Sabtu, 01 Agustus 2015

Dari Agustus ke Agustus



Dari tahun ke tahun, dari Agustus ke Agustus. Berlahan-lahan disekeliling kita berganti. Pelan atau cepat. Agustus adalah bulan ke delapan dalam tahun kelender Gregorian. Agustus diambil dari nama Kaisar Romawi Octovianus Augustus. Sebelumnya Bulan ini bernama Sextilis yang berarti bulan ke enam dalam sepuluh bulan kelender asli Bangsa Romawi yang dimulai dari Maret. Kemudian Bulan Januari dan Februari ditambahkan sebelum Bulan Maret dalam tahun tersebut, sehingga bulan ke enam (sextilis) berubah menjadi bulan ke delapan (Agustus).

Dalam memori kolektif Bangsa Indonesia bulan ini adalah bulan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Bulan yang selalu berhubungan dengan bendera-bendera, umbul-umbul, pawai, kendaraan hias, lomba-lomba, hiasan kelas, lagu-lagu, film perjuangan, upacara bendera, pameran pembangunan, gapura kampung 17-an dan berbagai pernak-pernik sosial budaya lainnya yang membedakan bulan ini dengan bulan lainnya. Bulan di mana sang merah putih berkibar di mana-mana, gedung-gedung pemerintahan di cat dengan dana yang sudah disiapkan jauh hari. Trotoar dan marka jalan di cat hitam putih. Kendaraan roda dua, roda empat dan angkutan memakai hiasan bendera kecil. Serta calon paskibraka dengan kesibukannya menjelang persiapan upacara bendera.

Semua bentuk respek warga negara kepada eksistensi negara, hampir sama dari tahun ke tahun. Namun ada yang selalu berubah, disadari atau tanpa disadari. Jalan-jalan yang di pasang umbul-umbul itu tidak seperti jalan-jalan di dekade yang lalu lagi, guru-guru yang menemani kala upacara bendera di sekolahan sudah tiada, teman-teman seperjuangan dalam mengikuti lomba tujuh belasan agustusan sudah berkelana entah kemana, rumah-rumah tetangga tempat dahulu bendera dinaikan kini telah berganti penghuni, penjual bendera di pinggir jalan bukan orang yang sama lagi, inspektur upacara juga sudah berganti, kini tak ada lagi ruang kelas untuk dihiasi karena masa itu sudah terlewati. 

Kita telah mendewasa karena waktu. Orang-orang berubah menjadi tua, lingkungan berubah, teman-teman silih berganti, seragam berubah corak, gedung-gedung dirobohkan dan dibangun kembali, pepohonan telah mati atau ditebang dan semuanya tak sama lagi. Agustus ke agustus sama rupanya dengan tahun ke tahun meninggalkan cerita bersisa. Hilang dengan berlalunya waktu dan terlupakan jika tak ada yang mengingatnya kembali atau menuliskannya. (*)

Kupang, 01 Agustus 2015
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;