Rabu, 18 Juli 2012

Gerson Poyk, Sastrawan Nusa Tenggara Timur


Serasa beruntung suatu kali sempat bercakap-cakap dengan seorang sastrawan besar Nusa Tenggara Timur yang telah lama bergelut dalam kubangan makna dunia kesusastraan. Beliau adalah Gerson Poyk, sastrawan senior Nusa Tenggara Timur yang lebih dikenal di luar daerah dibandingkan dengan tanah kelahirannya sendiri. Jika bukan dengan penjelajahan di dunia maya dan membaca karyanya, maka saya kurang mengenal siapa Gerson Poyk. Memang pada umumnya pelajar dan generasi muda Nusa Tenggara Timur saat ini kurang mengenal sosok hebat ini. Padahal Ia adalah seorang penulis, wartawan, dan juga mantan guru yang karya-karyanya telah menempatkan dirinya sebagai salah seorang penulis besar dari Kawasan Timur Indonesia. Hal yang mungkin dimaklumi karena Gerson Poyk adalah perintis sastra Nusa Tenggara Timur. Namun dibelakang Gerson Poyk sudah ada beberapa sastrawan muda yang mulai bermunculan untuk melanjutkan pengembangan sastra Flobamora kedepan, sebagaimana yang kita harapkan demikian. 
 
Karya-karya beliau sudah sulit ditemukan di toko-toko buku ataupun di perpustakaan-perpustakaan yang ada di Nusa Tenggara Timur. Miris padahal novel-novelnya di beberapa dekade yang lalu adalah karya sastra terbaik, tak kalah dengan novel populer lainnya. Saya bertanya kepadanya, bagaimana agar karya-karyanya bisa dicetak ulang agar generasi mendatang dapat mengetahui bahwa NTT punya sastrawan yang mumpuni. Namun ia dengan jawaban berat, menyiratkan kesulitan menemukan kesepahaman dengan penerbit, hal yang hampir sama dialami oleh para penulis buku.  

Gerson Poyk yang lebih akrab dipanggil Opa Gerson ini punya banyak petuah bagi negeri kaya yang kita diami ini. Namun sayangnya teriakan suara para sastrawan seolah teredam di telinga para pengelola negeri. Banyak pemikiran filsafat yang ia tuangkan melalui nilai-nilai kesusastraan di dalam karya-karyanya. Apa yang ia tulis merupakan hasil inspirasi pengalaman kehidupan di masa lalu, sebagai bagian dari pergulatan batin dan alam bawah sadar yang selalu bergejolak. Kemudian menjadi spirit yang menggerakannya untuk terus menulis puisi, cerpen, novel sebagai wujud energi spiritual yang mengimbanginya.

Sebutan sebagai perintis sastra Nusa Tenggara Timur memang tepat, karena dalam novel-novelnya ia bercerita tentang kehidupan, kebudayaan, lingkungan sosial dan interaksi manusia dengan alam yang mengedepankan lapis-lapis hikmah dan sisi humanis di dalam masyarakat Nusa Tenggara Timur. Kisah-kisah dalam novelnya lebih pada manusia marginal, sehingga menyajikan sesuatu yang human interest dengan melihat dari sisi yang lebih tajam.

Gerson Poyk dilahirkan 16 Juni 1931 di Namodale, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Beliau menjalani seluruh masa kecilnya di NTT, dengan hidup berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah mengikuti Ayahnya. Mulai tinggal dan bersekolah di Ruteng (Manggarai), Bajawa (Ngada), Maumere (Sikka), Kalabahi (Alor) hingga ke Soe (Timor Tengah Selatan). Setelah itu ia berkelana keluar NTT dengan melanjutkan Sekolah Guru Atas di Surabaya (1955) dan kemudian menjadi guru SMP dan SGA Negeri di Ternate (1956-1958), lalu berpindah ke Bima (1958-1963). Pada tahun 1963, ia berhenti menjadi guru dan memilih bergabung menjadi wartawan di Harian Sinar Harapan hingga tahun 1970, setelah itu ia keluar untuk menjadi penulis lepas (freelancer) dan penulis tetap (kolomnis) di berbagai media cetak nasional.

Karya-karya beliau diantaranya dalam bentuk Novel adalah Sang Guru (1972), Nyoman Sulastri (1988), Meredam Dendam, tarian Ombak, sang Sutradara dan Wartawati Burung, Seruling Tulang, Enu Molas di Lembah Lingko, Putra-Putri Gutemberg, Petualangan Dino (1979), Cintaku yang Tulus Khinatimu yang Mulus, Doa Perkabungan (1987), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Profesor Blo,on, Hari-Hari Pertama (1968), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), dan lain-lain. Sedangkan kumpulan cerpen adalah Di bawah Matahari Bali (1982), Mutiara di Tengah sawah (1985), Jerat (1978), Nostalgia Nusatenggara (1975), Oleng-Kemoleng dan Surat-Surat Cinta Alexander Rajaguguk (1974), Nostalgia Flobamora (2001) dan lain-lain.

Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing seperti Inggris, Jerman, Rusia, Belanda, Jepang dan Turki, serta menjadi bahan penelitian mahasiswa dalam dan luar negeri. Selain itu banyak penghargaan yang telah diperoleh, diantaranya SEA Writer Award (1989), Lifetime Achievement Award dari Harian Kompas, Adinegoro Award (1985 & 1986), Anugerah Kebudayaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2011) dan beberapa penghargaan lainnya. Berikut adalah video kisah Gerson Poyk di usia lanjutnya, diwawancarai oleh salah seorang jurnalis senior NTT lainnya Peter Apollonius Rohi dan dinarasikan oleh Krus Haryanto, termuat dalam wartatv.com :

Gerson Poyk, Lansia Produktif (1) 



Gerson Selalu Menyusu Ibu Pertiwi (2) 



GersonSeperti Monyet Berkaki Dua (3)
 

Gerson Sastrawan Petani (4) 
 


Bukunya yang baru diterbitkan Februari 2011 lalu, adalah Keliling Indonesia dari era Bung Karno sampai SBY. Buku setebal 308 halaman itu menapak kisah demi kisah perjalanannya selama menjadi wartawan ke berbagai tempat di Indonesia dari zaman Bung Karno hingga Presiden SBY. Dari membaca buku ini, ada beberapa pelajaran yang menarik diantaranya, bahwa kehidupan akan kaya jika banyak berelasi dengan orang lain dan lingkungan. Tak pelak bagi seorang sastrawan seperti dirinya selalu mendapat ide dari lingkungan sekitar untuk menuliskan novel. Pengalaman tinggal di Ternate menghadirkan novel Sang Guru, berteman berjalan dengan beberapa orang pembawa sapi ke pasar pada dini hari menghadirkan karya sastra Petualangan Dino dan dari seorang kenalan pramugari bernama Isabella, hadir novel Nostalgia Nusa Tenggara.


Keliling Indonesia dari era Bung Karno sampai SBY menceritakan seluk beluk kehidupan wartawan termasuk tugas pers dalam mewujudkan keadilan di masyarakat. Namun juga terbesit kisah wartawan yang harus hidup dalam ketergantungan honor menulis, sehingga bagaimanapun ditaktisi dengan berbagai cara untuk bertahan. Bahkan hingga terpaksa melego barang bawaannya seperti jaket, kamera, tas dan lainnya untuk mendapatkan fresh money agar dapat melanjutkan perjalanan. Image yang rupanya sudah melekat pada wartawan ini. Buku ini membawa kita bertualang ke tahun-tahun 60-an, 70-an dan 80-an, melihat perkembangan kota-kota di nusantara saat itu. Bagaimana dengan sektor pendukung pariwisata, bahkan hingga hal yang menggelikan dari kepariwisataan Indonesia sebagai sebuah hal yang belum menjadi perhatian saat itu. Menarik juga adalah sepenggal perjalanan ke Timor Portugis sebelum integrasi.

Darinya para wartawan bisa belajar dengan cara peliputan malam, yang ia namakan kombinasi kalong dan tikus yaitu menyusuri kota di pojok-pojok yang mungkin terlewatkan oleh kita yang setidaknya merupakan puisi kehidupan. Tak lain juga di sini kita akan menemukan hal-hal nyeleneh yang dilakukan Gerson Poyk. Seperti mengaku sebagai keluarga Soekarno, menilep press release, menjadi pelatih gadungan, mencatut nama orang dan hal-hal lucu lainnya, ada yang mengkaitkan dengan Gerson Poyk sebagai orang Rote yang memiliki kecerdasan sekaligus kecerdikan. 

Terlepas dari itu, saatnya pertiwi Nusa Tenggara Timur memberikan apresiasi buat Opa Gerson atas sumbangsihnya pada kemajuan dan perkembangan sastra di Nusa Tenggara Timur. Walau di masa senjanya sebagai sastrawan, ia masih kuat berkebun dalam arti sesungguhnya. Untuk memberikan sekedar contoh bahwa ibu pertiwi adalah “sebuah piring raksasa”, sebagai impian pembangunan dibenak seorang sastrawan untuk mengelola tanah dan menghidupi orang. (*)

Kupang, 18 Juli 2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;