Sabtu, 30 Januari 2016

Aku datang dari Ayah dan Ibuku (Catatan Anakku)



Aku dilahirkan pada hari selasa tanggal 26-01-2016, bukan karena direncanakan begitu saja, ada proses hingga aku dilahirkan di tanggal itu. Berdasarkan advice dokter ahli kandungan yang sudah setahun lalu menangani kesehatan reproduksi ibuku, bahwa aku sejak bulan ke tujuh kehamilan ibuku telah memiliki satu lilitan dileherku layaknya menggunakan syal. Namun di minggu ke delapan lilitan bertambah menjadi dua, sehingga disarankan untuk menghindari resiko dengan menjalani persalinan sesar. Namun tidak serta merta saran itu di terima orang tuaku, ayah dan ibuku seolah mengulur-ulur waktu agar persalinan bisa berlangsung normal saja. Tak sesuai dengan harapan waktuku berada di kandungan sudah berada dipenghujung dan belum memberikan tanda bahwa aku akan segera lahir dan akhirnya ayah ibuku mengambil keputusan untuk segera melakukan operasi sesar tanpa harus mencoba menggunakan perangsang. 

Menurut orang tuaku, tanggal lahirku cantik. Secantik wajahku ketika aku diperkenankan bertemu alam lahir. Ketika aku lahir ayahku mendampingi ibuku yang berusaha menahan rasa sakit sambil terus merapal doa-doa.. Sementara calon nenekku dari ibu sedang menunggu di luar ruang operasi menantikan aku sebagai cucunya ke tiga, di saat yang sama cucu pertama dari ibu ayahku. Aku adalah anak-anak terpilih yang harus lahir bukan melalui jalan lahir namun melalui perut, bukan melalui pintu tapi melalui jendela. Di dalam rahim perut ibuku aku dibesarkan dan melalui belahan perut ibuku aku dikeluarkan. Lahir pukul 13.31 dengan berat 3.300 gram dan panjang 48 cm. Diagnose awal kelahiranku adalah asfiksia sedang dan oligahidramnion. Mungkin karena aku terlalu lama berada dalam kandungan, di mana usiaku dalam kandungan 41 minggu 4 hari. Kelahiranku di tangani oleh tiga dokter spesialis dan beberapa tenaga medis lainnya. Para dokter yang menangani proses persalinan dan kelahiranku yaitu dr. Hendriette Irene Mamo Sp.Og, dr. Intin Talantan Sp.An dan dr. Woro Indri P. Purba, Sp.A.

Beberapa saat setelah aku dillahirkan, suara ayah yang tak merdu mulai mengalunkan adzan dan iqomah dikedua telingaku, memberi aku rahmat Islam hingga saat kelak aku pandai mengucapkan syahadatain. Ayah dan ibuku sepakat memberi nama Aisya Faiha Usman. Nama pertamaku adalah pesanan nenekku dari ayah dan selebihnya adalah pemberian ayah. Aisya Faiha diartikan sebagai istri pedamping nabi yang banyak kelebihannya, sehingga nama Aisya Faiha Usman artinya anak ayah dan ibu yang akan menjadi perempuan terbaik, mengikuti sifat mulia isteri nabi dan dianugerahi berbagai kelebihan yang bisa berbuat apa saja demi kebaikan kedua orang tuanya dan keluarga.

Selamat datang Anakku! (Ayah)

Aku dilahirkan di Rumah Sakit Wirasakti Kupang beralamat di Jalan Moch. Hatta No. 19 Oebobo-Kupang. Anehnya di hari kelahiranku tak ada proses bersalin dan kelahiran selain diriku. Ruangan melati yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk ibu yang mengandung dan melahirkan beserta keluarga, kini begitu sepi. Dan tak disangka juga kalau di hari yang sama Kepala RSPAD Gatot Subroto Jakarta, seorang jendral bintang satu sedang datang berkunjung ke RS Wirasakti Kupang dan sempat berbincang-bincang dengan ibuku beberapa jam sebelum ibu memasuki ruang operasi. Aku dan ibu menginap selama tiga hari di rumah sakit, di ruang yang sama di mana ibu hampir setahun yang lalu (12 Februari 2015) melakukan tindakan medis kuret, ketika kakak pendahuluku sebagai janin dengan usia hampir dua bulan tak berkembang dan ibu harus mengalami keguguran dikehamilan mudanya.

Sejak dilahirkan aku untuk pertama kalinya belum terlalu mengenal dunia. Kemampuan memoriku untuk mendokumentasikan segala hal belum bisa bekerja. Kelak aku hanya mengandalkan cerita dari kedua orang tuaku. Di saat aku mulai merasakan oksigen, walau agak terlambat, namun aku kemudian menangis sekeras mungkin untuk memastikan tubuhku terisi oksigen, wajah dan tubuhku yang sebelumnya terlihat biru hingga ungu berlahan-lahan memerah dan menampakkan bahwa aku memiliki kulit yang putih dan bersih. Itulah pertama kalinya aku bersahabat dengan alam. Suasana hangat sudah dirasakan sejak aku dilahirkan, hujan di hari kedua kelahiranku dan merasakan guyuran air hangat mandi di esok hari kelahiranku.

Tubuhku masih lemah, gerakanku masih terbatas. Sayangnya aku harus meminum susu formula nutrilion terlebih dahulu di hari pertama kehidupanku, karena ibuku belum bisa menghasilkan ASI. Selanjutnya proses biologis yang kemudian mempertemukan aku dengan ASI ibuku di hari ketiga. (*)

Sepenggal awal ceritaku yang ditulis Ayah….
Kupang, 30 Januari 2016
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;