Sabtu, 30 Juli 2016

Kenangan dari mencicipi kismis


Sewaktu ibu mertua saya pulang dari umroh ada oleh-oleh yang dibawa, salah satunya adalah kismis. Sebenarnya tak ada yang menarik, hanya kismis sebagai cemilan ini membawa saya melayang sejenak terbawa ke masa silam, masa kanak-kanak yang suka mencicipi apa saja yang terasa menarik dan enak. Seperti manisan, rasa dan kenangan itu membekas, ternyata apa yang pernah dirasakan dalam lidah hampir sebanding dengan apa yang dirasakan dengan indra lainnya yang membawa kita nostalgia ke puluhan tahun lalu.


Saya masih ingat betul dahulu suka mencicipi kismis merek Sun-Maid Raisins kemasan 30 gram. Berbentuk kecil, hitam dan lembut tapi ada juga yang sudah terpotong sepertinya. Saking mengemarinya orang tua melarangnya, karena saya sering mencuri berkali-kali kismis yang ada di jualan warung kami. Bahkan untuk menakuti-nakuti saya, ibu hingga para tetangga mengatakan bahwa gadis pemetik buah anggur dalam gambar kemasan tersebut akan datang memarahi aku karena telah memakan kismisnya, nalar saya ketika itu serentak runtuh dan menjadi takut bila gadis itu akan mendatangiku dengan wajah memerah karena marah. Kini setelah beranjak dewasa, alasan menakuti seperti itu sudah basi atau kadaluarsa, bahkan seilahkan tegok anak-anak sekarang ini, mereka tentu akan menertawakan cara-cara menakuti seperti zaman dahulu. Mereka semakin rasional bahkan mengajak berdebat.


Tampilan kemasan Sun Maid (Foto: teiksenn.com)

Lukisan dan wujud asli Lorraine Collett Petersen (Food.detik.com)

Gadis Sum Maid yang cantik masa kini (m.reddit.com)


Kismis yang berasal dari buah anggur yang dikeringkan di bawah sinar matahari, biasanya untuk campuran pembuatan kue tetapi juga dapat dimakan langsung. Karena memiliki konsentrasi gula yang tinggi apa lagi bila disimpan lama, gula tersebut akan terkristalisasi di dalamnya. Sehingga wajar saya di masa kanak-kanak sangat menyukainya layaknya manisan.

Tapi kini sesuatu yang dahulunya menjadi misteri bagi saya, ada benarnya perempuan gadis dalam gambar kemasan Sun Maid itu memang ada, gadis bertopi merah (sunbonnet) yang sedang membawa sekeranjang anggur segar memang ada dalam kenyataannya. Ia bernama Lorraine Collett Petersen, tokoh yang menjadi ikon dari Sun Maid hingga satu abad lamanya. Di California tahun 1915, Ia ditawari untuk menjadi objek lukisan untuk kemasan produk Kismis Sun Maid. Sejak itu Ia mulai dikenal walau hanya dalam lukisan pada produk impor dari Amerika ini. Sebagai produk yang telah berkeliling dunia dengan begitu banyaknya manusia yang pernah merasakan produk ini, Ia dianggap sebagai representatif dari semangat produk ini menembus pasar dunia. Lorraine telah wafat pada tahun 1983 pada usia 91 tahun. Hingga saat ini ia tetap menjadi ikon legendaris kismis Sun Maid. Saya juga menjadi bagian dari sejarah pernah melewatkan masa mencuri kismis ‘milik’ Lorraine dan makan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan, hingga menunggu saat Lorraine datang mencariku. Dan bila saat lebaran, maka kismis selalu ada dalam aneka kue yang ada, kadang saya lebih memakan duluan kismisnya dibandingakn kuenya. (*)


Kupang, 30 Juli 2016
@daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;