Rabu, 05 Februari 2014

Kisah Percintaan Tiga Gunung


Gunung Meja dengan puncak yang terpenggal, dilihat dari Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende

Gunung memiliki sisi eksotis diantara hamparan daratan. Gunung tunggal dan gunung dengan jumlah yang banyak atau disebut dengan pegunungan memiliki keindahan lanskap yang begitu menawan. Tak heran jika gunung-gunung selalu diabadikan dalam gambar, lukisan dan potret hingga scene film, tak heran juga banyak orang yang selalu ingin mendaki hingga ke puncaknya. Konon kabarnya gunung berfungsi sebagai penopang bumi dengan langit, agar bumi bisa tetap berada diporosnya mengelilingi matahari. Karena berdimensi besar, banyak gunung yang dianggap memiliki nilai mistis lalu disembah, hingga dijadikan tempat pertapaan, tempat persembunyian mahluk gaib dan atau sebagai penjelmaan dari hewan atau manusia, sehingga gunung hampir selalu dekat dengan mitos. Kisah mitologi Yunani misalnya menyebut gunung sebagai kediaman dewa-dewa seperti, Gunung Olympus yang didiami oleh Dewa Zeus dengan saudara-saudaranya yang bermusuhan dengan Atlas dengan para Titan yang mendiami Gunung Othris, perseteruan dua kubu ini dikenal dengan perang Titanomakhia.

Dalam konteks nusantara misalnya kita pasti pernah mendengar mitologi Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelud dan Gunung Bromo. Mitologi ketiga gunung ini hampir sama dengan tema kisah percintaan yang misterius. Kisah Tangkuban Perahu misalnya antara anak yang ingin menikahi sesorang putri yang selalu muda, yang ternyata adalah ibu kandungnya sendiri, digagalkan dengan ibunya meminta permintaan aneh yaitu membuat sebuah perahu yang sangat besar sebelum fajar. Walau memiliki kesaktian usaha anaknya gagal sehingga kekecewaannya dilampiaskan dengan menendang perahu hingga terbalik menelungkup dan menjelma menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Kisah Gunung Kelud juga antara seorang putri cantik yang membuat sayembara muslihat untuk menolak lamaran oleh dua manusia berkepala hewan, agar tak ada yang menikahinya. Hingga kemudian mereka berdua dengan kesaktian yang dimiliki diperintahkan untuk membuat dua sumur yang sangat dalam lalu memasuki lubang yang mereka buat sendiri. Setelah keduanya masuk ke dalam lubang, sang putri kemudian memerintahkan untuk ditimbun dan bekasnya menjadi Gunung Kelud. Sedangkan cerita lainnya tentang kisah Gunung Bromo yaitu antara seorang putri yang sudah memiliki kekasih, namun kemudian hadir seseorang yang bersikeras datang melamarnya. Karena memiliki kekasih lamaran ini berusaha digagalkan dengan memberi permintaan aneh yaitu diperintahkan untuk membuat lautan di tengah Gunung Bromo dalam semalam. Dengan kesaktian yang dimilikinya, orang yang datang melamar ini berusaha dengan memakai tempurung (batok kelapa), namun usahanya benar menemui kegagalan, karena kecewa batok kelapa itu dibuang disebelah Gunung Bromo dan menjadi Gunung Batok.

Peta Ende dengan Pulau Ende (wikimapia.org)

Bergeser ke timur nusantara kita akan mendengar kisah tentang gunung yang sangat menarik, tepatnya di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Alkisah di masa dahulu kala terdapat dua orang pemuda bernama Meja dan Wongge. Meja adalah pemuda yang jujur, bersahaja, rupawan dan baik hati, sedangkan Wongge berpenampilan sebaliknya, baik fisik maupun sifat dan wataknya. Kedua pemuda ini kebetulan mencintai seorang pemudi bernama Iya, tokoh melankolis yang menjadi pujaan desa atau bisa disebut kembang desa, baik karena memiliki kepribadian yang baik hati dan ditunjang dengan paras yang cantik. Meja dan Wongge akhirnya memberanikan diri melamar Iya, namun hanya pinangan Meja yang diterima sedangkan pinangan Wongge ditolak.

Tidak menerima lamarannya ditolak, Wongge akhirnya marah besar, begitu sakit hati karena cintanya ditolak. Kemudian Wongge beritikad jahat dan akan melakukan segala cara untuk coba menghalangi hubungan antara Iya dan Meja. Wongge berencana untuk membunuh Meja sebagai cara untuk mencegah bersatunya Iya dan Meja dalam perkawinan, dan berpikir bahwa dengan terbunuh Meja setidaknya Wongge berharap bisa mendapatkan cinta Iya. Di suatu hari ketika Meja dan Iya sedang berduaan, Wongge dengan penuh amarah datang dan menebas putus kepala Meja dengan parang, Meja seketika tewas tak bernyawa disamping Iya. Entah, mungkin karena kejadian ini merupakan pelanggaran adat, maka menjelmalah ketiga tokoh ini menjadi gunung. Meja menjadi gunung di selatan Kota Ende, Iya menjadi gunung di Semenanjung Ende dan Wongge menjadi gunung yang terletak di Utara Kota Ende. 

