Bahasa sebagai kapasitas yang dimiliki manusia
merupakan sistem komunikasi yang kompleks. Sederhananya bahasalah yang membuat
manusia saling mamahami dan bisa bekerja sama. Bahasa mengantarkan seseorang
untuk berdiri di posisi sosial untuk saling mengekspresikan diri dan
memanipulasi objek dalam lingkungan. Bahasa begitu beragam dan
begitu produktif dari ribuan kosa kata bisa menjadi jutaan kalimat yang tidak
terbatas. Selain itu bahasa bersifat dinamis sehingga berbagai kemungkinan
perubahan dapat saja terjadi setiap saat dan apa saja dalam struktur bahasa.
Rabu, 09 Juli 2014
Flobamora,
Kota Kupang,
Perencanaan Pembangunan
Sejarah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Nusa Tenggara Timur
Kronologis
berdiri dan terbentuknya Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Timur bermula dari
terbitnya Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1964 tentang Pembentukan Badan
Koordinasi Pembangunan Daerah (BAKOPDA). Menimbang dalam rangka usaha
peningkatan keserasian pembangunan di daerah maka diperlukan adanya peningkatan
keselarasan antara pembangunan sektoral dan pembangunan daerah serta untuk
menjamin laju perkembangan, keseimbangan, dan kesinambungan pembangunan di
daerah sehingga diperlukan perencanaan yang lebih menyeluruh, tearah, dan
terpadu, maka atas dasar berbagai pertimbangan terbitlah Undang undang
Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok Pokok Pemerintahan di Daerah dan Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1974
tentang Pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA). Kedudukan,
fungsi dan tugas Bappeda sebagai berikut:
ArtPics - Photography © Peter Kefali
Pergelaran
Piala Dunia 2014 hampir selesai dengan menyisahkan tiga laga lagi untuk
menentukan negara mana yang berhasil membawa pulang Piala Dunia. Terharu ketika
kita melihat ending setiap
pertandingan terutama di laga knock out.
Tampak wajah-wajah tertunduk penuh penyesalan dengan perasaan sedih, ditambah amarah
serta isak tangis yang diredam para pemain, apa lagi bagi mereka yang merasa
paling bertanggungjawab terhadap kekalahan. Tidak mudah meraih kemenangan dan
membawa pulang piala, karena piala itu terbatas dan tentunya temporal, tidak
semua bisa mendapatkannya dan para pemain tidak selamanya memiliki kesempatan
untuk mengulang di waktu yang lain. Butuh perjuangan dan kerja keras, tapi juga
sangat ditentukan oleh apa yang dinamakan “takdir” sebagai faktor “x”, atau
dunia barat menyebutnya “dewi fortuna” sebagai keberuntungan, karena hanya ada
satu pemenang. Dan pastinya setiap pergelaran ini menghadirkan kisah berbalut
drama yang terekam dan sulit terlupakan.
“Ketika
seorang perempuan memutuskan menikah, Ia akan mengecewakan banyak lelaki hanya
untuk dikecewakan oleh seorang lelaki.” (Helen Rowland)
Kutipan di atas, jika diajukan kepada
seseorang perempuan, Ia akan menolaknya. Namun jika dilihat dari substansi
pernyataan tersebut, mereka seharusnya mengakui bahwa ada hati para lelaki yang
harus dikecewakan, ketika mereka telah memutuskan menikah dengan seseorang yang
menjadi pilihan. Para perempuan hanya menolak jika mereka akan dikecewakan.
Setiap insan punya ekspetasi yang cerah terhadap masa depannya, kita membentuk
harapan bagai sebuah garis yang linear, namun nyatanya kadang garis itu
bergerak acak. Dalam konteks sebuah hubungan personal misalnya, selalu ada
konsekuensi yang harus diterima, dilanjutkan atau berhenti begitu saja, menjadi
dimiliki atau tidak memiliki! Entah dalam perjalanannya kebahagiaan dan
kekecewaan senantiasa dipisahkan oleh jarak yang tak jauh.
Photo: Arno Burgi - "Ich liebe
Dich" – Botschaft
Dalam sebuah film Jerman yang saya
tonton, seorang perempuan mengucapkan “ich liebe dich” dengan tegas dan
mengingatkan saya pada berbagai bahasa dunia, tentang bagaimana mengungkapkan
perasaan cinta. Sebuah perasaan manusia yang sangat manusiawi, yang menghantarkan
setiap orang pada kesempurnaan tentang hidup!. Kadang orang mengatakan bahwa
jatuh cinta adalah bentuk kegilaan yang dapat diterima. Perasaan cinta tak
mengenal batas dan zaman, yang seringkali terdefenisikan dalam semua hal, pada
semua entitas yang kita gerakan atau kita temukan sehari-hari.
Kesempatan kali ini,
kita akan beranjak keluar kota Kupang melintasi jalan trans Pulau Timor. Tujuan
kita adalah Kota SoE yang berjarak 110 km dari Kota Kupang. SoE sebagai salah
satu kota di pedalaman pulau Timor ini adalah ibu kota dari Kabupaten Timor
Tengah Selatan. Untuk sampai ke Kota SoE dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam
perjalanan, baik menggunakan mobil pribadi, travel, bus ataupun dengan sepeda
motor. Jalan trans Timor yang kita akan lewati relatif baik, namun sejenak kita
berpikir bagaimana keadaan jalan ini satu abad atau seratus tahun yang lalu.
Tentu tidak seperti yang kita lihat dan nikmati hari ini!
picture: bonniegroessl.com
Sudah sebulan lebih tidak ada post terbaru dari blog ini!, dan juga untuk pertama
kalinya saya melewatkan sebulan lebih tanpa menulis apapun di blog pribadi ini.
Memang untuk enam bulan terakhir ini saya hanya mampu minimal menulis dua judul
saja di setiap bulannya. Tampaknya pekerjaan utama begitu menumpuk, sehingga
fokus terhadap pengelolaan blog sedikit terganggu atau lebih tepatnya ketiadaan
waktu dan kehilangan semangat. Untungnya aktivitas yang menurun ini tampaknya
tak menganggu jumlah intensitas pengunjung blog yang memperlihatkan track
positif, sebuah kesan yang baik namun seperti ada yang kurang terhadap apa yang
telah menjadi minat atau passion untuk
serius mengelola blog diawal ketika membuatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
My Facebook
Catatan....!!!
Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!













- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact