Harus disadari bahwa lukisan tempo
doeloe adalah produk masa lalu yang dikembangkan di negeri Hindia Belanda, oleh
para penjelajah Eropa dengan kepentingan tertentu. Sehingga karya-karya pelukis
Eropa tersebut memiliki unsur subjektivitas dalam memahami realitas. Terkadang
lukisan dihasilkan lebih mempertimbangkan hasil imajinasi, bahkan lebih ekstrem
lagi jika sang pelukis tidak pernah datang ke nusantara atau melihat realitas secara
langsung dan malah melukis berdasarkan naratif dan deskriptif dari orang lain
yang pernah bertualang di nusantara. Dengan demikian lukisan sebaiknya ditelaah
untuk memahami unsur imaji dari para pelukisnya.
Dalam beberapa pengamatan, saya
telah menemukan beberapa kisah yang ambigu dalam lukisan seperti terlihat pada
rangkaian lukisan-lukisan dengan argumen berikut ini:
1) Ambassadors of the VOC to Timor in 1756
![]() |
collectie.tropenmuseum.nl |
Lukisan cat
air ini memperlihatkan perjamuan makan malam yang digelar secara meriah oleh J. A. Paravicini di Kupang, untuk pimpinan VOC dan raja-raja penguasa dari Timor,
Solor, Alor, Rote, Sabu dan Sumba. Di bawah bidang lukisan terdapat
deskripsi nama dan keterangan semua orang yang
terlibat dalam perjamuan. Kedudukan tempat duduk diatur berdasarkan pangkat dan
jabatan, seperti dalam kebiasaan perjamuan-perjamuan besar di Eropa. John
Andreas Paravicini (1710-1771) dikirim oleh Gubernur Jenderal Hindia Timur ke Kupang Timor sebagai
komisaris Hindia Belanda, untuk menunjukkan kekuatan dan otoritas VOC di
Timor serta memulihkan hubungan yang sudah ada. Karena tujuh
tahun sebelumnya, VOC di kota Kupang
pernah dikepung oleh tentara Portugis dan Topas
(Portugis Hitam), namun kemudian berhasil dipukul mundur
dengan bantuan penduduk setempat.
Berdasarkan informasi bahwa lokasi lukisan
ini berada di Kota Kupang. Namun jika ditelusuri, aula gedung dalam lukisan ini
mustahil berada di Kupang pada abad ke-18, karena Kupang belum memiliki gedung
yang representatif seperti dalam lukisan. Hal ini dapat dibandingkan dengan
keadaan Batavia saat itu, yang mana keberadaan gedung-gedung pertunjukan
teater, tempat perkumpulan dan untuk menggelar kegiatan-kegiatan besar seperti Societeit Harmonie (Gedung Harmoni) dan Staads Schowburg (Gedung Kesenian) baru
dibangun pada abad ke-19 di Batavia. Sehingga arsitektur dengan model basilika
tersebut masih terkesan berada di Eropa. Belum lagi detail lukisan tidak
menunjukan raja-raja Timor dan pulau-pulau sekitarnya memakai pakaian kebesaran
adatnya masing-masing, tetapi hanya menunjukan barisan orang-orang dengan pakaian
jas atau jubah gaya Eropa. Detail lukisan dapat dilihat di sini. Ilustrasi
lukisan ini telah dijadikan sebagai cover
buku Hans Hägerdal yang berjudul Lords Of
The Land, Lords Of The Sea, Conflict and adaptation in early colonial Timor
1600-1800, terbitan KITLV Press
Leiden tahun 2012. Namun dalam deskripsi tentang sampul buku tersebut hanya
menjelaskan secara singkat yaitu Creja
ontwerpen, tanpa ada keterangan tambahan lainnya.
![]() |
collectie.tropenmuseum.nl |
Selain itu masih terdapat lukisan cat air lainnya, yang masih berkaitan dengan penugasan Gubernur Jenderal di Batavia kepada Paravicini di Timor pada 9 Juli 1756. Sama halnya dengan lukisan pertama, sang pelukis dan tempat pembuatan tidak diketahui. Lukisan ini mengambarkan upacara penandatanganan kontrak atas nama VOC dengan raja-raja pribumi sebagai bentuk kesetiaan mereka kepada VOC, yang kemudian juga di kenal sebagai “Perjanjian Paravicini”. Ambigu juga terlihat dari lukisan kedua ini, gedung upacara penandatanganan kontrak berbeda dengan gedung dilakukannya perjamuan seperti terlihat pada lukisan sebelumnya, yang mana gedung penandatanganan kontrak terlihat memiliki pintu dan jendela-jendela yang besar sedangkan hal tersebut tidak ditemui pada lukisan pertama. Padahal upacara ini digelar sebelum dilakukan perjamuan sebagaimana terlihat pada lukisan pertama. Detail lukisan kedua ini dapat dilihat di sini. Sehingga kedua lukisan ini hanya sekedar gambaran tanpa persesuaian dengan konteks fakta yang ada, atau lebih tepatnya ilustrasi dari sang pelukis anonim.
