Sabtu, 05 Oktober 2013

Berbelanja Buku di Toko Gunung Agung


 photo: djangkarubumi.com

Seperti kurang lengkap jika mengaku sebagai pecinta buku, namun belum pernah mengunjungi salah satu toko buku yang telah menjadi legenda di negeri ini. Adalah Toko Gunung Agung yang masyhur dikenal sebagai perintis toko buku dan alat tulis (stationery) terkemuka di Indonesia. Hingga kini dalam usahanya selalu menyediakan kebutuhan akan buku-buku berkualitas dan produk-produk pilihan lainnya bagi pelanggan, dengan harga bersaing serta pelayanan yang prima.

Salah satu Toko Gunung Agung, terletak di Jalan Kwitang Nomor 38, Senen Jakarta Pusat. Toko ini adalah yang termegah dari semua cabang milik Toko Gunung Agung dengan menempati gedung empat lantai. Khusus penjualan buku terdapat di lantai tiga dan empat, lantai tiga untuk buku-buku bernuansa Islam, sedangkan lantai empat adalah tempat penjualan buku-buku umum dan juga khusus penjualan buku-buku impor.

photo: tokogunungagungmargocity.blogspot.com

Toko Gunung Agung didirikan tahun 1953 oleh Tjio Wie Tay yang kemudian lebih dikenal sebagai Haji Masagung. Membuka usaha pertama kali di Jalan Kwitang Nomor 6, Senen Jakarta Pusat, yang hingga kini tetap menjadi kantor pusat. Nama Kwitang bagi lokasi Toko Gunung Agung, memang sudah sangat terkenal ketika salah satu scene dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) produksi Miles Productions tahun 2002, pernah menayangkan Kwitang di masanya yang terkenal sebagai pasar buku murah terbesar di Jakarta kala itu.

Toko Buku Gunung Agung memiliki puluhan cabang di Jakarta dan juga tersebar di kota-kota besar Jawa dan Bali, kini terus mengejar dan bersaing dengan toko buku retail dengan jaringan terbesar lainnya di seluruh nusantara seperti Toko Buku Gramedia dan Toko Buku Kharisma. Namun Kehebatan sebuah toko buku bukan dilihat dari jumlah jaringannya, tetapi ketika bisa membuat pelanggannya betah berlama-lama berada di toko buku dan menikmati sebuah hoby yang tak ada habisnya untuk melihat lembaran demi lembaran buku-buku yang menarik minat. Itu yang menjadi sebuah toko buku layak dikunjungi!. Toko Gunung Agung telah memperoleh penghargaan yakni Superbrand, Perusahaan Pelopor (Majalah Swasembada) dan Perusahaan Legendaris (Majalah Warta Ekonomi). 

Dalam kunjungan pertama kali saya ke Toko Gunung Agung, saya membeli sejumlah buku, yang memang sudah jarang ditemukan lagi di toko buku lain, diantaranya adalah buku-buku sastra. Salah satu buku yang selama ini saya cari-cari, akhirnya dapat ditemukan di deretan rak-rak buku di toko buku ini yaitu, “9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing” Karya Alif Danya Munsyi atau lebih dikenal dengan nama novelis, Remy Sylado. (*)

 Jakarta, 05 Oktober 2013
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;