Agenda pembangunan sejatinya adalah meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, dan upaya meningkatkan kesejahteraan salah satunya
melalui kesetaraan gender. Kesetaraan gender dimaksudkan untuk lebih
meningkatkan peran perempuan melalui akses, partsispasi, kontrol dan mafaat
pembangunan. Sebagai gambaran data, keadaan penduduk NTT tahun 2016 menunjukkan
bahwa secara umum penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Persentase penduduk perempuan sebesar 50,45 persen sedangkan laki-laki sebesar
49,55 persen. Sex ratio penduduk Nusa
Tenggara Timur sebesar 98, artinya dari setiap 100 penduduk perempuan terdapat
98 penduduk laki-laki. Namun disayangkan perempuan mengalami berbagai masalah
dan seolah termarginalkan dalam pembangunan, sehingga diperlukan penguatan
perempuan melalui Be bold for Change, salah
satu upaya penguatan perempuan dalam bidang ekonomi terutama bagi Perempuan
Rawan Sosial Ekonomi (PRSE).
Selasa, 11 April 2017
Feminisme
Korelasi Program Pemberdayaan Perempuan dengan Perempuan Rawan Sosial Ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Timur
Kisahku bulan ini dimulai
dengan bertandang ke kediaman teman ibuku, kebetulan mug yang biasa aku pakai
untuk meminum ketinggalan. Kontan dalam dua hari kemudian aku menjadi rewel
karena tak menemukan mug tersebut, karena benda yang sangat dekat dengan rasa
hausku itu menghilang. Biasanya ketika aku haus, aku akan mencari mug-ku dan
langsung meminumnya. Setelah berumur 1 tahun 2 bulan ini, aku mulai
berlahan-lahan belajar menggunakan gelas, kadang tumpah hingga membanjiri baju
dan celanaku. Caraku lainku unik yaitu meneteskan air dari mug bayi ke mug
dewasa, dan kemudian meminum sedikit tetesan tersebut. Kalau urusan minum
sesekali aku menunjukan bahwa aku menikmati minum air tawar dengan mengecap
bibir berulang-ulang dan juga menunjukkan kelegaan sambil berucap “ahhhhh!”, karena rasa dahaga telah terpenuhi.
Sudah 1 tahun 1
bulan usiaku dan aku sudah mempunyai kemampuan bicara di atas rata-rata anak
seusiaku. Bahkan aku sudah mengulang secara spontan kata-kata yang diujar oleh
kedua orangtuaku, dan bahkan menyambung apa yang sedang disampaikan oleh kedua
orangtuaku dengan kata-kata yang matching.
Kata-kata yang sering aku ucapkan adalah kata-kata seru seperti, appa tu, appa ni, appa ta, yang sepintas
serasa menjadi kata tanya. Selain itu ada kata-kata yang baru dan paling sering
aku ucapkan adalah betabay, manna manna, badabaah,
imaahh, imay, baahh, imiih, heistss (ujaran mengusir kucing “ucil” yang
ingin masuk ruangan) dan ada juga kata seru andalanku batjaaaaa!!, yang disampaikan secara kaget-kagetan. Kadang aku
terlihat juga bermain sendiri sambil berkata-kata layaknya penyair.
Kini telah satu tahun usiaku. Tak ada perayaan megah hanya bersama ayah dan ibu serta mainan-mainan yang selama ini menemaniku, cukup dengan sebuah kue ulang tahun, yang ternyata
kemudian hanya dihabiskan oleh kedua orangtua dan aku hanya menikmatinya
sedikit. Ada peristiwa lucu di kala harus meniup kue ulang tahun, aku
ingin menghindar dan pergi karena ada perasaan takut melihat nyala api lilin
atau mungkin karena kuenya, namun akhirnya lilinpun dapat dipadamkan dan kami semuan
bahagia sudah melewati waktu satu tahun dikehidupan awalku ini.
Hari demi hari berlalu dan aku beranjak menemukan sedikit
demi sedikit pengalaman tumbuh kembangku. Aku kini memiliki waktu 8 jam
sehari semalam untuk tidur dan 16 jam disisa waktu diisi dengan bermain, kadang
bermain sendirian, kadang juga bermain sambil ditemani ayah dan ibu. Begitu
banyak mainan yang sudah dibeli ayah dari tugas dinasnya ke ibu kota, dan
sebegitunya aku seperti bosan dan ingin merengkuh apa saja dan menganggapnya
sebagai mainan. Salah satunya aku sudah bisa menyisir rambut sendiri, karena
sudah sering merasakan rambutku disisir dan juga melihat ayah dan ibu yang
sering menyisir rambut. Aku semakin aktif baik di tempat tidur maupun dilantai,
yang kadang membuat aku kejedot baik di tempat tidur karena aku sering
membantingkan badanku di atas spring bed
yang sudah dipendekkan, namun sering aku salah tempat dan justru kepalaku
mengenai dinding kamar. Demikian juga ketika aku sedang merangkak dengan cepat,
kala karena terlalu semangat akhirnya membuat tulang pipiku membentur lantai,
alhasil dua hal itu membuat aku menangis!
Di
awal bulan kesembilanku, tepatnya tanggal 29 Oktober, aku mengalami sebuah
pengalaman dalam membentuk identitas feminimku, bahwa aku perempuan. Ayah dan
ibu membawaku ke Toko Emas Sahabat di Jalan Ikan Tongkol Kupang, untuk memasang
sepasang anting-anting. Tembakan pertama di telinga sebelah kiri membuatku
kaget dan langsung menangis, untuk tembakan kedua tak membuatku kaget lagi,
ayahku yang merasakan karena aku didalam pangkuannya. Sebelumnya aku terlihat
maskulin, banyak orang yang melihatku seperti anak cowok, namun dengan telinga
yang telah memakai anting-anting, mempertegas diri bahwa aku seorang perempuan.
Kini juga aku telah mempunyai gigi genap berjumlah enam, empat gigi seri di atas
dan dua gigi seri di bawah, walaupun di sisi lain aku masih tetap rewel di masa
pertumbuhan gigiku.
Selasa, 22 November 2016
Feminisme,
Serba Serbi
Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Sejak Dini di Kota Kupang
Pada tanggal 22 November 2016, bertempat di Aston Hotel and Convention
Center Kupang, dilaksanakan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Sejak Dini. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjsama antara Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA RI) dan Pemerintah
Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak (BP3A NTT). Tema kekerasan menjadi isu utama kenapa kegiatan
ini dilaksanakan, mengingat bahwa manusia pada dasarnya sejak lahir telah memiliki hak untuk
hidup yang melekat sebagai wujud keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang
Maha Esa dan merupakan anugerahNya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan
dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan
serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Salah satunya adalah bebas dari
penyiksaan maupun tindak kekerasan. Nyatanya kasus kekerasan cukup
menyita perhatian masyarakat di Provinsi NTT dalam kurun waktu
terakhir ini dengan korban terutama pada perempuan dan anak yang dianggap paling
lemah.
Langganan:
Postingan (Atom)
My Facebook
Catatan....!!!
Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!















- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact