Minggu, 17 November 2013

Manusia dan Pekerjaannya


Adalah menarik ketika membaca buku “Reporter and The City” karya Noni Wibisono yang adalah catatan pengalaman sebagai reporter dan news presenter Trans Tv. Buku yang saya temukan ditumpukan buku-buku murah ini cukup mengoda, hampir tidak pernah saya membaca buku dengan penyajian yang bahasa yang sangat pop dan antroposentris narsis atau entah sebutan apa yang pantas. Belakangan baru saya ketahui jenis buku seperti ini memang banyak dan punya pasar tersendiri atau yang disebut buku gokil abis. Memoar yang seolah diambil langsung dari pikiran, tanpa dituangkan dalam diary dan langsung menjadi buku, orisinil and jujur. Memang buku ini murah tetapi bukan murahan dalam hal isi dan makna yang bisa perbagikan. Saya mungkin berharap bisa membaca “Reporter and The City II” atau dengan judul berbeda dengan penulis yang sama.  

Buku yang diterbitkan tahun 2009 ini, seperti yang sudah disampaikan berbeda dengan buku umumnya yang terkesan serius justru buku ini disajikan dengan bahasa gaul yang kadang kocaknya dapat membuat kita tertawa geli, natural. Sesuatu yang begitu matching dengan karakter penulisnya yang ramai dan lebay serupa karyanya. Saya kemudian membayangkan bahwa setiap profesi apa saja yang digeluti setiap manusia sebagai pekerjaaan pasti menyimpan begitu banyak pengalaman dan pelajaran. Hanya karena kita tidak mampu merekam dengan baik, hanya menjadi angin lalu tanpa kita bisa menemukan kedalaman makna apa yang kita peroleh, sesuatu yang membutuhkan energi pemicu untuk mengingatnya kembali. Sebaliknya di dalam buku ini telah tersimpan pengalaman sebuah pekerjaan yang membuat menjadi catatan perjalanan atau setidaknya menjadi satu bab dalam autobiografi sang penulis. 

Bahwa hidup itu tidak berjalan seri tetapi paralel sehingga membuat seseorang seperti berada pada persimpangan hidup ketika ingin menyanding pekerjaan dengan hal-hal lainnya yang juga menuntut perhatian serius. Begitu kompleks kehidupan seseorang dengan pekerjaaannya, sayapun mengalami begitu banyak permasalahaan dalam pekerjaaan sebagai seorang PNS sejak 5 ½ tahun yang lalu, dan serasa bahwa semua profesi pasti memiliki ceritanya masing-masing. Mulai dari artis, penulis, sales, pembantu rumah tangga, costumer service, pilot, supir taksi, wartawan, pedagang, pengusaha, bankir, guru, dosen, polisi, tentara, dokter, Bidan dan masih banyak lagi. Begitupun dengan pekerjaan yang memiliki tingkatan birokrasi dengan sistemnya, bahwa beberapa orang mungkin memiliki profesi yang sama, namun belum tentu memiliki pengalaman yang sama dari yang biasa, luar biasa, lucu hingga yang mengecewakan. Hal ini karena masing-masing memiliki bos yang berbeda dan klien yang berbeda pula dan masih tergantung juga dengan job description atau topoksi yang harus dilakukan.

Ada beberapa komen positif terhadap buku ini, seperti yang termuat dalam situs sosial katalogisasi buku goodreads.com, bahkan telah memiliki rate 3,2 seperti dilihat pada November 2013. Namun ada juga yang menilai buku ini terlalu personal, berlebihan dan penggunaan bahasa gaulnya. Terlepas dari itu buku yang diberi label cablak (catatan blak-blakan) oleh penerbit ini membuka ruang diskusi pada kepolosan, kejujuran walaupun sesuatu itu bisa membanggakan dan sekaligus memalukan. Sebagaimana buku bergenre non fiksi memoar ini adalah sekumpulan pengalaman berharga nan lucu, ini bukan semata penekanannya pada sifat pribadi penulis yang sanguinis, tapi menghentak kita untuk berani dengan bahasa sendiri menuliskan serpihan demi serpihan catatan yang mempertemukan kita dengan pekerjaan kita, sebagai manusia dengan pekerjaannya! (*)

Kupang, 17 November 2013 
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;