Benjamim Monteiro yang berisi seperti di bawah ini:
Langganan:
Postingan (Atom)
My Facebook
Catatan....!!!
Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!













- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact