Senin, 14 September 2015

Imaji Sebuah Lukisan



Sejenak saya lama mengamati sebuah lukisan di selasar ruang Pameran Seni Rupa Temu Karya Taman Budaya Nasional yang berlangsung di Kupang 9-12 September 2015 yang lalu dan mengambil tema Untaian Sotis. Satu di antara sekian lukisan di pameran itu yang memperlihatkan daya pikat esensi non visual dari sebuah lukisan dengan media 100cm x 100cm acrylic painting karya seniman lokal Geradus Louis Fori berjudul Hawa.

Lukisan dalam medium bujur sangkar ini membawa saya pada pemahaman yang multi persepsi dan sedikit paradoks. Bagi orang awam ini lukisan yang biasa saja tak ada arti dan sekedar permainan warna merah, putih dan hitam. Bagi anak-anak pandangan mereka hanyalah sebuah pot bunga, wadah atau water closet sesuai tingkat common sense mereka. Bagi orang dewasa mereka cukup mengumam saja dan bagi kaum puritan menilai ini sebagai sebuah pornografi,  sedangkan bagi penikmat seni, lukisan ini menyimpan segudang imajinasi.

Dari judulnya saja, Hawa kita sudah bisa memahami gambaran feminim dari lukisan tersebut, lukisan bagian bawah tubuh perempuan yang sensual diapit sepasang payudara surealis, serta coretan kata-kata “woman” membentuk mosaik pelindung vagina dan tak lupa dipuncaknya dipaksakan clue siluet wajah perempuan. Begitu rapinya sang pelukis menyampaikan makna tersirat dari sapuan kuas, membawa kita pada pemahaman non linear dari artifisial dan substantif yang enigmatik.

Lukisan ini menyajikan aliran seni lukis Imperesionalisme, merupakan aliran yang menggambarkan sesuatu secara impresif, maksudnya tidak menampakan sesuatu kejelasan tetapi masih ada pemaknaannya. Sehingga membuka ruang diskursus dari seksualitas hingga taboo, dari gender hingga feminisme, dari reproduksi hingga lambang anarki. Lukisan yang sepertinya menjadi suara terhadap sistem dan hegemoni patriakhi, yang mendobrak netralitas yang pincang dalam idiologi, sosial dan ekonomi  yang membuat perempuan didominasi dan di subordinansi, yang juga tergambarkan secara gamblang dalam lukisan ini. (*)

Kupang, 14 September 2015
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;