Selasa, 20 September 2016

Boneka Atauro, Dakocan dari Timor Leste


Adalah boneka legendaris Dakocan (Dakko-chan) yang pernah memiliki masa kejayaan sejak tahun 1960-an hingga tahun 1990-an. Boneka khas berwarna hitam ini berasal dari Yokohama, Jepang dan begitu mendunia. Semula adalah boneka plastik berisi angin yang ditiupkan hingga kemudian menjadi boneka mainan dengan berbagai bentuk. Sejarah boneka sebagai mainan tertua sudah ada sejak zaman Yunani, Romawi dan Mesir kuno. Baru pada abad ke-15, boneka di produksi massal dan dijual, negara perintisnya adalah Jerman. Dan kini industri boneka berkembang pesat dengan berbagai karakter dan dari segala penjuru dunia. Salah satunya datang dari salah satu industri kecil yang dikembangkan dari Pulau Atauro di negara Timor Leste, dan telah menjadi boneka ikon dari Pulau Atauro yaitu Boneca de Atauro (Boneka Atauro).

Boneca de Atauro mulai diperkenalkan sejak tahun 2007, dan merupakan karajinan tangan kebanggaan dari Pulau Atauro. Boneka berbahan kain ini lahir dari pulau kecil, yang kini telah melanglang buana ke seluruh dunia sebagai souvenir khas dari Timor Leste. Sayangnya boneka ini belum terlalu di kenal, khususnya di negera jirannya Timor Leste, yaitu Indonesia. Belum adanya promosi intens dari satu kerajinan tangan ini untuk menembus pasar ekspor luar negeri. Tidak seperti sejarah boneka Dakocan yang mendunia karena diuntungkan dengan begitu masifnya liputan tentang boneka tersebut. Di kala itu sering muncul ulasan di televisi dan mengakibatkan banjir permintaan, hingga stok di toko-toko kosong, sehingga beredar juga versi palsunya. Belajar dari pengalaman di bidang industri keratif, maka industri kecil dari produk Boneca de Atauro ini telah melakukan upaya menghindari pemalsuan dengan memiliki hak cipta dari Cooperativa polivalente Boneca de Atauro berbasis di Vila Maumeta di Pulau Atauro (Timor-Leste).

Berbeda dengan Dakocan yang merupakan produk dari industri besar, Boneca de Atauro adalah hasil karya kerajinan tangan perempuan-perempuan dari Pulau Atauro. Produk ini menjadi bagian dari ruang dedikasi bagi perempuan Atauro untuk menunjukan martabat mereka dengan membangun kemandirian ekonomi lokal. Tak mengenal latar belakang serta usia tua dan muda dalam membuat produk ini, sehingga menjadi wadah dalam berbagi pengalaman, pengetahuan dan kesabaran lintas generasi. Dengan membangun produk berbasis komunitas ini dapat meningkatkan kualitas hidup perempuan serta membangun ekonomi perempuan dalam wujud socialenterprise yang lebih mandiri.

Jika Dakocan adalah karakter yang diambil dari hewan koala yang sedang memeluk pohon, sehingga pemiliknya biasa memasang di lengan atas, maka berbeda dengan Boneca de Atauro yang adalah karakter asli penduduk Atauro baik laki-laki maupun perempuan. Karakter perempuan ditandai dengan penggunan kain tenun penutup dada sedangkan laki-laki dengan dada terbuka. Selain dengan bentuk produk standar, ada juga boneka Atauro yang dibuat lebih besar seukuran dengan anak kecil berusia tujuh tahun.

Boneca de Atauro diciptakan dari kehidupan asli masyarakat di Pulau Atauro yang biasa juga disebut dengan Pulau Kambing karena banyaknya jumlah kambing di pulau ini. Pendapat lain menyebutkan bahwa Atauro berasal dari kata "Ata" yang berarti orang miskin dan "Uro" yang berarti berhati emas (Portugal), sehingga berarti orang biasa berhati emas. Selain itu juga bagi masyarakat lokal menyebut pulau ini dengan “tempurung kelapa. Pulau ini letaknya 25 kilometer sebelah utara Kota Dili, Timor Leste dan berbatasan langsung dengan Pulau Liran, Pulau Wetar dan Pulau Alor (Indonesia). Secara administratif, pulau ini termasuk salah satu sub distrik pada Distrik Dili, Timor Leste.



Pulau Atauro (Sumber: Google)

Sebagai pulau kecil dengan luas 105 km², dengan penduduk ± 8.000 jiwa, dan sebagian topografi wilayahnya berupa pegunungan. Sehingga masyarakatnya cendrung memenuhi kebutuhannya dari laut, terlihat dari banyaknya yang menjalani profesi sebagai nelayan, dengan menggunakan alat tangkap bubu, tombak hingga panah. Dengan demikian menggambarkan karakter boneka Atauro laki-laki yang menggunakan ikat kepala dari daun lontar untuk menyelam di kedalaman laut. Karena berada di pulau kecil yang panas, maka penduduk Pulau Atauro berkulit gelap, sehingga karakter boneka Atauro juga berkulit gelap. Walaupun demikian tidak ada kesan stereotip dari warna kulit boneka ini, sebagai bentuk identitas alam dalam kearifan lokalnya sebagai masyarakat pesisir. Hal sebaliknya terjadi pada boneka Dakocan, di akhir tahun 1980-an muncul gugatan atas sesuatu yang bisa memberikan penggambaran stereotip kulit hitam pada produk seperti boneka Dakocan, yang berujung bentuk diskriminasi. Hal inilah yang mungkin menjadi sebab boneka tersebut kurang lagi peminatnya karena terkesan mendiskreditkan orang berkulit hitam hingga kemudian berhenti berproduksi. Pelajaran dari sini adalah Boneca de Atauro dapat mengikuti jejak kesuksesan Dakocan tetapi tidak dengan kegagalannya.

Kini aspek pariwisata Pulau Atauro mulai dikembangkan dengan melihat dari aspek bahari yang alami. Apalagi pulau ini sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi (Marine Protected Area) oleh pemerintah Timor Leste. Sudah banyak wisatawan domestik dan luar negeri yang berkunjung ke pulau ini, dengan jarak tempuh hanya sekitar 45 menit menggunakan speed boat dari Kota Dili, yang dengan sendirinya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Atauro. Mereka mendapatkan penghasilan tambahan, salah satunya dengan menjual boneka khas Pulau Atauro, Boneca de Atauro, harga mulai dari $ 7 per buah. (*)

Kupang, 20 September 2016
@daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;