Minggu, 26 Agustus 2012

Arena Pameran dan Promosi Fatululi



Suasana Arena Pameran Fatululi

Arena Pameran dan Promosi Fatululi telah menjadi salah satu ikon Kota Kupang. Disinilah tempat penyelenggaraan event tahunan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tahunnya. Awalnya pembangunan arena pameran ini dimaksudkan untuk secara reguler mempromosikan komoditas masyarakat Nusa Tenggara Timur. Namun dalam perjalanannya arena ini hanya digunakan secara rutin pada parayaan HUT Kemerdekaan RI setiap tahunnya, Selebihnya bangunan stand ini kosong tanpa aktivitas formal. Dampaknya bangunan tidak terawat dan setiap tahunnya diadakan perbaikan untuk menunjang pelaksanaan pameran. Menurut informasi deretan bangunan ini telah dijadikan sebagai tempat tinggal sekitar 40 KK pendatang yang tidak memiliki rumah. Di saat penyelenggaran pameran mereka membangun tempat tinggal darurat hingga pergelaran berakhir dan kembali menempati bangunan stand. 


Salah satu peserta: Stand Bappeda NTT

Pahlawan NTT - Stand Dinas Sosial NTT

Kerajinan Tangan Sasando – Disperindag NTT

Kain Motif Daerah – Disperindag NTT

Busana Motif Daerah – Disperindag NTT

Busana Motif Daerah – Disperindag NTT

Arena pameran ini memiliki luas sekitar 800 meter persegi, dikelilingi stand permanen yang ditengahnya terdapat lapangan dengan panggung utama. Dalam setiap penyelenggaran terdapat kurang lebih 320 stand yang terdiri dari Instansi Pemerintah Provinsi, Pemkab/Pemkot, BUMN, BUMD, swasta hingga stand pelaku ekonomi masyarakat. Acara juga dimeriahkan dengan berbagai lomba diantaranya lomba tarian adat antar etnis. Penyelenggaran pameran berlangsung rutin setiap tahunnya dalam waktu dua pekan. 

Pameran pembangunan setiap tahun ini bertujuan mempromosikan potensi keunggulan daerah dengan menyajikan hasil produksi dan hasil karya masyarakat Nusa Tenggara Timur serta menyajikan informasi pembangunan. Selain itu beberapa stand pemerintah lebih memperlihatkan wujud kepedulian terhadap masyarakat dengan menampilkan produk kerajinan hasil karya warga binaan, selain produk dan jasa layanan lainnya. Berdasarkan informasi, uang yang beredar sepanjang pelaksanaan pameran sebesar sembilan milyar, hasil aktivitas ekonomi masyarakat yang diuntungkan dari penyelenggaraan kegiatan ini. 


Stand POLDA NTT – Stand Favorit disetiap penyelanggaraan

Salah satu yang dipamerkan – Stand POLDA NTT

Aktivitas Ekonomi Masyarakat

Pengalaman mengunjungi pameran pembangunan ini dari tahun ke tahun dan juga di tingkat kabupaten, mengingatkan saya di beberapa tahun yang lalu sempat mengunjungi Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau lebih sering disebut dengan Jakarta Fair, sebuah event berskala nasional yang paling meriah seantero negeri. Mungkin pengelolaannya secara meriah perlu diaplikasikan pada tingkat daerah. Sedikit mengurai kebiasaan penyelenggaran kegiatan ini dari aspek sejarah. Sebagai contoh adalah Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) yang dirayakan pada HUT Kota Jakarta, sebelumnya merupakan tradisi dari penyelenggaraan pasar malam setiap tahunnya di jaman kolonial. Pada waktu itu pasar malam diadakan dalam rangka menyambut HUT Ratu Wilhelmina yang jatuh pada 31 Agustus yang selalu dirayakan hingga tahun 50-an. Kemudian sejak itu Pekan Raya diadakan untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan RI pada 17 Agustus, yang tidak diselenggarakan secara rutin setiap tahunnya. Lalu di tahun 70-an, Pekan Raya digelar untuk menyambut HUT Kota Jakarta dan lebih semarak setelah dipindahkan secara permanen permulaan tahun 80-an di bekas Lapangan Terbang Kemayoran. 


Suasana Jakarta Fair (http://www.kabar24.com)

Tidak jauh berbeda dengan kisah di atas, di Kota Kupang pasar malam juga telah digelar di jaman kolonial. Kemudian hingga kini perayaan pasar malam itu menjadi pergelaran menyambut HUT Kemerdekaan RI pada Bulan Agustus setiap tahunnya. Namun terlalu jauh membandingkan dua event tersebut antara Jakarta Fair dengan event lokal provinsi ini, baik dalam semarak penyelenggaraan, modern venue, perputaran kapital hingga waktu, Jakarta Fair misalnya berlangsung selama sebulan penuh dengan didukung oleh sekitar 1.300 stand. 

Arena Pameran Fatululi dibangun tahun 1995 atas gagasan Gubernur Nusa Tenggara Timur kala itu, Herman Musakabe. Pembangunan di Kelurahan Fatululi ini menjadi lokasi permanen sekaligus representatif di Kota Kupang bagi penyelenggaraan event tingkat provinsi ini. Sebelum pembangunan arena ini, penyelenggaran pameran masih berpindah-pindah lokasi seperti pernah digelar di taman kota Kampong Solor (kini telah menjadi barisan ruko), Stadion Mardeka dan Jalan Palapa Kelurahan Oebobo.


Gapura Pasar Malam di Kota Kupang tahun 1938 (repro dok. Andre Z. Soh)

Ada persamaan yang unik dalam kedua event tersebut, jika di Jakarta Fair terkenal dengan makanan asli Betawi kerak telor, maka di Arena Pameran Fatululi terkenal dengan jagung bakarnya. Tetapi tidak terlepas dari semua itu, mungkinkah kelak di Kota Kupang ada event semacam Jakarta Fair atau yang kemudian disebut dengan Kupang Fair dalam rangka memeriah HUT Kota Kupang, entahlah! (*)
Kupang, 26 Agustus 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;