Kamis, 13 Agustus 2015

Dari Telinga Swasta hingga Pohon Telinga


photo: whatjesusdid.org

Dahulu sewaktu masih bersekolah dasar di Kota Kupang, saya sering mendengar istilah telinga swasta. Telinga swasta diartikan sebagai kemampuan mendengar yang kurang. Jika ada teman yang butuh hingga dua kali atau lebih mengulang omongan yang kita sampaikan, maka cap memiliki telinga swasta, sudah kita berikan kepadanya. Dalam bahasa baku, kita tidak akan menemukan kosakata demikian, karena hanya menjadi guyonan kita di masa tersebut yang hingga kini masih dipakai dalam kosa kata bahasa Kupang. Mungkin karena di masa tersebut yang dinamakan dengan sekolah dan instansi swasta masih kalah jauh dengan sekolah dan instansi negeri yang lebih maju, sehingga sebutan swasta menjadi label kelas dua. Namun kini telah berubah jauh, di mana-mana kecenderungan sekolah swasta dan perusahaan swasta jauh lebih baik dibandingkan negeri.

Ada juga istilah telinga tajam, yaitu istilah yang dilekatkan bagi para penguping pembicaraan orang, sebuah stereotip negatif tentunya. Di masa kanak-kanak juga, memiliki telinga yang tidak standar, biasanya menjadi bahan ejekan karena bentuk daun telinga yang lebih berbentuk parabola dan besar. Daun telinga memang berfungsi untuk menangkap gelombang suara, tentu masih ada gesture tambahan jika suara yang kita dengar sayup, maka menambahkan telapak tangan dekat telinga dapat memperlebar daya tangkap gelombang suara untuk masuk kedalam telinga.

Selain itu di Kota Kupang masa tahun 90-an, banyak saya temukan orang yang memiliki penyakit telinga, yang kami sebut telinga oek (congek), telinga yang mengeluarkan nanah kuning dan bau. Kebanyakan mereka adalah anak-anak miskin yang jauh dari pola hidup bersih, seperti mengorek kotoran telinga dengan menggunakan lidi, karena penggunaan cotton buds belum terlalu dikenal seperti sekarang. Istilah THT (telinga, hidung dan tenggorokan) belum femilier apalagi keberadaan dokter THT belum terdengar di Kota Kupang. 

 picture: wecareremedy.co.uk

Sebagai kota yang terkenal dengan musik angkotnya yang keras. Dahulu terdengar ada beberapa peneliti, salah satunya dari Australia yang mengungkapkan bahwa penduduk Kota Kupang dalam jangka panjang akan mengalami gangguan pendengaran sebagai akibat sering mendengar bunyi musik kendaraan bemo yang keras. Sampai sekarang di puluhan tahun kemudian,  tak ada penelitian lanjutan, apakah benar penduduk Kota Kupang banyak mengalami gangguan pendengaran akibat musik angkot. Perlu juga diperhatikan bahwa kini dengan perbaikan tingkat ekonomi banyak penduduk Kota Kupang yang telah migrasi menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan tahun 90-an, dimana lebih banyak menggunakan transportasi bemo. Satu kebiasaan yang tak terlihat lagi tentang telinga, adalah menggunakan satu helai bulu ayam yang sebagian besar bulunya telah dilepas, hanya menyisahkan di ujung, dimasukkan ke dalam lubang telinga. Bukan bermaksud membersihkan tetapi hanya untuk mendapatkan sensasi kenikmatan karena geli.

Di tahun 90-an juga ada fenomana kawula muda laki-laki di Kota Kupang yang senang menindik telinga kiri untuk memasang paku pentul atau anting-anting. Trend ini banyak dipakai anak-anak setara smp, sma, mahasiswa, juga kalangan konjak (kondektur) dan supir angkot. Karena begitu trend-nya style ini banyak ditiru oleh perempuan tomboy dengan melakukan hal yang sama. Tak jarang praktik yang tidak steril ini mengakibatkan infeksi, adalah hal lucu ketika melihat orang dengan telinga bengkak luka dan memaksakan diri menggunakan anting-anting, dan kejadian ini lazim ditemukan saat itu. 

