Kini telah satu tahun usiaku. Tak ada perayaan megah hanya bersama ayah dan ibu serta mainan-mainan yang selama ini menemaniku, cukup dengan sebuah kue ulang tahun, yang ternyata
kemudian hanya dihabiskan oleh kedua orangtua dan aku hanya menikmatinya
sedikit. Ada peristiwa lucu di kala harus meniup kue ulang tahun, aku
ingin menghindar dan pergi karena ada perasaan takut melihat nyala api lilin
atau mungkin karena kuenya, namun akhirnya lilinpun dapat dipadamkan dan kami semuan
bahagia sudah melewati waktu satu tahun dikehidupan awalku ini.
Hari demi hari berlalu dan aku beranjak menemukan sedikit
demi sedikit pengalaman tumbuh kembangku. Aku kini memiliki waktu 8 jam
sehari semalam untuk tidur dan 16 jam disisa waktu diisi dengan bermain, kadang
bermain sendirian, kadang juga bermain sambil ditemani ayah dan ibu. Begitu
banyak mainan yang sudah dibeli ayah dari tugas dinasnya ke ibu kota, dan
sebegitunya aku seperti bosan dan ingin merengkuh apa saja dan menganggapnya
sebagai mainan. Salah satunya aku sudah bisa menyisir rambut sendiri, karena
sudah sering merasakan rambutku disisir dan juga melihat ayah dan ibu yang
sering menyisir rambut. Aku semakin aktif baik di tempat tidur maupun dilantai,
yang kadang membuat aku kejedot baik di tempat tidur karena aku sering
membantingkan badanku di atas spring bed
yang sudah dipendekkan, namun sering aku salah tempat dan justru kepalaku
mengenai dinding kamar. Demikian juga ketika aku sedang merangkak dengan cepat,
kala karena terlalu semangat akhirnya membuat tulang pipiku membentur lantai,
alhasil dua hal itu membuat aku menangis!
Di
awal bulan kesembilanku, tepatnya tanggal 29 Oktober, aku mengalami sebuah
pengalaman dalam membentuk identitas feminimku, bahwa aku perempuan. Ayah dan
ibu membawaku ke Toko Emas Sahabat di Jalan Ikan Tongkol Kupang, untuk memasang
sepasang anting-anting. Tembakan pertama di telinga sebelah kiri membuatku
kaget dan langsung menangis, untuk tembakan kedua tak membuatku kaget lagi,
ayahku yang merasakan karena aku didalam pangkuannya. Sebelumnya aku terlihat
maskulin, banyak orang yang melihatku seperti anak cowok, namun dengan telinga
yang telah memakai anting-anting, mempertegas diri bahwa aku seorang perempuan.
Kini juga aku telah mempunyai gigi genap berjumlah enam, empat gigi seri di atas
dan dua gigi seri di bawah, walaupun di sisi lain aku masih tetap rewel di masa
pertumbuhan gigiku.
Selasa, 22 November 2016
Feminisme,
Serba Serbi
Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Sejak Dini di Kota Kupang
Pada tanggal 22 November 2016, bertempat di Aston Hotel and Convention
Center Kupang, dilaksanakan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Sejak Dini. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjsama antara Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA RI) dan Pemerintah
Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak (BP3A NTT). Tema kekerasan menjadi isu utama kenapa kegiatan
ini dilaksanakan, mengingat bahwa manusia pada dasarnya sejak lahir telah memiliki hak untuk
hidup yang melekat sebagai wujud keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang
Maha Esa dan merupakan anugerahNya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan
dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan
serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Salah satunya adalah bebas dari
penyiksaan maupun tindak kekerasan. Nyatanya kasus kekerasan cukup
menyita perhatian masyarakat di Provinsi NTT dalam kurun waktu
terakhir ini dengan korban terutama pada perempuan dan anak yang dianggap paling
lemah.
Hari berlalu dan aku semakin menunjukkan perkembangan yang
baik, aku bisa menghibur diri sendiri dengan bertepuk tangan tanpa bimbingan
lagi. Begitu ada yang menyenangkan hatiku maka aku spontan bertepuk tangan
sambil tersenyum geli atau hingga tertawa lebar. Di bulan ini aku juga
mengalami momen pertama kali jatuh dari tempat tidur, hanya sepersekian detik
lepas dari pengawasan kedua orangtuaku aku pun terjatuh dari tempat tidur yang
hampir setinggi 80 cm dengan posisi kepala terlebih dahulu, aku menangis hebat
namun tidak mengalami memar apa-apa. Ini adalah hal unik bagi semua bayi,
menurut orang-orang selalu ada malaikat pelindung bagi bayi yang jatuh dari
tempat tidur. Oleh karena kejadian tersebut ayahku akhir memangkas tempat tidur
menjadi lebih pendek dengan mengeluarkan dasar tepat tidur.
foto: m.harianindo.com
Bermula dari tanggal 6 Januari 2016, Wayan Mirna
Salihin, 27 tahun, meninggal dunia sehabis meneguk kopi di Olivier Café, Grand
Indonesia. Pada saat kejadian, Mirna sedang berkumpul bersama kedua sahabatnya, Hani dan Jessica Kumala
Wongso. Berdasarkan hasil otopsi oleh pihak kepolisian, ditemukan pendarahan
pada lambung Mirna yang dikarenakan adanya zat yang bersifat korosif masuk dan
merusak mukosa lambung. Zat korosif tersebut dipastikan berasal dari asam
sianida yang ada dalam kopi yang diminum Mirna. Berdasarkan hasil olah TKP dan
pemeriksaan saksi, polisi menetapkan Jessica Kumala Wongso sebagai tersangka.
Jessica dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan kemudian
kasus inipun bergulir ke
meja pengadilan.
Menurut orang delapan adalah angka sempurna, karena tak ada
garis yang terputus. Aku kini sudah berusia delapan bulan, sebagai seorang bayi
telah berevolusi dari tak berdaya sebagai bayi mungil pendiam, kini aku menjadi
bayi aktif yang sedang menikmati masa pertumbuhannya. Kisah di satu bulan ini dimulai ketika aku bisa bertemu dengan seorang doktor peneliti dari Osaka University
bernama Yoshinari Morita. Beliau sedang melakukan riset di Timor
dan semoga aku bisa sepertinya kelak, yang memiliki pengalaman kerja lingkup
internasional.
Langganan:
Postingan (Atom)
My Facebook
Catatan....!!!
Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!















- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact