Senin, 09 April 2012

Ben Mboi: Memoar Seorang Dokter, Prajurit dan Pamong Praja

“Di samping bermain, di kelas enam, aku suka menonton anak-anak kelas empat bermain bola jeruk Bali. Anak-anak di kota Ruteng mengatakan ‘lemon pampermus’. Waktu itu barang siapa yang pintar main tekan yaitu salah satu kaki memberi bola, yang lain menekan kaki lawan agar tidak mengambil bola dan bawa sendiri maka dia menjadi pujaan. Ada seorang anak baru masuk kelas empat yang badannya bundar boncel pintar sekali membawa bola. Aku sangat mengagumi anak yang baru masuk itu. Di kemudian hari anak yang pintar membawa sendiri bola itu menjadi gubernur NTT.”  

Begitulah kutipan singkat dari novel yang pernah saya baca karangan sastrawan asal NTT Gerson Poyk, berjudul Nostalgia Flobamora. Sampai di situ saya masih tidak mengetahui siapa gubernur yang dimaksud, ini menandakan bahwa saya tidak memiliki pengetahuan tentang latar belakang mantan pemimpin-pemimpin Nusa Tenggara Timur. Kemudian setelah bertanya pada teman, baru saya tahu itu adalah masa kecilnya Benediktus Mboi atau yang akrab disapa Ben Mboi, mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur dua periode (1978-1988). 

Namun untuk nama Ben Mboi sudah tidak asing bagi saya, karena sejak SD, saya sudah berulang-ulang kali mendengar namanya, mulai dari perbincangan orang dewasa atau juga oleh penjelasan guru  di depan kelas. Walaupun saat itu pengetahuan saya tentang beliau sangat minim, apalagi pemikiran saya masih belum sampai pada politik dan pembangunan. Kini setelah lebih dari 20 tahun kemudian dan telah menjadi PNS Provinsi NTT, saya mulai mengenal siapa tokoh ini, setidaknya dari membaca buku memoar yang ditulis sendiri oleh beliau. Dalam pengantar tulisannya juga secara lugas ditujukan kepada generasi pamong praja yang kini berjarak puluhan tahun dari beliau, baik dalam perjalanan karir dan pengalaman. Buku ini semacam oase pengetahuan tentang dinamika kepamongprajaan khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Sampul buku kedua sebagai pelengkap
Buku memoar yang menguak berbagai kisah perjalanan hidup anak bangsawan Manggarai yang tumbuh di lingkungan keluarga sederhana, kemudian hidup dalam kesulitan ekonomi di masa remaja, menapaki berbagai kedudukan hingga di masa senja, ketika selesai menuliskan memoar hidupnya. Merentang dari profesi seorang pendidik, dokter, prajurit hingga menjadi seorang pamong praja. Buku setebal 600 halaman ini diluncurkan pada 19 Desember 2011, bertepatan dengan 50 tahun deklarasi Trikora (Tri Komando Rakyat) yang diumumkan Soekarno pada 19 Desember 1961, dalam upaya pembebasan Irian Barat (Papua). Saat itu Ben Mboi merupakan satu-satunya dokter Angkatan Darat sekaligus pejuang (combatant) dan penerjun payung (airborne) yang diterjunkan dalam operasi Naga untuk pembebasan Irian Barat yang dipimpin Mayjen Soeharto.

Diusianya yang senja (77 tahun), Ben Mboi  masih begitu produktif dengan menghasilkan berbagai tulisan. Hal inilah yang menunjukkan banyaknya pengusaaan ilmu yang dimiliki. Sehingga tak dapat dipungkiri bahwa Ben Mboi telah meretas banyak pengalaman, seperti menjadi Gubernur termuda di Indonesia hingga menerima penhargaan Ramon Magsaysay di Manila bersama isteri. Selain itu tokoh perwira ini dalam kesannya sangat menghormati Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Achmad Yani dan begitu mengagumi sosok seorang kopral yang dijulukinya the unknown forgetten corporal.

Di balik kisah ia juga menyampaikan peran luar biasa isterinya, Ibu  Nafsiah Mboi. Sehingga ia mengulang peribahasa “behind every successful husband stands always a good wife”, namun kemudian dengan tangkas ia meralatnya beside every successful husband stands always a good and successful wife”. Yang berarti perempuan bukan di belakang tetapi di samping.

Untuk kondisi nasional saat ini, menurutnya pemerintah belum mengutamakan pembangunan bangsa atau nation building dalam membangun dan menjaga keutuhan wilayah. Pemerintah selama ini cenderung hanya mengembangkan state building atau pembangunan bangsa sebatas teritorial atau wilayah. Situasi di Papua yang tidak pernah berhenti bergejolak merupakan cermin kegagalan pemerintah dalam membangun nation building.  Di samping itu tokoh ini juga begitu memahami pluralitas dan gejolaknya, bahkan ia mengeluarkan statement bahwa “agama atau suku tidak ada masalah, tetapi ironisnya “masalah” yang mempunyai agama dan suku”.

Ben Mboi saat menjadi Gubernur NTT (1978-1988)

Di masa kepemimpinannya di Nusa Tenggara Timur, telah tergurat program-program pembangunan yang sukses dimasanya yaitu Program Operasi Nusa Makmur (ONM), Operasi Nusa hijau (ONH) serta penguatan ekonomi kerakyatan melalui KUD. Selain kesuksesan yang dipaparkannya, ia juga tidak bersembunyi dari apa yang ia namakan kegagalan dalam kehidupannya. Salah satu keberhasilan yang dibanggakan melalui Gerakan Pencukupan Pangan di NTT adalah berhasil menghilangkan budaya ngende atau pergi meminta bantuan pangan ke keluarga lain ketika masa panceklik. Hal yang pernah dilakukannya di masa kecil dan kini tidak ada lagi setelah pertanian Manggarai mulai produktif.

Gaya menulis yang bertutur sehingga enak dibaca, kadang penuh ironi, kadang kocak bahkan kocak yang ironi. Unik juga perjalanan yang menyentuh hal-hal immaterial irrasional berupa pengalaman supranatural serta intuisi yang mempengaruhi jalan kehidupannya. Untuk itu kiranya setiap pamong praja yang berkiprah di NTT dapat membacanya!.

Berangkat dari uraian di awal tulisan ini, perihal ketidaktahuan saya tentang siapa Ben Mboi akhirnya terjawab dengan membaca memoarnya. Bahkan saya berpikir jika seandainya tokoh-tokoh penting di Nusa Tenggara Timur ini memiliki memoar baik yang ditulis sendiri (autobiografi) maupun di tulis oleh orang lain (biografi), agar apa yang terekam dalam perjalanan hidup seseorang dapat dipelajari oleh generasi-generasi yang datang kemudian. Karena bagaimanapun NTT pernah memproduksi tokoh-tokoh besar yang berkiprah hingga tingkat nasional, sebut saja I. H Doko, Frans Seda, W. Z Johannis, Herman Johannis, Adrianus Mooy dan lain-lain. Sayang jika apa yang telah mereka lalui tidak terbaca oleh generasi muda mendatang Nusa Tenggara Timur. (*)

Kupang, 9 April 2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;