Saya juga pernah mendengar bahwa di daerah pertokoan Siliwangi Kota Kupang di tahun tersebut banyak buruh toko yang pesta miras, setelah aktifitas toko usai sekitar jam 10 malam. Mereka meminum miras dengan menaburi tai telinga dari masing-masing peminum ke dalam minuman keras yang akan diputar oleh bandar. Minuman keras yang terkenal saat itu adalah Kuntul, sejenis bir dengan botol mini berwarna biru atau coklat, campuran tai telinga katanya untuk mendapatkan daya mabuknya, entahlah!. Di samping kumpul-kumpul untuk melakukan berbagai aktivitas, banyak juga penduduk kota kupang yang gemar bermain kartu remi, bagi yang kalah hukumannya menjepit daun telinga dengan jepitan pakaian atau mengantungkan beberapa buah batu baterai bekas dengan menggunakan tali rafia di telinga. Ada juga kebiasaan orang yang mengecek kondisi telur dengan cara menguncang-guncangkan dengan keras dekat telinga, jika berbunyi telur tersebut dianggap rusak. Padahal cara tersebut tidak tepat, malahan membuat telur yang bagus menjadi rusak. Sedangkan cara yang tepat adalah meneropong telur dengan sumber cahaya lampu. Tak luput juga dari mitos, konon kabarnya terlalu banyak menggunakan kemiri dalam masakan dapat mengakibatkan tuli.

photo: kaskus.co.id

Semula saya mengira istilah masuk telinga kiri keluar telinga kanan adalah asli Kota Kupang, namun ternyata istilah tersebut jamak digunakan. Salah satunya ketika saya menonton film buatan Singapura. Tentang seorang anak yang diceramahi orang tuanya, kata-kata orang tua dibuat animasi masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Jadi apa yang dinasihatkan berlalu begitu saja tanpa ada yang masuk di pikiran anak itu

Di permainan anak-anak masa itu, membuat telepon dari kaleng bekas merupakan sebuah kreatifitas. Dibutuhkan dua kaleng susu cap nona dengan tutup dibuka dan tali benang bola yang telah dibalur lilin. Membuatnya dengan cara mudah, salah satu sisi kaleng dilubangi dan dimasukan tali benang dengan penganjal sebatang lidi. Jadilah telepon tradisional yang sangat terkenal di seluruh dunia, yang diyakini sudah ada sebelum Alexander Graham Bell menemukan telepon. Kini jangankan membuat telepon dari kaleng yang sangat merepotkan, anak SD jaman sekarang sudah membawa ponsel ke sekolah.

Pesta syukuran di rumah-rumah penduduk adalah salah satu budaya di Kota Kupang, sering kita temui pesta yang berlangsung hingga dini hari dengan alunan berbagai macam jenis musik seperti country, dansa, rock, pop dan lainnya. Bagi para tetangga yang memiliki pendengaran sensitif, tinggal di sekitaran tempat pesta, dijamin tidak tertidur sampai pagi.


Masih tentang telinga, ada juga ungkapan telinga berdiri, kosa kata dalam bahasa Kupang yang sepertinya mengikuti gesture telinga anjing yang tegak atau berdiri ketika mendengar suara yang mencurigakan. Sehingga telinga berdiri diartikan sebagai kondisi siaga atau waspada terhadap sesuatu yang akan terjadi. Ada juga telinga kebal yang artinya tidak gampang terpengaruh atau sulit dinasehati, demikian juga dengan telinga tabal yang berarti sikap acuh tak acuh dan tidak peduli.

Ada juga istilah pohon telinga, istilah ini memang sudah baku yang merujuk pada area antara daun telinga ke bagian pangkal leher atas. Namun dalam bahasa pergaulan di Kota Kupang, pohon telinga adalah bagian tubuh yang biasa menjadi objek penderita baik oleh kekerasan fisik dan penyakit. Kalau kekerasan fisik seperti perkelahian, maka pohon telinga biasanya menjadi sasaran pukulan bogem (istilah Kupang “falungku”), demikian juga dengan tamparan orang tua atau guru yang mengenai bagian ini. Jaman tersebut guru terbilang keras dalam membina murid-muridnya, tamparan di telinga yang keras untuk beberapa saat dapat membuat telinga berdenggung dan kehilangan pendengaran beberapa detik. Sedangkan untuk penyakit biasanya disebabkan oleh penyakit gondongan (parotitis epidemica) atau di Kupang lebih dikenal dengan sakit Boff, penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus menular pada kelenjar liur yang memberikan efek nyeri pada batang leher atas dekat dengan telinga. Cara pengobatan tradisonal menggunakan blau cuci yang dicampur dengan cuka. Jadi kalau ada yang terkena penyakit ini, sekitar daerah pohon telinga akan biru karena menggunakan olesan pasta blau.

Dari telinga sebagai indra pendegaran, kita bisa memasuki ruang kota dalam dimensi masa lalu dan kini, mengungkapkan berbagai cerita dan fakta tentang kehidupan sosial kultur yang bisa saja hilang, jika tidak diceritakan atau ditulis kembali. Sebuah kenangan dan sebuah perubahan dari waktu ke waktu tentang budaya, aktivitas, kebiasaan dan laku yang membuat hal tersebut menjadi romantisme kehidupan kota yang kadang telah terlupakan. (*)

Kupang, 13 Agustus 2015
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;