Kepala Gunung Meja yang ditebas Gunung Wongge terlempar ke arah Timur Laut dan menjelma menjadi Pulau Koa yang terletak tepat di timur Kota Ende, sebagai pulau karang yang tidak berpenghuni. Pulau ini terbilang misterius karena konon kabarnya sudah ada beberapa kali usaha pengeboman di masa pendudukan Jepang, tapi kemudian tumbuh kembali seperti semula. Atas kejadian tersebut hingga saat ini masyarakat Ende tak akan pernah mengijinkan upaya pemerintah untuk menghancurkan Pulau Koa, karena keberadaannya dianggap dapat menganggu aktivitas dan keselamatan penerbangan di Lapangan Terbang H. Hasan Aroeboesman Ende. Jika saja kemudian akhirnya Pulau Koa berhasil diratakan atau dihilangkan, maka dipercaya bahwa Gunung Iya akan terus menangis yang akan mengakibatkan air laut pasang tinggi dan bisa saja menenggelamkan Kota Ende dan membuat semenanjung Ende menjadi pulau tersendiri, sehingga masyarakat Ende senantiasa menjaganya sebagai pulau kramat untuk menolak bala. Masih menurut cerita beraroma mistis, bahwa Pulau Koa di saat-saat tertentu pindah kembali menduduki tubuhnya di Gunung Meja. Sedangkan Gunung Wongge yang telah membunuh Gunung Meja akhirnya merasa bersalah dan menyesali perbuatannya dan lalu menyingkir jauh ke arah Utara Kota Ende. Parang yang di gunakan Gunung Wongge memenggal kepala Gunung Meja dibuang jauh ke arah barat dan menjelma menjadi Pulau Ende, Pulau yang diyakini masyarakat Ende sebagai parang milik Wongge, karena bentuknya yang menyerupai parang yang memanjang.

Gunung Iya disemenanjung Ende yang dilihat dari sisi barat dengan latar jauh Gunung Meja ( photo: lilianatwin.wordpress.com)

Gunung Iya disemenanjung Ende yang dilihat dari sisi timur, tampak Gunung Meja dengan Pulau Koa sebagai kepalanya yang terpenggal ( photo: lilianatwin.wordpress.com)

Sementara itu Gunung Iya yang merasa sedih karena terbunuhnya Gunung Meja, kemudian menunjukkan amarahnya dengan menjadi gunung berapi, yang masih aktif hingga saat ini. Konon kabarnya jika Gunung Iya mengeluarkan asap atau mengeluarkan semburan, maka masyarakat Ende meyakini bahwa Gunung Iya sedang menangis dan bersedih menyimpan kemarahannya hingga kini. Gunung Iya masih setia mendampingi Gunung Meja yang memang letaknya berdekatan. Sebagai kekasih Gunung Iya, jasad Gunung Meja menjadi pelindung bagi Kota Ende, jika sewaktu-waktu Gunung Iya meletus.

Meja, Iya dan Wongge kini telah menjadi tiga gunung yang bersaksi, walau hanya sebatas mitos ketiga gunung ini menjadi pesona tersendiri di Kabupaten Ende. Setiap kedatangan anda ke Kota Ende, akan terlihat jelas keberadaan Gunung Meja dengan puncak yang hilang, seolah terpenggal dan sesuai juga dengan namanya yang menyerupai meja yang rata dan datar. Keindahan alam yang diselimuti mitos tampaknya telah menarik perhatian para wisatawan lokal dan mancanegara yang telah mengakui keindahan alam di Ende ini. Pemandangan semenajung Ende dengan panorama Gunung Iya-nya, pesisir pantai dengan kepala Gunung Meja atau Pulau Koa, dan Bandara H. Hasan Aroeboesman dengan pemandangan Gunung Meja-nya yang mungil dan elegan, sebagai pelindung dan ikon kota serta juga keindahan Pulau Ende yang disebut sebagai kelewangnya Wongge. 

 Panorama Gunung Meja yang hampir bisa dilihat dari sudut-sudut Kota Ende, dilihat dari Lapangan Perse

 Gunung Meja dilihat dari Rumah Jabatan Bupati Ende

 Gunung Meja dilihat dari depan gapura SMA Katolik Syuradikara

Kisah cinta di atas secara sosial antropologis memberikan gambaran apa arti sesungguhnya cinta, bahwa cinta bukan sesuatu yang dipaksakan tetapi sesuatu yang harus dihargai. Hubungan personal lawan jenis lebih diikat dalam apa yang sering disebut chemistry atau unsur yang mengikat untuk saling memiliki di antara dua orang, yang juga sangat tergantung dari pembawaan diri masing-masing. Bukan sebuah pemaksaan kehendak, karena sesungguhnya dalam hubungan lawan jenis yang dicari adalah kebahagiaan. Amarah, dendam, kesombongan, iri hati dan rasa cemburu akan selalu ada dalam setiap manusia, hanya diperlukan pengendalian diri, jika tidak semuanya akan berujung kepada penyesalan. Legenda kisah percintaan tiga gunung, Gunung Meja, Wongge dan Iya di atas setidaknya menjadi petuah bijak bagi konteks kehidupan masyarakat lokal, bahwa harmoni kehidupan akan berjalan dengan baik jika kita saling menghargai perbedaan dan menerima kekurangan. Walau memang hanya sebatas mitos, kisah ini membawa pesan moral yang berarti dan menjadi pendidikan bagi anak-anak, baik sebagai dongeng menjelang tidur, berbagi cerita dengan teman sepermainan, menjadi bahan bacaan di sekolah atau juga bahan yang diceritakan di depan kelas. (*)

 Kupang, 05 Februari 2013
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;