Minggu, 07 September 2014

Kisah Jiro dan Naoko dalam The Wind Rises


Pertama kali Horikoshi Jiro bertemu dengan Satomi Naoko, dalam sebuah perjalanan kereta menuju Tokyo. Karena hembusan angin topi Jiro lepas, namun bisa digapai oleh Naoko. Naoko tengah bersama dengan pembantunya, di saat bersamaan terjadi gempa bumi besar yang membuat kereta anjlok dan membuat kaki sang pembantu patah. Jiro menolong mereka hingga sampai di rumah Naoko. Sayangnya mereka belum sempat berkenalan, tetapi di saat itu telah hadir perasaan antara kedua insan itu, walau kala itu Naoko masih belia. Naoko menganggap Jiro bagai pangeran bagi dia dan pembantunya, yang datang dengan mengendarai kuda putih. Naoko berdoa suatu saat bisa dipertemukan kembali dengan sang pahlawan, Jiro. Naoko ingin bertemu langsung dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya di saat gempa terjadi. Demikian juga dengan Jiro yang rupanya telah jatuh cinta ketika Naoko mengapai topinya yang dihembus angin, dan Naoko telah mencintai Jiro sejak angin membawa kepadanya. Tanpa mereka saling mengetahui isi hati masing-masing.

Jiro adalah seorang anak muda yang berkeinginan menjadi pilot pesawat tempur. Tetapi karena penglihatan yang tidak baik, sehingga keinginannya menjadi pilot hanya menjadi angan-angan belaka. Setelah membaca sebuah majalah penerbangan, Jiro bermimpi bertemu dengan desainer pesawat Italia terkenal yang kemudian selalu muncul dalam mimpi-mimpinya. Tokoh itu memberinya motivasi bahwa membangun pesawat adalah lebih baik daripada menerbangkannya, karena seorang insinyur dapat merubah impian menjadi kenyataan. Sehingga Jiro berkeinginan menjadi seorang insinyur aeronautika.

Saat Jiro menyampaikan keinginan menikahi Naoko


Jiro menemani Naoko melukis di taman

Sejak pertemuan pertama, sudah ada upaya Jiro untuk menemui Naoko. Tetapi kebakaran pasca gempa telah menghanguskan permukiman rumah Naoko tanpa jejak, hingga Jiro tak pernah menemui Naoko lagi. Setelah lebih dua tahun kemudian, tanpa disengaja Naoko sedang melukis di taman, angin berhembus membuat payung yang digunakannya terhempas dan membuat Jiro yang kebetulan lewat mengapai payung tersebut dan mengembalikan ke ayah Naoko. Naoko belum menyadari bahwa lelaki yang menolong memungut payungnya adalah Jiro. Karena mereka menginap di hotel yang sama, Naoko akhirnya bertemu dengan Jiro lagi dan kemudian berkenalan untuk mengenal nama masing-masing dan lalu menumpahkan kesan dan isi hati dikala mereka dipertemukan pertama kali. Dan kisah asmara merekapun terjalin.

Ketika itu datang hujan lebat yang membuat mereka basah dalam perjalanan pulang ke hotel, menambah kesan romantisme mereka. Hingga akhirnya mereka sampai pada tanah kering yang tidak disentuh hujan, ketika mereka berbalik muncullah pelangi. Namun esoknya Naoko mengalami sakit, belakangan baru diketahui kalau Naoko mengidap tuberkulosis, penyakit yang sama diderita Ibunya yang telah meninggal dua tahun yang lalu. Namun itu tak membuat Jiro menyerah untuk mencintai Naoko. Jiro meminta ijin ke ayah Naoko untuk menikahinya, dan Naoko menerimanya tetapi meminta Jiro untuk menunggu agar kondisinya pulih dulu. Kemudian apa yang dikatakan oleh Jiro bahwa Ia bersedia menunggu hingga ratusan tahun lamanya.
 