2) Chiefs house in the island of Savu, near Timor
![]() |
http://www.captcook-ne.co.uk |
Lukisan ini mendeskripsikan tentang rumah kepala suku di Pulau Sabu, dekat
dengan Pulau Timor, yang termuat dalam “A
Collection of Drawings made in the Countries visited by Captain Cook in his
First Voyage. 1768-1771”. Lukisan ini dibuat pada September 1770 oleh
Sydney Parkinson dan saat ini menjadi koleksi dari British Library.
Keanehan dari lukisan ini sudah dibahas sebelumnya oleh Jemes J. Fox dalam bukunya Harvest of the palm:
Ecological change in eastern Indonesia terbitan Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts,
1977. Ia berpendapat bahwa lukisan yang dibuat saat kunjungan Kapal Endeavour
ini memiliki kejanggalan yaitu gambaran seorang lelaki yang sedang memanjat
pohon lontar (borassus sundaicus) di depan sebuah rumah adat orang Sabu.
Lelaki itu membawa wadah timba daun lontar yang dipikul. Cara demikian berbeda
dengan kebiasaan yang seharusnya yaitu digantung pada ikat pinggang sang pemanjat
pada saat naik dan turun pohon. Jika hal dilakukan dalam lukisan, maka nira
lontar akan tumpah karena sulit menemukan keseimbangan timba dalam hal menuruni
pohon. Maka bisa dipastikan sang pelukis tidak mendapatkan gambaran utuh
bagaimana proses pengambilan nira yang dilakukan masyarakat setempat.
3) Rose de Freycinet and her Husband Visiting Monsieur Tilleman
at Coupang, Timor By Jacques Etienne Victor Arago (1790-1855)
![]() |
www.1st-art-gallery.com |
Lukisan ini menggambarkan jamuan yang
tengah diberikan oleh Monsieur Tilleman, seorang pejabat kolonial yang
berkedudukan sebagai kepala garnisun Benteng Concordia di Kota Kupang terhadap
tamunya para penjelajah, Rose de Freycinet dan suaminya Louis de Freycinet bersama rombongan ekspedisi.
Mereka berpakaian jas dan gaun khas Eropa sambil dilayani para pelayan dan
diberikan sugguhan permainan musik yang menghibur oleh penduduk lokal.
Namun dalam sebuah buku berbahasa Prancis Voyages autour du monde et dans les contrées les plus curieuses du
globe depuis Christophe jusqu’à nos jours, menerangkan bahwa Rose de
Freycinet adalah seorang penumpang yang tidak direncanakan ikut berlayar dalam
ekspedisi yang dipimpin oleh Louis de Freycinet dengan Kapal Uranie yang berlayar pada 17 September
1817 dari Prancis. Rose menyelinap dan menjadi penumpang gelap hingga diketahui
setelah pelayaran. Perempuan muda nan cantik ini akhirnya bisa diterima awak
kapal dan terus melanjutkan pelayaran. Sayangnya Rose meninggal dalam
perjalanan karena terserang kolera. Untuk menghormati dan mengenang keberaniannya,
sebuah pulau di Lautan Pasifik di beri nama “Rose”.
Kapal Uranie baru melepas sauh
di Pelabuhan Kupang pada tanggal 9 Oktober 1818 setelah perjalanan panjang
menyeberangi Lautan Atlantik dan Pasifik. Dengan demikian Rose de Freycinet,
tidak pernah menginjakkan kakinya di Kota Kupang dan begitu juga tidak pernah
ikut dalam perjamuan di kediaman Monsieur Tilleman, sebagaimana terlihat dalam
lukisan di atas. Sesuatu yang menjadi misteri!, dikarenakan sang pelukis
sendiri Jacques Arago yang berkebangsaan
Prancis adalah bagian dari rombongan dalam ekspedisi yang dipimpin oleh Louis
de Freycinet. Entahlah, apakah sang pelukis beranggapan bahwa Rose masih menyertai
mereka dalam persinggahan di Pulau Timor, atau juga bagian dari dedikasi menghormati
arwahnya, walaupun dengan mengabaikan fakta yang sebenarnya!.
