Kamis, 03 Maret 2016

Kursi Sice sudah tidak ada lagi!


foto: antikpraveda.blogspot.co.id

Interior dan eksteror rumah kini sudah semakin berubah dari dekade ke dekade. Berbagai perabot ruangan sudah berubah bentuk menjadi lebih modern. Yang kuno dan jadul telah menghilang di gudang atau bahkan telah dimusnahkan. Sejenak kita melihat kembali seperangkat kursi yang biasanya ada di ruang tamu dan beranda rumah tahun 90-an. Kursi besi ringan dengan jalinan tali-temali karet dan meja menyerupai meja marmer. Di Kota Kupang satu set kursi ini di sebut dengan kursi sice. Kata sice berasal dari kata zice, merupakan kata benda yang berasal dari Bahasa Belanda zitje, yang diartikan sebagai tempat duduk lengkap dengan meja ditengah-tengahnya yang ditempatkan di ruang depan atau ruang menerima tamu. Namun istilah kursi sice tidak lagi digunakan dan yang kini femilier adalah kursi tamu atau sofa yang terbuat dari kayu, rotan, bambu, plastik, baja ringan dan lain sebagainya.


Kursi sice memiliki bentuk yang standar dengan tali temali berwarna warni. Generasi 90-an ke belakang pernah merasakan betapa nikmatnya duduk di kursi ini, pantat dan punggung terasa terbenam, alas kayu untuk menopang lengan bawah membuat rileks dan juga menyisakan uliran tali karet yang berbekas di kulit seperti punggung hingga paha. Belum lagi dengan kencangnya kulit karena temali karet kursi membuat nyamuk jadi lebih leluasa. Sayangnya seringkali karena cepat karatan dan tali kursi yang cepat putus, membuat kursi ini tak bisa bertahan lebih lama lagi. Dahulu di zaman bermain perang-perangan dengan menggunakan pelontar senapan kayu, tali kursi ini atau juga disebut dengan tali sice, dijadikan peluru. Dengan daya tarikan yang kuat peluru sice ini bisa melukai kulit bahkan sangat berbahaya bila terkena wajah terutama mata. Peluru berbentuk potongan-potongan tali sice sepanjang 3-4 cm dengan salah satu ujungnya disimpul sebagai pengait dari lontaran karet. Selain menjadi peluru, bekas tali sice dapat bermanfaat seperti menjadi tali jemuran.

Keberadaan kursi sice ini sezaman dengan velbed (ranjang lipat per) dan setrika arang yang saat ini sudah antik. Kursi sice di masa jayanya adalah parabot rumah untuk bersantai yang hampir ada di setiap rumah, menjadi sebuah simbol kebersamaan egaliter masyarakat yang dahulu sering bertamu dari rumah ke rumah dan mengobrol apa saja atau juga dikenal dengan istilah kongkow. Sambil juga menikmati majalah lawas di bawah meja dan gelas-gelas teh yang selalu menyisakan bekas di atas meja yang mirip marmer itu. Jadi bila ada yang masih memiliki kursi ini lengkap, rawatlah mungkin esok akan memiliki nilai yang lebih tinggi lagi, antik. (*)

Kupang, 03 Maret 2016
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;