Senin, 11 Januari 2016

Tanjung Takari Noelmina


Foto: Rens Benu

Ketika masih tinggal di pedalaman Pulau Timor, saya hampir selalu bolak balik Kota SoE-Kupang-SoE, semua dilakukan hampir di setiap suasana hari entah itu shubuh, pagi, siang, petang hingga malam dan juga di segala suasana hati baik senang maupun sedih. Dalam keremangan fajar hingga gelap malam masih ada terlintas dalam bekas sisa-sisa memori yang tak hilang di mata. Seperti jigsaw yang berkelebat dalam ingatan perjalanan menggunakan bis antar kota dalam provinsi, ketika melewati dan melihat lekukan jalan, jembatan, turunan dan mendaki sesuai dengan topografi Pulau Timor. Entah dalam sadar atau sedikit tertidur semua itu kini sudah sangat jarang dilakukan lagi. Semua itu terjadi antara tahun 1997-2000 hingga 2006-2009.

Salah satu simpul perjalanan yang menjadi ingatan adalah melewati Tanjung Takari Noelmina. Sebuah jalan yang menghubungkan Kota Kupang dan Kota SoE dengan sisi Sungai Noelmina yang luas dan tebing tinggi disisi yang lainnya. Tempat ini menjadi salah satu titik orientasi, menandakan hampir separuh jalan dari dan ke Kupang. Dahulu tempat ini paling sering terjadi longsor terutama di musim penghujan hingga memutuskan jalan antara Kupang dengan berbagai kota di pulau ini. Sehingga kemudian tebing ini dikikis alat berat eskavator dan dipasangi ratusan bronjong. Tak jauh dari tempat ini kita akan menemukan Jembatan Noelmina yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Jika sebelum jembatan nama tempatnya Takari, maka setelah jembatan nama tempatnya Batu Putih. 

Satu lagi kenangan di tanjung ini adalah melihat kumpulan kambing yang suka mendaki hingga puncak tebing tanjung. Ketika melihat pemandangan itu hati merasa miris, dimanakah para gembala kambing hingga membiarkan ternaknya mendaki yang bisa membahayakan jika terjatuh. Puluhan tahun asumsi pikiran saya masih menganggap kejadian itu tidak lazim dan sangat ekstrim, tetapi kini baru saya ketahui ternyata mendaki tebing adalah kegemaran kambing dan tampaknya hampir seluruh kambing memiliki minat yang sama. Kambing yang hidup di padang stepa hingga sabana mungkin memiliki insting untuk mendaki jika mereka bisa menemukan tebing, tetapi jika tebing tak ditemukan insting mendaki mereka sepertinya tak akan hilang, karena pohonpun bisa menjadi tebing bagi mereka. Serupa dengan kuda yang punya kegemaran berlari kencang, primata yang suka bergelantungan di pepohonan, hingga lumba-lumba yang melompat di atas laut ketika berenang. Sebagaimana hobby adalah kegemaran, kambing mendaki sebenarnya bukan untuk mencari makanan, makanan bisa ditemukan di tempat datar. Sehingga mendaki sepertinya untuk mengisi waktu kambing dengan keisengannya, seperti layaknya manusia.

 Ilustrasi: dailymail.co.uk

Kambing adalah mamalia berkuku yang mempunyai tanduk dan kulit tebal. Kambing memiliki kuku terbelah dengan dua jari kaki yang dapat melebar untuk meningkatkan keseimbangan saat mendaki. Kuku kambing juga memiliki pinggiran yang tajam yang dapat mencengkram babatuan karang. Sedangkan bantalan lunak kasar di bagian bawah telapak kakinya, memberikan cengkeraman seperti sepatu untuk mendaki secara alami. Kambing terbilang cukup kuat dan gesit dan jika berada di dua tebing mampu melompat hingga beberapa meter jauhnya. Kemampuan kambing dalam mendaki tak dapat diragukan bahkan melebihi hewan mamalia lainnya bahkan melewati skill manusia, terutama yang dikenal sebagai kambing gunung, mereka dapat mendaki tebing-teebing terjal yangi menurut informasi tersebar dari Alaska hingga Amerika Serikat (Rocky Mountains), dan menyebar juga dari sebagian Asia tengah hingga India.  

Sebuah hikmah dari perjalanan, kita akan menemukan secercah pelajaran dalam hidup, bahwa hidup adalah perjalanan yang tak putus-putusnya kita diam bukan berarti kita tidak melakukan perjalanan tetapi karena sebenarnya kita melakukan hijrah bukan hanya secara fisik tetapi juga batin dan dalam hijrah itu kita selalu menyimpan kenangan dan pelajaran, walau hal itu terbilang kecil atau sambil lalu. (*)
Kupang, 11 Januari 2016
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;