4) Temple d'idoles
pres de Coupang (Timor). Atlas pittoresque, planche 191, 1846
![]() |
http://commons.wikimedia.org |
Lukisan ini bersumber dari Jules Dumont d'Urville (1846) Voyage au Pôle
Sud et dans l'Océanie sur les corvettes L'Astrolabe et La Zélée exécuté par
ordre du Roi Pendant les Années 1837–1838–1839–1840 sous le commandement de M.
Dumont-d'Urville, yang saat ini menjadi koleksi The Heritage Library of
Gray, Haute-Saône, Prancis.
Dari judulnya disebutkan lukisan ini sebagai “kuil berhala dekat Kupang (Timor)”. Inilah sebuah
kesalahan persepsi dari sang pelukis. Padahal lukisan ini merupakan bagian dari
rumah adat Lopo, yaitu bangunan lumbung tempat menyimpan hasil panen padi,
jagung, dan ubi-ubian yang terdapat di Pulau Timor bagian tengah. Dengan bentuk
panggung, bertiang empat, tidak berdinding, serta atap berbentuk setengah
bulat. Bagian atas lopo digunakan untuk menyimpan hasil panen, sedangkan di bagian
bawahnya sebagai tempat menerima tamu, untuk membicarakan masalah adat dan kegiatan
sehari-hari lainnya seperti menenun, sehingga jauh dari kesan mistis dan
pemujaan berhala.
5) Different Costumes of the People of Coupang, Timor, from
Voyage Austour du Monde sur les Corvettes de LUranie 1817-20
![]() |
www.1st-art-gallery.com |
![]() |
www.antique-prints.de |
Lukisan karya Alphonse Pellion tahun 1825 ini kemudian digambar
ulang menjadi sebuah lukisan berjudul, Jeune
Demoiselle Touchant La Harpe Timor. Original steel engraving drawn by Danvin,
engraved by Peronan, Timor Dilly 1836. Anehnya judul dari lukisan pertama lebih memperlihatkan
gaya berpakaian masyarakat yang lokasinya di Coupang (Kupang) Timor dan
dilukis dengan kesan indoor. Sedangkan pada lukisan kedua mengambil tema alat musik harpa,
dengan lokasi berada di Dilly Timor dan terkesan lebih outdoor
atau berada di taman dengan latar tambahannya.
6) Chinese playing Tchonka in Coupang, Timor, from 'Voyage
Autour du Monde sur les Corvettes de L'Uranie 1817-20'
![]() |
www.1st-art-gallery.com |
![]() |
www.antique-prints.de |
Lukisan karya Jacques Etienne Victor Arago ini kemudian digambar
ulang menjadi sebuah lukisan berjudul Femmes
Chinoises Jouants Aux Échecs, Original steel engraving drawn by Danvin,
engraved by Langlois, Timor 1836. Walaupun kedua lukisan sekilas memiliki
tema yang sama, namun perbedaan yang signifikan dapat terlihat. Lukisan pertama
mengetengahkan dua perempuan muda tionghoa yang sedang bermain congklak yang
diperhatikan seorang pemuda, sedangkan lukisan yang kedua terlihat bahwa mereka
sedang bermain catur. Pada lukisan pertama lebih sederhana dengan kesan grayscale dalam ruang indoor, sedangkan pada lukisan kedua lebih
semarak dengan tambahan latar serta tampilan berwarna dibandingkan dengan lukisan
pertama. Begitupun dengan lokasi lukisan pertama di Coupang (Kupang) Timor, sedangkan lukisan kedua, cendrung berada di
Kota Dilly dengan latar menara katedralnya.
Walhasil lukisan
sebagai karya seni, sama halnya dengan produk seni lainnya yaitu perpaduan
antara fakta dan fiksi, yang mengelaborasi realitas dalam imajinasi para
pelukis, demikian pula tidak menunjukan sebuah kondisi sesuai dengan fakta yang
termuat dalam narasi sejarah. Banyak kisah yang bisa diperoleh dari lukisan
sebagai pembentuk kesan dari para pelukisnya, entah dengan pertautan antara nyata
dan khayal, rasa dan objek, atau lebih dari pada itu dengan memberi kesan
enigmatik seperti yang terdapat dalam lukisan-lukisan karya Leonardo da Vinci.
(*)
Sekali lagi berusaha menghayati lukisan sebagai karya seni!
Kupang, 08 Februari 2013
©daonlontar.blogspot.com
©daonlontar.blogspot.com
Baca Juga: