Senin, 07 September 2015

21 profesi yang telah hilang dari Kota Kupang



Kota Kupang, sama halnya dengan berbagai kota di nusantara, berkembang dengan berbagai aktivitas ekonominya. Berbagai macam profesi atau pekerjaan hadir untuk mengadu nasib, untuk bisa menikmati hasil dari pertumbuhan ekonomi kota. Dari penjual asongan hingga pedagang keliling, dari warung makanan hingga kios sembako. Pekerjaan non formal ini menyerap banyak tenga kerja dan merupakan usaha dari kelangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Kini beberapa diantaranya berangsur-angsur menepi, bahkan menghilang dan tak muncul lagi untuk selama-lamamnya. Telah terjadi pergeseran prilaku ekonomi yang membuat profesi mereka tidak dibutuhkan lagi. Catatan ini untuk mengenang keberadaan mereka di masa lalu di sekitaran tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an di Kota Kupang. Mereka diantaranya:


1)        Fotografer keliling

                                                                                Photo: plimbi.com 

Sebelum fotografi menjadi bidang usaha yang menjanjikan di masa kini. Di tahun 90-an sudah ada fotografer keliling di Kota Kupang. Mereka selalu berpenampilan rapi dengan menyandang sebuah kamera analog. Ketika itu jasa seorang fotografer sangat penting untuk mengabadikan sesuatu yang kelak dapat dijadikan sebagai foto kenangan. Misterinya kita tak akan pernah tahu hasil jepretan, hingga negatif film dicuci dan dicetak, dibutuhkan waktu untuk menunggu hasil jepretan menjadi foto. Para fotografer keliling ini masuk keluar kampung di kota kupang untuk mencari orang-orang yang ingin berfoto. Setelah melakukan pekerjaannya berapa waktu kemudian Ia mendatangi kembali rumah orang yang berfoto untuk menyerahkan hasil foto dengan bingkainya, dan sekaligus menerima upah jasa. Kini tak ada lagi fotografer keliling, rata-rata profesi fotografer ini memiliki studio sendiri dan melayani foto outdoor jika ada pemesanan.


2)        Tukang sewa gimbot (game watch)

                                                                                                 Photo: bacan-gemstne.com

Game watch adalah permainan anak-anak berupa gadget yang dimainkan dengan dua jempol, menjadi mainan yang populer di tahun 90-an. Biasanya mereka mangkal di sekolahan. Unit mainan game watch yang disediakan cukup banyak sehingga banyak pilihan untuk sewakan, ada permainan monyet dengan pisangnya, balapan hingga pesawat tempur. Berdasarkan uang sewa yang diberikan dan entah bagaimana cara perhitungan waktunya, ketika diminta di saat itulah sewa permainan digital ini selesai. Satu pertanyaan yang tersisa adalah mengapa setiap game watch dipasangkan kabel listrik yang terlepas, padahal game watch menggunakan baterai jam dan batrai model AA, mungkin sekedar akal-akalan tukang sewa agar game watch miliknya mudah diidentifikasi dan siswa yang minjam tidak mudah melarikannya.


3)        Penjual harum manis


                         Photo: akumassa.org & indonesianculinary.tumblr.com

Bagi anak-anak generasi 90-an di Kota Kupang, akan hapal betul alunan dendang dari gendang kaleng penjual harum manis ini. Harum manis dibawa berjalan keliling masuk keluar kampung dalam kaleng besar yang digantungkan di pinggang. Kaleng berbentuk tas tersebut memiliki saku-saku keleng tempat menyimpan potongan kertas koran 4 x 4 cm sebagai tempat alas harum manis, dari saku kaleng itulah sumber bunyi gendang berasal. Memakan harum manis ibarat memakan potongan-potongan rambut yang begitu manisnya, biasanya berwarna kuning dan pink. Di daerah lain penjual harum manis menggunakan alat gesek serupa biola untuk memasarkan dagangannya secara berkeliling.


