Senin, 16 September 2013

Ruang Tunggu Bandara El tari yang over capacity


Jika Anda pernah datang atau berangkat dari Kupang menggunakan jasa transportasi udara maka Anda akan menngunakan prasarana Bandar Udara El tari. Bandara yang dikelola oleh PT. Angkasa Pura II ini memulai aktivitasnya sejak dini hari dengan penerbangan pertama pukul 06.00 Wita hingga tengah malam pukul 24.00 Wita dengan penerbangan terakhirnya. Maskapai penerbangan yang beroperasi adalah Garuda Indonesia, Merpati Nusantara Airlines, Lion Air, Sriwijaya Air, Wings Air, Sky Aviation, Trans Nusa dan Susi Air. Namun Anda suatu saat mungkin akan merasakan ketidaknyamanan di ruang tunggu manakala pada jam sibuk, para penumpang banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Hal ini dimaklumi saja bahwa Kota Kupang sebagai kota yang bertumbuh sedang mengalami perkembangan yang juga berpengaruh pada aspek tranportasi masuk dan keluar. Saat ini bandara melayani rata-rata 1.200-1.500 orang atau 2.500-3.000 orang pada musim mudik per harinya atau kurang lebih 1 juta penumpang setiap tahunnya dan terbagi dalam 20 sampai 30 kali penerbangan dalam sehari.

Dengan membandingkan jumlah penumpang dengan luasan ruang tunggu bandara yang hanya sekitar 15 x 16 meter atau 240 m², maka sebenarnya ruang tunggu sudah over capacity. Penumpang yang telah memasuki ruangan menunggu boarding  bisa mencapai 300 orang yang memenuhinya, bahkan jika pada peak season pagi harinya penumpang dengan penerbangan di atas jam 9.00 pagi masih di tahan untuk tidak memasuki ruang tunggu hingga seluruh penumpang dengan penerbangan di bawah jam 9.00 berangkat.


Fasilitas ruang tunggu bandara tidak mampu lagi memberi kenyamanan bagi penumpang. Hal ini juga telah menjadi perhatian, berhubungan juga dengan bandara yang status masih penggunaan bersama antara pangkalan udara militer dan bandara sipil komersial sejak tahun 1975, sehingga saat ini Bandara El tari masih berada di kawasan milik TNI AU. Walau telah ada upaya untuk meningkatkan prasarana seperti tempat parkir, namun jika melihat pengembangan pada aspek jangka panjang, seharusnya sudah ada pembangunan bandara yang lebih representatif. Saat ini telah ada wacana dari Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mencari lokasi pengganti Bandara Udara El tari. Wajar bila usaha ini ditempuh manakala aktivitas pangkalan udara militer ditingkatkan maka akan berpengaruh pada aktivitas penerbangan sipil komersial. Demikian juga dengan upaya bahwa bandara udara baru bisa ditetapkan menjadi bandara internasional. Hal tersebut hanya dapat terjadi bila bandara telah dikelola sepenuhnya secara komersial.

Peluang menjadi bandara internasional dimungkinkan karena Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang bertetangga langsung dengan dua negara yakni Australia dan Timor Leste. Sehingga mengantisipasi perkembangan ke depan kesiapan lokasi perlu dilakukan. Sementara dua calon lokasi yang dijejaki untuk pembangunan bandara baru yang akan diusulkan ke pemerintah pusat adalah terletak di arah Utara Kota Kupang, tepatnya di Kecamatan Sulamu - Kabupaten Kupang (± 70 km dari pusat kota) dan arah Barat Daya Kota Kupang tepatnya di Desa Bolok - Kabupaten Kupang (± 25 km dari pusat kota) dan tidak menutup kemungkinan juga pengkajian di lokasi lainnya.

Pembangunan infrastruktur di NTT memang lambat dibandingkan dengan provinsi lainnya, maka usaha kolektif perlu dilakukan dalam upaya pembangunan Kota Kupang sebagai pintu gerbang transportasi baik ke seluruh NTT, regional dan internasional agar lebih baik agar dapat sejajar dengan pembangunan di provinsi lain terutama di kawasan timur sebagai pendukung juga terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. (*)

 Kupang, 16 September 2013
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;