Jumat, 30 Desember 2011

Mamuli: Sebuah Simbol Reproduksi dalam Identitas Kebudayaan Lokal

Tak banyak yang mengenal keberadaan mamuli, termasuk penduduk Nusa Tenggara Timur sendiri. Kita lebih banyak mengenal simbol kebudayaan lokal yang telah populer dibandingkan dengan beberapa kebudayaan yang belum terangkat dalam pusaran pengenalan kebudayaan daerah. Penduduk Nusa Tenggara Timur boleh berbangga dengan dikenal luasnya produk kebudayaan lokal seperti sasando, tii langga dan kain tenun daerah. Namun ada serpihan kebudayaan lain yang belum diulas, salahsatunya adalah mamuli. 


Ornamen telinga dari abad ke-19 yang berasal dari Kecamatan Kanatangu Kabupaten Sumba Timur. Terbuat dari emas dengan ukuran 33/4 inci (9,5 cm).
photo: http://www.metmuseum.org/toah/works-of-art/1990.335.4

  
Mamuli adalah perhiasaan khas dari Pulau Sumba yang berbentuk anting-anting telinga yang ukurannya agak besar dengan tambahan hiasan ornamen pelengkap. Selama ini kita telah mengenal perhiasan dari Nusa Tenggara Timur seperti pena bola (tusuk konde), bula molik (hiasan kepala berbentuk bulan sabit), gelang, giring-giring, anting-anting, kalung habas, kalung muti sala dan cincin. Sebagaimana perhiasan adalah salah satu bentuk peradaban manusia maka mamuli diyakini sebagai lambang jati diri sebagai perhiasan yang digunakan oleh masyarakat Sumba. Bentuk dasar Perhiasan mamuli menyerupai bentuk rahim atau kelamin perempuan, sebagai simbol kewanitaan dan perlambangan kesuburan, yang tentunya dimaksudkan menghormati kedudukan perempuan.

Ada pertanda bagi para perempuan Sumba yang menggunakan mamuli sebagai anting di sebelah kanan, yang berarti belum atau tidak menikah. Tidak hanya digunakan oleh perempuan, mamuli juga digunakan oleh laki-laki sebagai bentuk penghormatan yang digunakan pada saat menari dan pergelaran upacara-upacara adat. Walaupun mamuli sebagai perlambagan perempuan (feminim), namun dianggap mengandung nilai maskulinitas berdasarkan karakteristik sekunder dari ornamen yang ada. Seperti pada gambar berikut memperlihatkan oranamen tambahan prajurit membawa tombak dan perisai (maskulin) sebagai konsep perlindungan dan saling melengkapi, perlu juga diketahui bahwa logam emas bagi masyarakat adat Sumba merupakan simbolisme laki-laki.

photo: http://cs.nga.gov.au/Detail-LRG.cfm?View=LRG&IRN=34761

Saat ini mamuli jarang lagi digunakan sebagai perhiasan telinga, dahulunya digunakan sebagai anting-anting dengan cara memperbesar lubang pada telinga untuk disematkan anting-anting mamuli. Namun kini telah dimodifikasi dengan kaitan untuk disematkan tanpa memperbesar lubang pada telinga. Selain dijadikan anting-anting, fungsi mamuli juga bertambah karena ukurannya yang besar digunakan sebagai kalung liontin (pendant) yang biasa dipakai dalam pergelaran tarian adat. Mamuli juga dapat dilekatkan pada pakaian sebagai bros.

Perhiasaan berbentuk Omega (Ω) ini terbuat dari emas yang bahan dasarnya berasal dari logam emas yang di berikan Belanda kepada keluarga dari raja-raja yang bersekutu dengan Belanda. Sebelumnya kedudukan logam emas sangat sentral dalam kehidupan Merapu (agama asli Pulau Sumba). Dalam kepercayaan setempat logam mulia berasal dari langit. Matahari terbuat dari emas dan bulan bintang terbuat dari perak. Kemudian sebagian emas dari matahari jatuh kebumi saat matahari terbenam dan juga perak jatuh ke bumi melalui bintang jatuh (meteorit). Baik logam emas dan perak dijadikan sebagai kekayaan dari kemurahan Tuhan yang disimpan menjadi relik suci oleh klan-klan di Sumba.

Secara adat mamuli dijadikan sebagai mas kawin, digunakan dalam ritual adat, menjadi bekal kubur selain perhiasan lainnya dan juga bagi keluarga bangsawan, mamuli merupakan salah satu benda pusaka yang disimpan secara khusus karena memliki pertalian dengan para luluhur. Selain itu bentuk mamuli banyak ditemukan dalam motif kain tenun Sumba. 


