Senin, 22 Juli 2013

Memahami Perempuan melalui: Perempuan

Dalam bulan Ramadhan memang sebaiknya mengisi waktu dengan banyak membaca, baik Al-Qurannul Karim maupun bacaan islami lainnya. Kali ini saya membaca buku tentang perempuan berjudul “Perempuan” dengan judul kecil, “dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru” karya M. Quraish Shihab, yang telah dikenal sebagai pakar al-Qur'an di Indonesia dan sudah menghasilkan lebih dari 50 karya yang telah dibukukan. Penulisan buku ini memiliki karakteristik sesuai dengan kemampuan sang penulis dalam menerjemahkan dan meyampaikan pesan-pesan al-Qur'an dalam konteks kekinian tanpa kaku menilai al-Qur'an secara tekstual. Model penafsirannya adalah dengan menggunakan sejumlah ayat al-Qur'an, hadis rasul, pandangan ulama tradisional dan kontemporer serta keilmuan modern yang membahas masalah tertentu, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap permasalahan yang menjadi pokok pembahasan. 

Dengan judul perempuan bukan berarti hanya membahas tentang perempuan, karena bagaimanapun oposisi biner dari perempuan adalah laki-laki, maka apa yang menyangkut perempuan juga akan melibatkan laki-laki sebagai bagian keseluruhan umat manusia. Pembahasan menarik seputaran hubungan antara laki-laki dan perempuan, bias pandangan lama terhadap perempuan, kecantikan, kesetaraan, cinta, martabat, kemandirian, pernikahan, rumah tangga, keluarga sakinah, poligami, nikah mut’ah, nikah sirri, keluarga berencana, kawin hamil, aborsi, pendidikan keluarga, bias kontemporer, pernikahan beda agama, kepemimpinan, politik, aktivitas publik, olah raga, seni suara hingga eksploitasi seks. Semua tema tersebut berkaitan dengan kedudukan perempuan yang dilihat dari sudut pandang keIslaman yang bersesuaian dengan segala sifat, karakter dan kebiasaannya yang menjadi kodrat dan fitrah perempuan sebagai manusia unik ciptaan Tuhan. Beberapa diskusi menarik dapat ditemukan dari bab ke bab dalam buku ini, seperti bahwa perempuan memiliki dua keunggulan yaitu pertama: memiliki perasaan halus yang dapat menyentuh kalbu dan kedua: memiliki argumentasi kuat yang dapat menyentuh nalar (hal. 372), memang ini menjadi tantangan bagi setiap laki-laki untuk membuktikannya.

Pertanyaan muncul kenapa harus membahas tentang perempuan, seperti yang saya kutip dari tulisan pengantar buku ini bahwa, “semua lelaki harus mengakui bahwa dia membutuhkan perempuan untuk menyalurkan cinta yang terdapat dalam jiwanya sehingga, jika seorang lelaki tidak menemukan perempuan yang dia cintai, dia akan mencintai perempuan yang dia temukan. Semua lelaki harus mengakui bahwa tanpa perempuan hati lelaki akan remuk dan tanpa perempuan lelaki akan saling menghancurkan” dan juga kutipan lainnya, “ketika perempuan memasuki hidup lelaki, lelaki menjadi seniman, penyair dan sastrawan. Kalau kita menyingkirkan perempuan atau yang berkaitannya dengannya dari sastra, kita akan kehilangan banyak sekali apa yang selama ini kita nilai sastra, karena para sastrawanlah yang paling mampu menikmati keindahan dan meengekspresikannya”, bukankah dengan membaca buku ini, lelaki akan lebih memahami perempuan dan dapat menempatkan perempuan pada tempat yang seharusnya!.

Buku bersampul pink setebal 461 halaman ini, telah menjadi salah satu national bestseller karena buku yang saya pegang telah mencapai cetakan yang ke VII pada Juli 2011 dari cetakan ke I Juli 2005 lalu. Buku ini diakhiri dengan kesimpulan bahwa perempuan kini diakui akan hak-haknya berdasarkan kodratnya, sehingga dapat menuliskan sejarahnya sendiri tanpa harus didikte oleh laki-laki. Dengan demikian perempuan dapat berdiri pada tempat yang seharusnya tanpa halangan dan tanpa eksploitasi. Wallahu a’lam…!(*)

Kupang, 22 Juli 2013
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;