Senin, 02 Juli 2012

Perempuan dari Lembah Mutis

Sebuah novel karya Mezra E. Pellondou, seorang pendidik di Kota Kupang yang telah dikenal sebagai sastrawati lokal yang sering mendapatkan penghargaan nasional di bidang sastra. Kehadiran novel Perempuan dari Lembah Mutis (2012), melengkapi beberapa novel yang  telah ditulis sebelumnya seperti Surga Retak (2006), Loge (2007) dan Nama Saya Tawwe Kabotta (2008). Novel Perempuan dari Lembah Mutis ini, sama halnya dengan beberapa novel populer lainnya, bercerita tentang anak kampung yang ketika masa kecilnya mengalami getirnya hidup, namun tetap memiliki semangat dan harapan. Asa itu kemudian dituangkan dalam bentuk imajinasi yang terinsipirasi dari kehidupan. Imajinasi itu dapat ditemukan di mana saja, baik dari pesan orang tua, petuah guru, nyanyian alam, kumpulan hewan bahkan hingga sesuatu yang dianggap sepele. Dari imajinasi yang mengawang itulah timbul hasrat untuk mencapainya, yang dinamakan motivasi hingga seseorang dapat mencapai mimpinya.

Novel yang mengisahkan kehidupan antara dua sahabat, Cendana dan Yohana yang menghabiskan masa kecil mereka di lembah Mutis, sambil bercengkrama dan menemani sapi-sapi mereka minum. Kehidupan beranjak hingga mereka menjejaki masa dewasa yang penuh dengan problematika dan romantika hidup antara impian, keluarga, persahabatan dan cinta. Penulis mengangkat isu ekologi sebagai tema sentral dalam novel dengan latar kondisi geografis di Pulau Timor. Dari  keberadaan Gunung Mutis, lembah, sungai dan masyarakatnya di wilayah yang seolah terabaikan dalam konstelasi nasional. 

Di Pulau Timor mengalir dua sungai terbesar yang berhulu di kawasan Gunung Mutis yaitu Sungai Benenain di Kabupaten TTU dengan panjang 135 kilometer dan Sungai Noelmina di Kabupaten TTS dengan panjang 97 kilometer. Kedua sungai ini menjadi sumber air utama penghidupan masyarakat di Pulau ini. Sehingga kawasan Mutis merupakan jantung sistem kehidupan ekosistem Pulau Timor. Hal yang menarik dengan menampilkan kondisi lokal adalah dapat menguak lapis-lapis makna perjuangan dari keterbatasan yang ada. Sebuah lapisan makna dalam relevansinya dengan hubungan antara kearifan lokal di satu sisi dan ekspansi global di sisi yang lain.

Dalam novel ini juga menguraikan pentingnya Corporate Social Responsibility (CSR), yang menempatkan sisi humanis dari korporasi. Tentang tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan terhadap kehidupan masyarakat di pedalaman Timor yang masih tertinggal. Namun hal ini perlu juga untuk diangkat dalam tataran yang lebih realistis. Dimaksudkan bahwa perusahaan tidak hanya sekedar berinvestasi dan mengeruk keuntungan semata, namun ada semangat filantropis untuk saling berbagi terhadap lingkungan dan komunitas. Mengingat sudah banyak perusahaan-perusahaan nasional yang telah membangun investasi besar di Pulau Timor. Gerakan ini dapat membuka ruang pemberdayaan masyarakat, sehingga menipiskan jarak antara capital dan humanity agar dapat bersanding dengan baik. Sebut saja dengan adanya CSR dapat membantu masyarakat pedalaman Timor yang masih tertinggal dalam hal pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

Kurangnya dalam novel ini adalah tidak terdapatnya catatan kaki penjelas terhadap beberapa bahasa dan istilah lokal. Sehingga pembaca dari kultur budaya berbeda kurang memahami dan seolah terputus makna yang ingin tersampaikan. Namun terlepas dari itu novel ini telah menyajikan sisi lebih dekat dengan lingkungan lokal yang ada. Tak perlu jauh membaca dan mengagumi keindahan wilayah lain dalam novel populer seperti Laskar Pelangi dan Negeri Lima Menara yang secara eksplisit  menampilkan keindahan Andalas. Namun kita juga bisa menemukan di ranah Timor, di dalam novel ini. (*)

Kupang, 02 Juli 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;