Kamis, 14 Februari 2013

Unhas dalam kesan!

Di tahun 2005 saya meninggalkan Unhas dengan status sarjana, dan kemudian bisa kembali ke Unhas untuk sebuah diklat perencanaan selama sebulan. Sekedar berbagi Unhas di masa kini dalam beberapa gambar!




Cikal bakal berdirinya Universitas Hasanuddin pada tahun 1956, bermula dari berdirinya Fakultas Ekonomi tahun 1947 di Kota Makassar yang merupakan cabang Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Jakarta, berdasarkan keputusan Letnan Jenderal Gubernur Pemerintah Hindia Belanda kala itu. Sehingga tercatat sebagai Fakultas Ekonomi pertama dan tertua di Indonesia.  Fakultas Ekonomi ini sempat dibekukan karena alasan keamanan dan baru dibuka kembali pada tahun 1953 di bawah pimpinan Prof. Drs. G.H.M. Riekerk. Hingga kemudian pada 10 September 1956 diresmikannya Universitas Hasanuddin yang merupakan gabungan beberapa fakultas yang sudah ada.

Lukisan Sultan Hasanuddin di Museum Kota Makassar



Nama Universitas Hasanuddin diambil dari nama Raja Gowa ke-16 yang juga merupakan pahlawan nasional Indonesia, yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, namun lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja.




Karena keberanian Sultan Hasanuddin melawan kolonial, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Sehingga kini lambang/logo Unhas terdapat ayam jantan yang melambangkan sifat Sultan Hasanuddin yang mencerminkan sikap intelek, berjiwa besar dan militan dalam gerak ke arah kemajuan. Inilah kemudian yang mungkin mempengaruhi kultur militansi para mahasiswanya. Saya sempat merasakan bagaimana kerasnya kehidupan mahasiswa yang terkadang diselinggi dengan aksi tawuran.

Sejak 17 September 1981 Unhas telah menempati Kampus Tamalanrea yang pada awalnya dirancang oleh Paddock Inc., Massachustts, AS dan dibangun oleh OD 205, Belanda yang bekerjasama dengan PT. Sangkuriang Bandung di atas tanah seluas 220 Ha. Unhas saat ini telah dipimpin oleh 11 Rektor, dan saat ini yang menjabat adalah Prof. Dr.dr. Idrus A. Paturusi, Sp.BO sejak tahun 2006.





Gedung rektorat Unhas inilah tempat rektor berada mengatur segala manejemen pengelolaan Kampus Unhas. Menjadi pusat urusan kampus yang membawahi seluruh fakultas dan lembaga lainnya. Menarik arsitektur gedung ini, teman saya pernah berujar. “kenapa ada atap di lantai dasar?” sambil terus berkata, “karena lupa menaruhnya di bagian atas!”. Benar adanya gedung rektorat ini tidak beratap, dan atapnya terdapat di bawah gedung yang menjadi tempat parkir mobil rektor. Namun terlepas dari itu, arsitektur bangunan adalah perpaduan antara fungsional dan estetika.







Unhas memiliki dua pintu masuk Kampus Tamalanrea atau yang lebih dikenal dengan nama Pintu I dan Pintu II, di Pintu I Unhas terdapat jalan yang menghubungkan dari gerbang dengan kompleks kampus, jalan ini biasa dinamakan Boulevard Unhas, jalan yang banyak memberi kesan nostalgia, bahkan sering dipuisikan oleh sastrawan jebolan kampus.






Adapun tugu dalam kampus yang dibangun adalah tugu juang atau ada juga yang menyebutnya dengan tugu phinisi dengan model layar terkembang, esensinya mewakili tridarma perguruan tinggi. Setidaknya ini menjadi tekad dari pengembangan Pola Ilmiah Pokok (PIP) kelautan yang menjadi rujukan Unhas sebagai orientasi lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Selain itu terdapat juga prasasti yang ditandatangani oleh Presiden dan Wapres, SBY – JK tahun 2006 lalu.







Mahasiswi Unhas kini

Satu hal unik dari kampus Unhas adalah keberadaan danau, yang memberikan nuansa teduh bagi mahasiswa yang mengalami kepenatan perkuliahaan. Selain memperindah lanskap juga banyaknya pohon yang tumbuh dengan subur menambah kesan hijau, sehingga Unhas turut menyumbang RTH bagi Kota Makassar. Masih teringat ketika ditanamnya anakan jati putih (Gmelina arborea) yang tersebar di lingkungan kampus, kini pohon tersebut tumbuh semakin meninggi. Di seputaran danau sebelah timur tersedia jogging track, yang dahulunya saya sering jadikan rute lari di pagi yang masih gelap. (*)



Kupang, 14 Februari 2013
©daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;