4)        Penukar uang receh di pinggir jalan

Uang receh, uang kecil atau uang nekel dalam bahasa Kupang pernah menjadi komoditas di Kota Kupang. Ongkos bemo (angkutan umum) saat itu masih di bawah Rp. 500,- perak, sehingga dibutuhkan uang receh sebagai uang kembaliannya. Hal inilah yang dijadikan peluang orang untuk menawarkan jasa penukaran uang yang sangat dibutuhkan konjak bemo (kondektur). Layaknya sistem money changer yang dikenal saat ini, mereka biasanya menggelar penukaran uang di pinggir jalanan utama berbekal sebuah meja berukuran sedang. Perhitungannya uang Rp. 1.000,- ditukar dengan uang receh sebanyak Rp. 800,-. Maraknya penukaran uang receh saat itu, hingga hampir di semua sudut jalan tersedia jasa penukaran uang koin ini.


5)        Penjual es lilin

                                                                               Photo: suara.com

Sebagai jajanan untuk anak sekolahan, es lilin atau juga disebut es goyang begitu diminati bukan karena makan es sambil bergoyang tetapi cara pembuatannya yang harus digoyang-goyangkan. Es goyang dibuat dalam kereta dorong berisi balok-balok es sebagai bahan pendingin. Bahan baku cair pembuatan es goyang dituangkan dalam cetakan-cetakan panjang lalu dipasangkan lidi bambu, kemudian kereta digoyang-goyangkan sehingga cairan es mengeras lalu dilepaskan dari cetakan.


6)        Penjual es potong

                                                                         Photo: 3teria.com

Hampir sama dengan penjual es lilin, penjual es potong menjajakan jualannya dengan menggunakan kereta dorong. Sesuai namanya es ini berbentuk balok atau bulat panjang yang dipotong-potong berdasarkan pesanan dan ditusuk lidi sebagai pegangan. Uniknya es ini dibungkus dengan lapisan kertas kado.



7)        Tukang obat

                                                                Photo: dgi-indonesia.com

Di keramaian Jalan Siliwangi Kota Kupang, dahulu terdapat banyak sekali penjual obat. Mereka beroperasi secara berkelompok dan juga secara individu. Obat yang diperdagangkan bukanlah obat yang mudah ditemui di apotek, tetapi obat yang jarang ditemukan, ada yang pabrikan, usaha rumahan, atau juga tradisonal seperti akar-akaran. Mulai dari obat kulit hingga penyakit dalam dan biasanya selebaran obat dibagikan terlebih dahulu. Kalo menjual secara berkelompok mereka sering memainkan berbagai atraksi hingga sulap, seperti membebaskan diri dari gembok rantai, menghilang dari peti kayu yang dikunci, memotong tangan namun tidak putus hingga menghilangkan kemaluan anak laki-laki. Dalam setiap kesempatan mengawali atraksi mereka mengucapkan permohonan kepada para penonton yang mempunyai ilmu untuk menyimpan ilmu mereka dan tak menganggu jalannya atraksi yang mereka lakukan, entahlah!. Kalau menjual obat sendirian, Ia akan melakukan atraksi dengan menunjukan ilmu kebal serta ketangkasan mendirikan beberapa susunan tongkat kayu di atas bibir. Karena cara mereka menyampaikan keunggulan obat yang dijual secara berapi-api, maka munculah ungkapan tukang jual obat yang dilekatkan bagi mereka yang mempromosikan ide, gagasan, pilihan hingga barang secara berlebih-lebihan.


