Rabu, 26 Agustus 2015

Negeri di atas awan



Di masa kecil saya suka membaca majalah anak-anak dan menonton film kartun di tv nasional saat itu. Sering saya temui berbagai kisah dan dongeng tentang negeri di atas awan. Satu kisah yang paling diingat adalah benih tanaman yang diberikan seorang nenek tua yang baik hati kepada seorang gadis cantik untuk ditanam. Benih tersebut akhirnya tumbuh dan terus menjulang ke atas menembus awan dan memperlihatkan sebuah negeri di atas awan. Inilah gambaran fantasi sejak zaman nenek moyang, tentang harapan umat manusia bisa menembus dan menyentuh awan. Bukan sekedar mitos, kini kita juga mempunyai kesempatan sejenak berada di atas awan, sebuah negeri di atas awan.

Memang dibeberapa tempat, dengan mendaki ke ketinggian, kita bisa melihat lanskap pemandangan hamparan awan. Namun kesempatan kali ini saya melihat sebuah pemandangan menakjubkan tentang negeri di atas awan dari udara, dari pesona lautan awan yang tak ada tepinya selama perjalanan ± 40 menit. Dalam penerbangan domestik ini, saya menyaksikan kumpulan awan sejauh mata memandang. Pemandangan yang jarang ditemui, karena dalam beberapa penerbangan belum tentu kita mendapatkan pemandangan seperti ini, sangat tergantung dari keberadaan pesawat yang ditumpangi, ketinggian jelajah, waktu, suhu, cuaca dan berbagai faktor lainnya. Awan sebagai massa yang terdiri dari tetesan air dan kristal beku menggantung di atas permukaan bumi. Sehingga kumpulan awan yang rapat ini, seperti kasur kapas yang empuk dan memperlihatkan beberapa lembah dan juga gundukan, seolah menjadi sebuah daratan di negeri yang putih mengkilap. Seakan ingin merebahkan tubuh dan berbaring sambil menghayalkan pikiran ke tempat terjauh dan terdalam, dari tempat saya mengawang. Tak ada harga lebih untuk bisa berada di atas awan, hanya diperlukan beberapa turbelensi untuk bisa menembus awan dan turun dari awan.

Layaknya menjadi negeri utopia, di mana ide dan jiwa bisa tinggal di negeri di atas awan, ingin melepaskan seluruh beban yang kita pikul di atas bumi. Negeri di atas awan seperti menjadi tempat yang dijanjikan. Walau negeri di atas awan hanya bualan saja, tetapi bisa menentramkan hati, bahwa negeri di atas awan hanyalah tempat melambungkan harapan-harapan bukan tempat untuk ditinggali. (*)

Di atas Laut Sawu, 26 Agustus 2015
©daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;