Senin, 29 September 2014

Cerita Marmut dari Mongolia


Photo: en.wikipedia.org

Saya kebetulan sedang membaca buku biografi Jenghis Khan karya John Man, dan di saat bersamaan juga, saya menonton film Warrior Princess (Queen Ahno). Dari buku dan film tersebut saya mendapat gambaran tentang kehidupan dan kebudayaan Mongolia dengan bentangan geografis wilayah Mongolia yang sangat luas, stepa di mana-mana. Kadang kita mendapatkan kejadian seperti ini, mendapatkan satu cerita yang sama dari beberapa sumber, tanpa di sengaja di waktu bersamaan. Namun saya tertarik dengan apa yang diulas John Man dalam bab awal bukunya, tentang salah satu hewan penting bagi kehidupan orang Mongolia. Selain kuda sebagai alat transportasi utama dan penyangga ekonomi, marmut atau sejenis hewan pengerat memiliki struktur penting bagi salah satu kebutuhan pangan orang Mongolia.

Salah satu ciri khas marmut adalah hewan sosial yang saling berkomunikasi di antara sesama dengan siulan, terutama bila ada bahaya yang akan terjadi. Marmut umumnya sarang di dalam tanah dan melakukan hibernasi selama musim dingin. Hewan dari famili Sciuridae ini terbilang memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Seperti jika ada bahaya datang, biasanya derap kuda dan roda kendaraan di padang stepa, mereka akan memantau hingga kemudian lari bersembunyi. Tetapi jika bahaya sudah berlalu mereka akan segera memantau lagi karena rasa ingin tahunya. Hal inilah yang digunakan para pemburu Mongolia untuk menjebaknya. Dengan mengibar-gibarkan benda putih maka marmut akan keluar dari sarang, begitupun dengan pakaian pemburu yang mencolok membuat marmut tak kehilangan rasa ingin tahunya dan begitu terpesona dengan sesuatu yang asing, menganjal rasa penasarannya, untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Dan kemudian dijadikan sasaran empuk dengan ditembak. Marmut adalah binantang lugu, yang karena keluguannya menjadi malang yang didapat.


 Pemburu yang memanfaatkan keluguannya dan sekaligus kelemahan marmut yeswehunt.eu

Menariknya adalah bagaimana hewan marmut memiliki nilai mitologis bagi Bangsa Mongolia. Hampir dimanapun di penjuru dunia mitologis hewan dan manusia saling bertautan, dan masing-masing kebudayaan memiliki nilai cerita yang unik. Di tanah Mongolia, marmut adalah makanan musim panas yang begitu dicari, terutama daging bagian bahunya yang disebut sebagai “daging manusia”, dianggap sebagai santapan yang paling lezat. Kisahnya berawal dari mitos masa lalu Bangsa Mongolia. Kala itu ada tujuh matahari, sehingga membuat cuaca begitu panasnya. Orang-orang bersepakat untuk mencari seorang ahli pemanah yang bisa memanah enam matahari. Ada seorang yang sangat berani untuk menerima tantangan ini, Ia berkata, “esok saat pagi datang, saya akan memanah enam dari tujuh matahari, jika gagal aku akan menjadi seekor marmut, memotong ibu jariku, minum darah, makan rumput kering dan hidup di bawah tanah”. Besoknya, Ia telah berhasil memanah lima matahari. Saat melepaskan panah yang keenam, tanpa disadari seekor burung pipit melintas dan panah itu mengenai ekor burung tersebut, sehingga membuat ekornya seperti garpu hingga saat ini. Karena gagal memanah matahari keenam, maka ia akhirnya menjelma menjadi marmut, hal itulah mengapa marmut memiliki daging manusia di tubuhnya.
 Prangko marmut Mongolia (foxstudio.files.wordpress.com)

Cara mengolah daging marmut terbilang berbeda dari biasanya. Setelah digantung dan dikuliti, isi perut marmut dibuang, daging dipotong dadu. Dan kemudian daging yang telah dipotong dimasukan kembali dalam kulit yang telah dijahit menyerupai kantong, bersama dengan batu-batu kecil yang telah dipanaskan terlebih dahulu dalam bara dan kemudian kantong itu dipanggang lagi sehingga akan benar-benar matang dari dalam oleh batu panas dan dari luar oleh bara. Cara masak yang unik bukan. Karena selalu di buru, populasi marmut di Mongolia mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir. Sehingga oleh pemerintah, hewan ini telah dilarang untuk diburu. (*)

Kupang, 29 September 2014
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;