8)        Tukang tipu di Jalan Siliwangi

Profesi ini pernah hadir di Kota Kupang tahun 90-an. Modus operandi tukang tipu ini adalah bermain secara berkelompok. Kelompok ini terdapat beberapa suku yang bisa membantu mendapatkan korban sesukunya, seolah-olah mereka juga turut bermain. Permainan berupa tebak-tebakan susunan tiga kartu dari bungkusan rokok yang dibalik, dipindah-pindahkan dengan mengandalkan kecepatan mata. Awal-awalnya korban diberikan beberapa kemenangan, selanjutnya kosentrasi korban sengaja diganggu dan mengalami kekalahan uang dengan nominal uang yang lumayan besar. Seketika itu permainan berhenti dan kelompok penipu membubarkan diri seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lalu salah seorang dari kelompok penipu akan terus mengikuti korban, untuk memastikan korban pulang ke rumah dan tidak ke kantor polisi!.


9)        Tukang lotre mainan

Umumnya tukang lotre mainan mangkal di sekolahan. Walau kesannya permainan ini mengajarkan judi secara dini, namun herannya tukang lotre ini banyak disukai anak-anak. Dengan menekan tombol yang dialiri arus DC dari baterai, gambaran dinamo akan berputar dan berhenti ketika kita melepas tombol. Tepat diperhentian angka mana jarum lotre berhenti, maka disitulah kita akan mendapatkan hadiah dapat berupa mainan atau hanya kosong yang tak mendapatkan apa-apa. Selain memakai dinamo, juga terdapat model lotre biasa yang menggunakan bungkusan gula-gula yang berderet, dan membuka isinya untuk mengetahui mendapat hadiah apa sesuai nomor yang tertulis, biasa disebut dengan permainan tariklot, khusus yang terakhir ini masih sering dijumpai.


10)     Penjual kenik (kepiting) keliling

Dahulu penjual kepiting membawa barang dagangannya dengan mengunakan lalepak, yaitu bilah bambu yang digunakan sebagai pikulan dibahu untuk membawa barang yang dikaitkan di kedua ujungnya. Jenis kepiting yang dijual adalah kepiting bakau. Uniknya setiap kepiting dibungkus dengan anyaman menggunakan daun kelapa muda, dibuat seperti dompet yang penutupnya dijahit dengan tali dari daun. Kepiting yang ada dalam bungkusan diberi lumpur untuk membuatnya tetap berair. Cara demikian mungkin untuk membuat kepiting dapat bertahan hidup lebih lama, tetapi kemudian cara membungkus seperti ini tidaklah praktis. Kadang karena terlalu lama kepiting berada dalam bungkusan daun, setelah dimasak daging capitnya terlihat menyusut. Kini kepiting tidak dibungkus lagi dengan anyaman daun kelapa yang masih muda tetapi hanya diikat biasa, untuk melindungi agar capitnya tidak melukai tangan kita.


11)     Penjual kerang keliling

Dengan berbekal kerang dalam ember, penjual kerang keliling kampung. Kerang segar ini dijual dengan menggunakan takaran kaleng. Namun kini penjual kerang keliling sudah tidak terlihat lagi. Mungkin karena permintaan yang tinggi oleh berbagai rumah makan dan restoran di Kupang, sehingga pasokan untuk penjual kerang keliling tidak ada lagi.


12)     Tukang cap piring

Dahulu ketika pesta dan hajatan dilakukan di rumah-rumah, umumnya tenda, kursi, meja, alat dapur hingga peralatan makan minum dipinjam dari para tetangga. Untuk membedakan barang-barang pinjaman yang sejenis seperti kursi, piring, gelas dan sendok perlu ditandai agar tidak saling tertukar dengan kepunyaan tetangga. Sehingga profesi tukang cap piring dan sendok sangat dibutuhkan saat itu. Mereka datang masuk keluar kampung di Kota Kupang dengan pekik nyaring, cap piring!….. cap piring!..... cap piring!. Cara kerjanya adalah dengan memberikan tanda permanen untuk piring, gelas, sendok dan garpu. Tanda dapat berupa tulisan nama, stempel dan cap keras pada gagang sendok.