Salah satu bentuk atau motif mamuli pada kain tenun Sumba
photo: http://www.itanusashop.com/img/p/24-83-thickbox.jpg

Bentuk ornamen dari perhiasan ini mendapat sentuhan dari pengrajin emas yang berasal dari Pulau Sabu. Selain itu juga ada Orang Ndao yang berasal dari Rote, telah lama dikenal sebagai pengrajin emas, mereka datang ke Pulau Sumba untuk menawarkan jasanya. Penduduk hanya menyediakan emas, maka bahan tersebut akan dibentuk menjadi mamuli dengan kreasi ornamen yang diinginkan.

Sekarang bagaimana identitas reproduksi dalam kebudayaan daerah lainnya?. Salah satu di nusantara kita dapat melihatnya di Papua Barat. Di sana kita dapat menyaksikan para ibu-ibu menggunakan tas rajutan yang biasanya dibawa dengan disangkutkan di kepala (head-carrying-bag), dan mereka menyebutnya noken. Kerajinan tangan khas orang Papua ini terbuat atau dirajut dari kulit kayu pohon Manduam, pohon Nawa atau dari anggrek hutan. Noken digunakan untuk membawa hasil bumi, ternak kecil, barang belanjaan atau untuk mengendong bayi, bahkan jika bawaan banyak perempuan Papua dapat menggunakan lebih dari satu noken yang disusun tumpuk dibelakang punggung dan disangkutkan di kepala. Noken bagi masyarakat setempat dilambangkan sebagai sumber kesuburan kandungan seorang perempuan dan juga disimbolkan sebagai kehidupan yang baik dan perdamaian.

photo: http://lh3.ggpht.com/


Berbeda dengan mamuli yang dapat digunakan oleh perempuan dan laki-laki karena mamuli memiliki unsur keduanya, maka noken hanya diperbolehkan bagi perempuan Papua yang membuatnya. Perempuan Papua yang belum bisa menjalin noken, dianggap belum dewasa dan belum layak berumah tangga. Noken telah dimasukkan sebagai nominasi dalam Daftar yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak (Urgent Safeguarding of Intangible Cultural Heritage) di bawah UNESCO, dengan alasan bahwa noken akan menghilang karena semakin sedikit orang yang membuatnya. Nah bagaimana dengan mamuli sebagai sebuah kekayaan daerah Sumba, yang seharusnya perlu didaftarkan sebagai sebuah culture heritage bangsa.

Sebenarnya masih banyak simbol reproduksi yang ditemukan dalam budaya Nusa Tenggara Timur. Jika kita telisik lebih jauh bentuk rumah tradisional seperti rumah bulat (ume kbubu) yang berada di Timor bagian tengah dan rumah gendang yang berada di Manggarai raya, maka kita akan menemukan sebuah intepretasi. Walaupun keduanya memiliki bentuk yang agak berbeda yakni ume kbubu berbentuk bulat sedangkan rumah gendang agak berbentuk kerucut, namun memiliki kesamaan struktur bangunan yang terbuat dari daun ilalang dan ijuk yang disusun dari dari atap hingga menerus ke lantai. Rumah sejak awal terbentuknya ribuan tahun yang lalu, digunakan untuk menyimpan makanan, sebagai tempat perlindungan dan reproduksi keluarga dan tentunya kedua rumah tradisional tersebut juga menyerupai bentuk rumah masa prasejarah. Bentuk kedua rumah ini juga selaras dengan pemahaman dalam mitologi yunani bahwa rumah merupakan tempat reproduksi, dari tempat aman untuk mengandung, melahirkan dan membesarkan anak. Hal ini juga digambarkan dalam simbol rumah menurut mitologi Yunani berbentuk mangkuk terbalik yang merupakan bentuk payudara dewi Aphrodite sang dewi kesuburan. Jika demikian maka bentuk kedua rumah ini merupakan simbol penghormatan adat terhadap kesuburan yang akan mempengaruhi hasil panen.


rumah bulat (ume kbubu
photo: http://www.flickr.com/photos/7566311@N03/2655333210/


rumah gendang
photo: http://img546.imageshack.us/img546/7690/tumblrl4bpuuzc941qa0jqj.jpg

Itulah beberapa kebudayaan daerah yang menjadi bagian dari penghormatan terhadap simbol identitas reproduksi. Tak salah juga kita mengetahui sebuah kebudayaan negara lain yang cukup mencenggangkan yaitu sebuah ritual di Kuil Tagata Jinja yang terletak di Kota Komaki sebelah Utara Nagoya, Jepang. Setiap tahunnya di tempat tersebut digelar perayaan yang lebih dikenal dengan nama “hounen matsuri” atau Japanese pe*** festival. Kegiatan ini merupakan tradisi ritual yang telah berlangsung sejak jaman nenek moyang mereka, untuk merayakan keberkahan atas kesuburan manusia (fertilitas) dengan hasil panen yang melimpah dan kemakmuran masyarakatnya. 

Di olah dari berbagai sumber oleh penulis

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;