Sabtu, 11 April 2015

Pentas Tarian Bidu Hodi Hakdaur




Nusa Tenggara Timur selalu memberikan corak kebudayaan yang berbeda dengan wilayah lainnya di Nusantara. Salah satunya bisa dilihat dari beragamnya jenis tarian dari daerah ini. Umumnya tarian asal NTT memiliki kesan tarian pergaulan, ritual adat istiadat, pesta  perkawinan,  pesta  panen  baru  atau  acara  dengan nuansa kegembiraan lainnya. Kini tarian yang semula hanya dilihat oleh kalangan terbatas, saat ini telah dipentaskan diruang publik yang lebih luas. Tarian sebagai sebuah kesenian memperlihatkan gerak tubuh yang memiliki irama, dengan menampilkan tema masing-masing seperti tari pergaulan, ungkapan perasaan, maksud dan pikiran. Tarian tentunya selalu diiringgi dengan alat musik yang membantu mengiringi penari untuk lebih mengekspresikan diri secara estetis. Keharmonisan sebuah tari tentunya dilihat dari aspek yang ditampilkan yaitu wiraga (raga), wirama (irama), dan wirasa (rasa). 


Salah satu tarian asal Nusa Tenggara Timur yang menawan adalah Tari Bidu Hodi Hakdaur, dikembangkan dari tarian Likurai dari Etnis Belu Nusa Tenggara Timur, yang dilakonkan  oleh  sejumlah  laki-laki  dan  perempuan pilihan dengan  mengenakan  pakaian  adat  lengkap  dengan  aksesorisnya. Tarian  ini  biasanya  dipersembahkan  dalam  rangka menyambut tamu kehormatan, hiburan pada perayaan pesta perkawinan dan pada acara ritual adat lainnya.


Sebagaimana NTT tidak mengenal tarian tunggal yang hanya dimainkan oleh satu orang, di NTT tarian selalu ditampilkan secara berkelompok (group choreography) atau tarian yang diperagakan lebih dari dua orang, atau bahkan hingga ratusan orang yang menunjukan sisi egaliternya. Dengan demikian tarian ini merupakan salah satu tarian pergaulan (social dance) yang mengembangkan unsur tradisional dalam kemasan yang kreatif dan inovatif. Tarian diawali dengan para laki-laki yang gagah menarikan gerakan kaki dengan lincah, kokoh dan khas, sambil memainkan atau menyuarakan  bunyi  giring-giring  mengikuti  irama  gendang  yang  ditabu oleh pengiring. Setelah itu datanglah sejumlah penari perempuan dengan berlenggak-lenggok menawan sambil memainkan dengan lincah jari-jemari  tangan  memukul gendang atau alat pukul Bibiliku (tambur), yang  dililit  disamping  kiri, sambil terus meliuk-liukkan tubuhnya dengan semangat yang riang gembira. Juga terdapat kareografi berpasangan dan secara berkelompok membentuk lingkaran. Tarian ini terus menampilkan gerakan-gerakan yang penuh semangat yang ditampilkan secara enerjik seperti kelihaian memainkan parang dalam tarian.

Tarian ini diiringi oleh ritmik musik hasil perpaduan antara pukulan gendang, gong, tambur dan tiupan recorder serta syair bahasa adat yang sarat akan makna spirit perjuangan serta terakan pekik yang nyaring bersahut-sahutan menandakan kemenangan. Nyanyian lagu daerah diselingi dalam tarian ini, yaitu lagu daerah rakyat Belu, Loro Malirin dengan lirik: Oras loro malirin, teu tanis lakateu tanis, tanis na'ak nian ina, ro sina sa'e ro sina. Taka sela ba kuda, lun turu bete lun turu, bete keta lun turu, mai kikar ba mai kikar. Tarian yang dinamis ini, memperlihatkan laki-laki dan perempuan dengan balutan busana tenun ikat Suku Belu dan perangkat aksesoris lainnya, seperti adanya tais (tas tradisional) dan kelewang (parang tradisonal) yang dikenakan para penari membuat tarian menampilkan kekayaan budaya etnik NTT yang eksotik. 

Sebagai karya seni dan budaya NTT, tarian tradisional ini diwariskan secara turun temurun, tentu mengandung nilai filosofis, simbolis dan religius. Direpresentasikan dalam ragam gerak tari dengan makna yang tersirat. Kita tidak terlalu memperhatikan makna asli dari tarian ini, hanya mengagumi gerakan tari yang memukau. Tetapi jika kita tinjau lebih dalam dengan memperhatikan aspek historis, tarian ini sebenarnya adalah tarian untuk menyambut kedatangan panglima perang yang berhasil menaklukan lawan. Memperlihatkan barisan laki-laki yang gagah memainkan perang dengan menebas kepala-kepala musuh dan membawa pulang kepala musuh untuk disambut, dalam barisan perempuan yang menabuh gendang dengan riang gembira merayakan kemenangan perang. Namun zaman telah berganti dan perang hanya menjadi sebuah masa lalu. Kini tarian ini hanya dilihat sebagai sebuah hiburan semata,  dengan makna dan semangat baru yaitu: kebersamaan, kegembiraan dan kegotongroyongan.

Sebagai tarian kreasi dari pengembangan tarian daerah, tentunya tetap memperhatikan kaidah dan pakem ragam gerak tari tradisional, musik pengiring, formasi, serta riasan dan busana yang dikenakan penari. Sehingga apa yang ditampilkan tanpa menghilangkan esensi tradisinya. Banyak tarian yang semula untuk ritual keagamaan dan ritual adat lainnya, kemudian dalam perkembangan zaman, tarian ini berubah menjadi tarian penyambutan tamu dan hiburan. Namun demikian bukan berarti tarian ini kehilangan kesakralannya, walau sudah dikemas secara modern karena tidak lagi ditampilkan tertutup, tetapi sudah dihadapan publik yang lebih lebih luas, seperti dipentaskan di gedung-gedung dan hotel berbintang.

Tarian yang diproduksi Laboratorium UPTD Taman Budaya Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, telah sukses mendulang perhatian dan penghargaan di tingkat nasional terutama penataan tari yang memukau. Tarian ini dibawakan oleh pelajar di Kota Kupang dengan usia 13-18 tahun. Memberikan peluang bagi muda-mudi untuk menyalurkan bakat secara positif, juga dapat membentuk generasi mendatang yang lebih disiplin, inovatif dan kreatif. (*)

Kupang, 11 April 2015
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;