13)     Penjual garam keliling

Sebelum garam dijual dalam kemasan. Warga kota kupang biasanya membeli garam yang dijual keliling. Penjual garam menggunakan lalepak berkeliling kampung dan berjualan garam dengan menggunakan takaran kaleng, biasanya menggunakan kaleng blueband yang ukurannya besar dan sedang. Dahulunya garam tradisional di buat di sekitar Kampung Fatufeto dengan cara mengeringkan air laut dibawah sinar matahari dalam wadah puluhan bekas kerang kima.


14)     Tukang obral

Di bilangan Jalan Siliwangi, dahulunya ada tukang obral beberapa macam kebutuhan. Dengan berbekal sebuah tenda ukuran sedang dan corong toa, penjual bisa memancing perhatian banyak orang disekitaran pertokoan. Barang yang diobralkan berdasarkan penawaran, jadi jika ingin membeli sebuah kaos kaki, mununggu hingga kaos kaki tersebut ditawarkan dulu baru bisa membeli. Cara jualnya juga seperti lelang, dengan terus menurunkan harga jual sebuah barang sampai harga terendah. Jika sampai tak ada yang membeli, barang tersebut disimpan kembali. Penjual obral ini selalu dikerumuni banyak orang.


15)     Penjual celengan tanah liat keliling

                                                                    Photo: antarantb.com

Mereka yang berjualan celengan tanah liat adalah para pedagang yang berasal dari Pulau Jawa. Sambil mengenakan topi caping dan pikulan lebar yang dipenuhi dengan celengan ukuran kecil, sedang dan besar berkeliling kampung. Dengan memiliki celengan ini, kita akan merasa puas ketika isi sudah penuh dan siap dipecahkan baik dengan dibanting atau dipalu. Namun karena dasar celengan terbuat dari semen, celengan ini kadang bisa dipakai hingga beberapa kali, dengan tidak memecahkan secara langsung tetapi cukup dipecahkan bagian dasarnya saja. Celengan tersebut banyak dipilih karena sangat murah. Saat ini celengan tersebut sudah tergantikan dengan yang lebih ringan dan praktis seperti yang terbuat dari plastik dan kaleng.


16)     Penjual buku ketrampilan disekolahan

Suatu ketika jam pelajaran di sekolah terhenti sejenak, ada beberapa orang yang meminta waktu di guru yang sedang mengajar untuk mempromosikan buku di depan kelas. Karena datang berkelompok, mereka membagi diri di beberapa kelas yang ada. Buku yang dipromosikan adalah buku ketrampilan, yang berisi tentang barbagai cara pembuatan aneka kebutuhan rumah tangga dari ekstrak minuman, sabun cuci hingga shampo. Sebagai contoh mereka mempraktikan pembuatan sabun di depan kelas. Selain buku mereka juga menjual bahan-bahan pembuatan sabun tersebut, diharapkan siswa bisa mempraktikan sendirian di rumah dan sekaligus mendukung pelajaran ketrampilan di kelas. Itu peristiwa di tahun 90-an, namun jualan buku disekolahan hingga kini, sebenarnya masih ada yaitu pihak luar yang hanya datang menawarkan buku melalui daftar/katalog. Selain penjual buku di sekolahan, ada juga penjual buku keliling. Mereka membawa koper besar berisi buku-buku terutama buku bertema agama dan umum lainnya, yang sekarang tak terlihat lagi.


17)     Penjaga mesin ding dong

                                          Photo: kaskushootthreads.blogspot.com

Sebelum ada jasa penyewaan playstation, dahulunya permainan ding dong sangat di gemari. Permainan yang menggunakan layar tv dalam sebuah kotak besar, saat itu begitu menjamur. Setiap tempat permainan biasanya memiliki lebih dari tiga unit pilihan permainan. Permainan game yang dikendalikan oleh dua orang ini dapat berbagai macam tema game, ada yang berupa kerjasama atau duel. Setiap kali ingin main maka diperlukan uang koin Rp. 100, sehingga penjaga dindong sekaligus penukar coin untuk bermain. Permaianan berlangsung hingga gameover atau tergantung tingkat keahlian masing-masing pemain.


