Senin, 07 Juli 2014

Pulang Tanpa Piala

ArtPics - Photography © Peter Kefali

Pergelaran Piala Dunia 2014 hampir selesai dengan menyisahkan tiga laga lagi untuk menentukan negara mana yang berhasil membawa pulang Piala Dunia. Terharu ketika kita melihat ending setiap pertandingan terutama di laga knock out. Tampak wajah-wajah tertunduk penuh penyesalan dengan perasaan sedih, ditambah amarah serta isak tangis yang diredam para pemain, apa lagi bagi mereka yang merasa paling bertanggungjawab terhadap kekalahan. Tidak mudah meraih kemenangan dan membawa pulang piala, karena piala itu terbatas dan tentunya temporal, tidak semua bisa mendapatkannya dan para pemain tidak selamanya memiliki kesempatan untuk mengulang di waktu yang lain. Butuh perjuangan dan kerja keras, tapi juga sangat ditentukan oleh apa yang dinamakan “takdir” sebagai faktor “x”, atau dunia barat menyebutnya “dewi fortuna” sebagai keberuntungan, karena hanya ada satu pemenang. Dan pastinya setiap pergelaran ini menghadirkan kisah berbalut drama yang terekam dan sulit terlupakan.

Semua yang berada dalam kompetisi pasti memiliki impian untuk memperoleh piala dunia, ada sangat optimis tapi ada juga yang realistis. Realistis dengan menargetkan tahapan lolos grup, perempat atau semi finalis saja. Tetapi yang jelas di otak semua pemain tentu berharap menjadi juara. Siapa tidak bangga bisa menang di event yang mana semua mata tertuju, menjadi pusat perhatian dunia bahkan bagi negara-negara yang sama sekali tidak pernah terlibat dalam pergelaran sepak bola dunia empat tahunan ini. Bila impian itu tercapai dan berhasil menjadi juara serta membawa pulang piala, sebagai tim mereka akan dielu-elukan sejagat tanah air dan dunia, puja dan puji membanjiri ke segenap tim, euforia dan semangat akan raihan kemenangan begitu meluap, nama-nama mereka tercatat dalam sejarah tim, negara dan dunia. Prestasi mereka akan di sebut hingga ratusan tahun akan datang.

Tetapi Piala Dunia Brasil 2014 belum berakhir dan belum ada pemenangnya. Menarik bahwa dalam pergelaran sepak bola paling akbar itu selalu ada hal yang masih irasional yaitu meramalkan tim pemenang. Sebuah usaha untuk mendahului takdir melampaui analisis kekuatan tim, analisis statistik, catatan di atas kertas hingga aksi dilapangan hijau. Pemenang seolah deterministik dibandingkan probabilitis dari semua peserta tim. Padahal selalu ada harapan untuk menggapai kemenangan tanpa terjebak pada hasil ramalan, itu menjadi motivasi bawah sadar dengan membayangkan telah mendapatkan piala walaupun kemudian tidak bisa menghindari takdir dan keluar lapangan dengan kepala tertunduk sebagai pihak yang kalah, tetapi diantaranya keluar dengan kepala tegak karena merasa tidak pernah dikalahkan, hanya merasa kemenangan itu ditunda. 

Kisah ini repetitif atau terulang dari empat tahunan sebelum-sebelumnya dan empat tahunan yang akan datang. Kalo konteks piala dunia untuk negara-negara, kita turunkan ke level individu-individu, akan membawa cerita bahwa semua orang ingin memiliki piala dalam hidup ini, piala itu bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang dibanggakan dalam hidup karena untuk memperolehnya dibutuhkan usaha dan kerja keras. Tetapi terkadang kita terjebak pada apa yang dinamakan ramalan, jika hal itu terjadi maka pembenaran dijadikan alasan untuk mengamininya. Seperti kisah klasik seorang perempuan yang didatangi seorang nenek, yang meramalkan tentang masa depannya. 

Keinginan itu ibarat mengharapkan piala, kadang karena piala itu terbatas maka kita perlu berkompetisi untuk mendapatkannya, perlu tangis untuk sebuah piala yang hilang, diantara cinta, harapan dan keyakinan. (*)


Musim Piala Dunia Brasil 2014 - Kupang, 07 Juli 2014
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;