Ketika Jiro menjenguk Naoko yang sedang sakit

Naoko membaca surat dari Jiro dalam selimut kepompong di sanatorium

Sambil membuat pesawat kertas, Jiro bergumam "Siapa yang pernah melihat angin?. Bukan aku maupun kamu.Tapi ketika daun bergerak, itulah saat dilewati angin. Biarkan angin membawa sayap ini padamu”. Di lain waktu kekuatiran Jiro pun tiba, Naoko mengalami batuk darah, Jiro berjuang keras untuk menjeguk Naoko yang sedang sakit. Naoko akhirnya mengambil keputusan ke sanatorium untuk memulihkan kesehatannya, karena berkeinginan untuk bisa hidup bersama Jiro. Walau dalam kesibukan serius untuk mencapai impiannya dalam kerja kerasnya, Jiro selalu mengingat Naoko. Dan selalu mengirim surat ke Naoko di sanatorium.

Karena merasa waktu itu segera tiba, Naoko akhirnya memaksakan diri menemui Jiro. Semula ia hanya berkeinginan menjeguk, tetapi kemudian mereka mengambil keputusan untuk segera menikah di bawah saksi perwalian keluarga tuan dan nyonya Kurokawa. Walau tampak menuruti egonya tentang pekerjaan, tetapi Jiro merasa bahwa waktu bersama Naoko semakin terbatas karena kesehatan Naoko yang semaikin menurun. Di saat Jiro segera menjemput impiannya membuat pesawat, di saat itu juga dia harus membagi perhatian dengan isterinya Naoko. Naoko pandai menyembunyikan sakitnya yang terus memburuk. Dan mereka melewati hari yang tersisa buat Naoko, sebagai hari-hari yang sangat berharga dengan kesedihan yang sangat. Di malam terakhir, ketika Jiro tengah mengerjakan tugas desain gambar terakhirnya, Naoko meminta Jiro mengengam tangan kanannya dan tak melepaskannya. Di saat bersamaan Jiro bekerja dengan hanya menggunakan tangan kanannya. Esoknya, merasa kematian semakin dekat, Nahoko diam-diam kembali ke sanatorium dan menulis surat untuk suaminya, keluarga, dan teman-teman.

Jiro dan Naoko sedang memohon kepada tn. dan ny. Kurokawa menikahkan mereka

Jiro menemani Naoko tidar sambil bekerja

Cerita Jiro dan Naoko dimulai dari hembusan angin yang menerbangkan topi, payung, pesawat kertas, dengan kata-kata angin berhembus, kita harus mencoba untuk tetap hidup." Dan cerita ini kemudian diakhiri dengan hembusan angin. Di saat Jiro sukses dengan eksperimen pesawatnya, datang hembusan angin yang memberikan firasat, disaat bersamaan Jiro telah kehilangan Naoko!. Di akhir cerita dalam mimpinya Jiro, Ia merasa menyesal karena pesawat ciptaannya digunakan dalam perang, namun setidaknya impiannya tercapai telah membangun pesawat yang indah, dan dalam mimpinya juga Jiro bertemu Naoko, yang berpesan kepada Jiro untuk tetap menjalani hidup, disaat itu ia terlihat cantik seperti angin.

 
Pertemuan terakhir Jiro dan Naoko

Kisah ini adalah bagian dari film drama animasi sejarah Jepang, The Wind Rises yang dirilis tahun 2013 lalu. Merupakan biografi fiksi dari Jiro Horikoshi (1903-1982) yang adalah seorang desainer pesawat yang digunakan oleh Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Film animasi ini terbilang sangat sukses di Jepang dengan mendapatkan banyak pujian dan penghargaan. Tak heran bila film ini menjadi yang terlaris dengan pendapatan film tertinggi pada tahun 2013 di Jepang. (*)

Kisah ini juga mengingatkan saya pada kisah Jamal Malik dan Latika
dalam film India berjudul Slumdog Milioner, seperti apa yang
diungkapkan Jamal, “Aku akan menunggumu di stasiun kereta
pukul lima sore. Setiap hari. Sampai engkau datang menemuiku.”
Begitu janjinya pada Latika.

Kupang, 07 September 2014
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;