18)    Service kasur keliling

Tahun 90-an kasur kapuk (bolsak) begitu menjadi favorit. Penduduk kota kupang belum mengenal kasur busa (spon) dan kasur pegas (springbed). Para service kasur ini keliling masuk keluar kampung untuk mencari warga yang ingin memperbaiki kasurnya. Mereka membawa keliling bahan pembuatan kasur seperti kain pengganti kasur, alat jahit dan isian kapuk. Mereka akan mengubah kasur kapuk yang jelek menjadi baru di tempat. Kini sudah tak terlihat lagi.


19)     Konjak Perempuan

Dahulu di akhir tahun 90-an dan awal tahun 2000-an, Kota Kupang pernah dilayani transportasi bus kota menyerupai Bus Damri yang menghubungkan beberapa jalur penting di Kota Kupang. Yang berbeda adalah semua armada dikondekturi oleh perempuan. Mereka selalu berseragam putih, bercelana hitam, bertopi dan memakai tas pinggang berisi uang dan karcis bus kota. Armada bus ini parkir terpusat di Teddy’s Bar  Pantai Kota Kupang.


20)     Penjual mainan tradisional di sekolahan dan pasar

                                                                            Photo: kaskus.co.id

Mainan era 90-an adalah mainan yang berasal dari kreativitas, seperti mainan anak-anak berupa kereta burung yang bila didorong dapat mengepakkan sayap dan berbunyi, kapal tuk-tuk yang dimainkan dalam baskom berisi air dan digerakkan oleh uap dari pembakaran minyak goreng, mainan aneka bentuk dari lipatan kertas yang dapat dikembangkan, pistol kayu dengan peluru petasan kertas dan masih banyak lagi. Mas-mas (sebutan bagi para penjual) kini tidak lagi menjual barang yang sama!


21)     Penjual es mambo keliling

Kota Kupang terkenal sebagai kota yang panas, sebelum maraknya penjual ice cream dan minuman dingin aneka rasa dengan display case-nya. Di kupang banyak anak-anak penjaja es keliling. Biasanya mereka berada di terminal, halte hingga permukiman penduduk. Mereka membawa termos es berukuran sedang hingga besar yang berisi es mambo, es kacang ijo, es kue dan juga es buah mangga.


Demikian beberapa profesi yang telah hilang dari Kota Kupang. Kalaupun ada satu atau dua profesi ini yang masih digeluti, mungkin sebuah kebetulan masih ada yang bisa bertahan, namun tidak masif seperti dulu lagi. Perubahan kondisi sosial ekonomi telah mempengaruhi struktur masyarakat dalam memilih sesuatu yang akan dipakai atau dikonsumsi.

Sedangkan profesi-profesi informal yang sudah ada sejak tahun 90-an dan masih bertahan dan eksis hingga saat ini adalah penjual salome (cilok), penjual bakso keliling, penjual sayur keliling, pembeli botol bir atau ditukar dengan mainan atau balon, penjual tuak keliling, penjual saboak, penjual ikan keliling, service kompor keliling, penjual rokok asongan, penjual jamu gendong, penjual kacang rebus keliling, pengais sampah, penjual koran & majalah keliling, penjual gorden keliling, penjual aksesoris dan service jam di bilangan Siliwangi, penjual kayu bakar, penjual roti keliling, penjual lemon kiser musiman, tukang sol sepatu keliling, penjual pisang keliling, penjual daging (sapi/babi) keliling, penjual gula lempeng keliling, tukang es tong-tong, penjual bambu, bendera dan umbul-umbul di saat tujuh belasan dan masih banyak lagi. Satu hal yang berubah untuk profesi yang masih eksis seperti penjual bakso, tukang sol sepatu, tukang es tong-tong dan beberapanya lagi, yang semula hanya orang pendatang tetapi kini sudah beralih ke orang lokal. (*)


Kupang, 07 September 2015
©daonlontar.blogspot.com
 
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;