Jumat, 23 Desember 2011

Rusa Timor (Cervus timorensis) di Timor?

Identifikasi tentang rusa timor (Cervus timorensis) pertama kali dipublikasikan tahun 1822 oleh seorang ahli zoologi dan anatomi asal Perancis bernama Henri Blainville. Sejauh ini tidak diperoleh data historis mengenai penemuan mamalia dengan genus cervus yang berasal dari species cervus timorensis ini. Namun berdasarkan namanya diyakinkan bahwa spesies rusa ini ditemukan di daratan Timor, sebagaimana tradisi pemberian nama oleh para ahli dan peneliti Eropa, selalu menggunakan bahasa Latin dengan penamaan setempat. 

photo: http://www.fobi.web.id

Disayangkan banyak yang beranggapan bahwa rusa timor berasal dari Jawa, Bali atau NTB dibandingkan dengan Pulau Timor sendiri. Bahkan di NTB rusa timor dijadikan fauna identitas Provinsi Nusa Tenggara Barat yang tertera dalam logo provinsi. Selain itu rusa timor juga sering disebut rusa Jawa dan dengan beberapa sinonim diantaranya Cervus celebensis (Rorig, 1896), Cervus hippelaphus (G.Q. Cuvier, 1825), Cervus lepidus (Sundevall, 1846), Cervus moluccensis (Quoy & Gaimard, 1830), Cervus peronii (Cuvier, 1825), Cervus russa (Muller & Schlegel, 1845), tetapi Blainville lah yang lebih awal menamai jenis rusa ini Cervus timorensis.

Pada akhirnya dengan mengasumsikan rusa timor memiliki habitat awal di Pulau Timor maka dibuatkan lagi penamaan sub species dari jenis Cervus timorensis yaitu Cervus timorensis timorensis (Martens, 1936), walau agak lucu dengan penamaan double atau kuadrat. Mamalia ini diidentifikasi berada di Pulau Timor, Pulau Rote, Pulau Semau, Pulau Kambing dan Pulau Alor. Sebagai catatan di Pulau Kambing yang terletak di antara Pulau Timor dan Pulau Semau, pernah terdapat kawanan rusa namun kemudian semuanya mati kurus karena sumber air tawar mulai tercemar dengan zat belerang. Sedangkan untuk Pulau Timor, konon kabarnya di tahun 80-an rusa dengan mudah ditemukan di padang savana Pulau Timor, seperti sering terlihat juga di hutan-hutan pinggiran Kota Kupang yang saat ini merupakan wilayah Kelurahan Fatukoa dan Naioni. Kini rusa timor di Pulau Timor sangat sulit ditemukan bahkan mungkin nihil.

Rusa timor merupakan salah satu jenis rusa asli Indonesia selain rusa bawean, rusa sambar dan rusa menjangan. Rusa timor merupakan penghuni tertua Pulau Timor sehingga Pulau Timor merupakan habitat awal rusa timor yang sepatutnya dapat dilestarikan kembali di Pulau ini, mengingat juga bahwa Kanguru diperkirakan pernah ada Pulau Timor namun telah punah total. Kemudian juga bahwa rusa timor dapat menyebar dan berkembang biak di tempat yang baru karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik, mulai dari pulau-pulau sekitar seperti Rote Ndao, Sumba, Flores, Alor dan kemudian hampir ke seluruh nusantara bahkan hingga ke Australia dan Selandia Baru. Penyebaran rusa timor sejak abad ke-18, dilakukan oleh orang Belanda yang memang gemar mengoleksi hewan liar yang kemudian juga diperdagangkan antar pulau oleh para pelaut.

Di abad ke-17 hingga ke-19, orang timor telah berburu rusa timor namun ada wilayah yang di namakan hutan larangan karena merupakan milik raja untuk berburu. Saat itu dipergunakan senapan kuno berupa senapan tumbuk, yaitu senapan berlaras panjang yang diberi mesiu dan dipadatkan di dalam (ditumbuk), dengan pelor terbuat dari timah atau besi dan hanya untuk sekali tembak dan diulangi lagi dari awal memasukkan mesiu. Diceritakan dalam sekali perburuan bisa menghasilkan puluhan rusa yang kemudian dikuliti dan dagingnya dibagi-bagikan untuk dibuatkan dendeng.

Di tahun 70-an harga dendeng daging rusa timor di pedalaman timor seharga Rp. 750,- per kilo gram, bandingkan dengan harga emas di tahun 70-an yang adalah Rp. 480,- per gram. kemudian di tahun 80-an mulai banyak yang menjual daging rusa di sepanjang jalan trans Timor, selain itu mereka juga menjual tanduk rusa. Entah kenapa saat itu juga banyak rusa timor yang nyasar ke perkampungan masyarakat, yang tentunya kemudian ditangkap dijadikan dendeng dan dijual di pasar atau pinggir jalan.


 Cervus timorensis pernah muncul dalam uang pecahan Rp. 500,- kertas emisi tahun 1988
photo crop: http://www.koleksiuang.com/




Rusa timor  termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 dan sejak tahun 2008 rusa timor dimasukkan dalam status konservasi rentan (vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Padahal di beberapa dekade sebelumnya bahkan hingga kini rusa timor telah diburu dan dimanfaatkan sebagai sumber daging hewani, kulit dijadikan tikar atau alas duduk dan tanduknya dijadikan barang pajangan di ruang tamu. 

Saat ini ada wacana prospek pengembangan penangkaran rusa timor (Cervus timorensis), bahkan ada yang berkeinginan agar hasil penangkaran dijadikan sebagai stok perburuan. Hal ini sah-sah saja sebagai sebuah usaha konservasi dan sekaligus komersialisasi. Tentu ini dapat menjadi salah satu hal yang perlu dipikirkan oleh perorangan, swasta, organisasi non pemerintah dan khususnya Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai sebuah provinsi yang lagi gencar dalam pengembangan peternakan menyongsong swasembada daging nasional. Walaupun memang tidak mudah untuk melakukan sebuah loncatan pemikiran, bahkan dengan rujukan Pulau Timor dan sekitarnya adalah habitat awal rusa Timor. Karena beberapa aspek perlu dipikirkan kembali dalam kaitan dengan kondisi habitat yang mendukung keberlanjutan rusa timor seperti ketersediaan pakan (food), pelindung (cover), air (water), ruang (space). Begitu juga bahwa rusa timor merupakan ternak spesifik, dibandingkan dengan ternak lainnya.

Sementara itu produk daging rusa timor memiliki keunggulan diantaranya memiliki rasa khas, berkhasiat, daging berserat halus, dan terutama kandungan lemak dan kolesterol yang lebih rendah daripada daging sapi, sehingga potensial dapat mendukung kebutuhan daging nasional. Sedangkan tanduknya dapat dimanfaatkan sebagai racikan obat-obatan. Selain itu kulit rusa banyak dimanfaatkan untuk bahan kerajinan tangan karena memiliki kualitas yang lebih baik dari kulit hewan ternak lainnya. Dengan melihat potensi tersebut, maka ternak rusa timor bisa memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan mempunyai prospek yang menarik untuk dapat dikembangkan sebagai sebuah komoditi unggulan baru di wilayah Nusa Tenggara Timur. Prospek pengembangan dapat diarahkan ke agribisnis, agroindustri dan agrowisata dengan potensi pasar dari di dalam dan luar negeri.

Berharap juga di suatu saat nanti, kita dapat melihat kawanan rusa timor berkumpul dan berlarian di Cagar Alam Gunung Mutis. Semoga!

Di olah dari berbagai sumber oleh penulis
Kupang, 23 Desember 2011
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;