Saya masih ingat di siang itu tanggal
19 Oktober 2004, ketika saya singgah membeli kartu perdana AS Telkomsel di kios
mini yang berada di Pintu II Universitas Hasanuddin Makassar (kini sudah
dipugar!). Tanpa basa-basi dan tanpa memilih nomer cantik, akhirnya nomer yang
diberikan penjual itu menjadi nomer yang telah saya gunakan sepuluh tahun
terakhir ini. Mungkin karena begitu masifnya iklan kartu As kala itu, jika dibandingkan
dengan operator lainnya, apalagi iklan kartu As waktu itu menawarkan yang
paling murah. Sehingga akhirnya saya memilih Kartu As. Dan hari itu menjadi
awal saya menggunakan media ponsel untuk pertama kalinya.
Salah satu peristiwa penting sebelum
pernikahan adalah ketika sang pria mengajukan lamaran untuk meminang seorang
gadis yang dicintainya. Permintaan ini disampaikan kepada orang tua atau wali
sang gadis, baik secara langsung maupun diwakili oleh wali sang pria. Dalam
lamaran ini keputusan ada di pihak si gadis dan keluarganya, jadi bukanlah
sesuatu yang harus dipaksanakan. Bilamana dicapai kesepakatan maka langkah
selanjutnya adalah melangsungkan pernikahan. Melamar dalam tradisi yang lebih
universal, dimaksudkan sebagai cara untuk
menyampaikan maksud dan saling mengenal antara calon suami dan istri beserta
keluarga masing-masing. Tak jarang dalam kesempatan ini juga mengukur kepribadian
masing-masing agar dapat memahami satu sama lain untuk menuju mahligai rumah
tangga yang bahagia melalui perkawinan.
Selasa, 14 Oktober 2014
Flobamora,
Pulau Timor,
Sejarah,
Tokoh
Donald P. Tick, Sejarawan Pemerhati Kerajaan-Kerajaan Nusa Tenggara Timur
Tokoh yang satu ini telah
berkecimpung dalam penelitian tentang kerajaaan-kerajaan di Indonesia selama 30
tahun. Beliau telah membentuk Pusat
Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia (PUSAKA) bermarkas di Vlaardingen (Belanda). Ia melakukan upaya
besar untuk meneliti sejarah dan para pewaris dari kerajaan-kerajaan di Indonesia
dengan kondisi kekiniannya. Dan saat ini Beliau sedang menekuni penyusunan ensiklopedia
seluruh kerajaan di Nusantara. Harapannya adalah tetap menjaga ketersediaan
informasi dari kurang lebih 300 kerajaan
di tanah air dengan segala pendokumentasiannya. Dalam proses ini Beliau
telah melakukan kunjungan ke berbagai kerajaan,
serta mengunjungi para raja dan sultan di daerah-daerah
tertentu di Indonesia untuk melakukan penelitian terkait sejarah mereka. Dengan demikian dapat
terkumpulnya berbagai informasi lengkap tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Hal ini juga melibatkan keterkaitan dengan sumber-sumber
dari banyak orang yang saling terhubung dengan sejarah kerajaan. Karena bagaimanapun
sejarah sebuah kerajaan memilki kepentingan yang luas bagi lapisan masyarakat
dalam mengukuhkan kearifan di masa lalu. Sumber-sumber yang ada seperti dokumentasi
foto lama dan kini, serta sumber-sumber tertulis lainnya. Mengingat selama ini
banyak sumber-sumber tentang sejarah sebuah kerajaan, hanya tersimpan rapi di
negeri Belanda, dan hasrat dari sejarawan ini adalah membawa kembali sejarah
kerajaan masa lalu ke tempat di mana sejarah itu berasal.
Photo: en.wikipedia.org
Saya kebetulan sedang membaca buku biografi Jenghis
Khan karya John Man, dan di saat bersamaan juga, saya menonton film Warrior
Princess (Queen Ahno). Dari buku dan film tersebut saya mendapat gambaran
tentang kehidupan dan kebudayaan Mongolia dengan bentangan geografis wilayah
Mongolia yang sangat luas, stepa di mana-mana. Kadang kita mendapatkan kejadian
seperti ini, mendapatkan satu cerita yang sama dari beberapa sumber, tanpa di
sengaja di waktu bersamaan. Namun saya tertarik dengan apa yang diulas John Man
dalam bab awal bukunya, tentang salah satu hewan penting bagi kehidupan orang
Mongolia. Selain kuda sebagai alat transportasi utama dan penyangga ekonomi,
marmut atau sejenis hewan pengerat memiliki struktur penting bagi salah satu
kebutuhan pangan orang Mongolia.
Momen menulis adalah waktu terbaik
ketika kita mampu mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran dan menuangkan ke dalam
tulisan. Apa yang keluar dari pikiran juga sangat tergantung dengan suasana
hati di mana kita menulis. Kesempatan kali ini saya manfaatkan menulis di
sebuah taman hotel saat hari baru menjelang, dengan matahari pagi yang hangat
dan cerah. Taman hotel ini di disain sederhana dengan pepohonan seperti cemara,
palem, puring, asoka dan kamboja, beserta beberapa patung hewan seperti kerbau,
kuda, rusa, anjing, burung camar hingga ular piton. Ada juga patung-patung
taman etnik khas daerah, dan tak lupa taman ini juga dilengkapi dengan kolam
ikan. Suasana yang ada seakan membuat segar apa yang ada di pikiran dan tubuh.
Pagi ini dalam penerbangan,
saya membaca tulisan opini di harian Victory News Kupang, oleh Isidorus
Lilijawa S. Fil, MM, sebagai pemerhati permasalahaan sosial. Tema tulisan yang
diangkat adalah tentang belis, dengan judul “Belis dan Martabat Manusia”, walau
singkat tulisan ini sangat mencerdaskan dengan menempatkan belis pada tempat
seharusnya. Hal yang dipaparkan adalah relevansi belis dalam nilai budaya dan
dampak belis terhadap kekerasan terhadap kaum perempuan atau kekerasan dalam
rumah tangga. Memang kajian tentang belis masih menjadi hal yang menarik. Sebagai
catatan di Nusa Tenggara Timur, mahar atau mas kawin jamak disebut dengan
belis.
Pertama kali Horikoshi
Jiro bertemu dengan Satomi Naoko, dalam sebuah perjalanan kereta menuju Tokyo.
Karena hembusan angin topi Jiro lepas, namun bisa digapai oleh Naoko. Naoko
tengah bersama dengan pembantunya, di saat bersamaan terjadi gempa bumi besar
yang membuat kereta anjlok dan membuat kaki sang pembantu patah. Jiro menolong
mereka hingga sampai di rumah Naoko. Sayangnya mereka belum sempat berkenalan,
tetapi di saat itu telah hadir perasaan antara kedua insan itu, walau kala itu
Naoko masih belia. Naoko menganggap Jiro bagai pangeran bagi dia dan
pembantunya, yang datang dengan mengendarai kuda putih. Naoko berdoa suatu saat
bisa dipertemukan kembali dengan sang pahlawan, Jiro. Naoko ingin bertemu
langsung dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya di saat gempa terjadi.
Demikian juga dengan Jiro yang rupanya telah jatuh cinta ketika Naoko mengapai topinya
yang dihembus angin, dan Naoko telah mencintai Jiro sejak angin membawa
kepadanya. Tanpa mereka saling mengetahui isi hati masing-masing.
Langganan:
Postingan (Atom)
My Facebook
Catatan....!!!
Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!












- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact