Jumat, 26 Februari 2016

Bulan Pertamaku!



Kini sudah sebulan umurku, memang waktu berputar begitu cepat. Aku seorang bayi lucu yang sedang mengalami pertumbuhan. Tak ada pertumbuhan manusia paling cepat selain masa bayi. Minggu pertama aku belum begitu ekspresif karena indra penglihatanku belum terlalu melihat dengan jelas, walau mataku telah terbuka lebar, hanya bayang-bayang yang kutemukan. Kadang aku masih terlihat bermain sendirian, menurut orang-orang tua aku sedang bermain dengan ruh ari-ari yang pernah menemaniku selama di kandungan. Minggu ketiga aku sudah bisa merasakan pergerakan bayang-bayang wajah kedua orang tuaku. Dan sebulan kemudian aku seperti sudah mengenali orang-orang disekelilingku, wajah ibu selalu aku tatap baik-baik ketika menyusu dan sesekali melemparkan pandang ke ayahku. 

Sejak minggu kedua selain tangis aku sudah bisa mengeluarkan beberapa suara sesuai suasana hatiku, kadang merasa nyaman, kadang butuh perhatian, ataupun karena ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Aku seperti sudah mulai mengajak berkomunikasi dengan kedua orang tuaku walau dengan menggunakan bahasaku sendiri. Di minggu keempat aku sudah bisa menendang-nendang lebih kuat dan kedua tangan ku terus mengapai-gapai tanpa henti, aku sudah bisa mengangkat tulang belakangku, mengelengkan leher ke kiri dan kanan, aku menjadi anak yang sehat.

Tali pusarku lepas di hari ke sepuluh untuk memastikan aku sudah sesekali bisa menggunakan celana. Aku sedikit demi sedikit membesar dan memanjang. Ketika aku lahir sudah di beri imunisasi Hepatitis B, Polio dan tepat sebulan aku ke puskesmas untuk imunisasi BCG. Dan cerita lucu ibuku, bahwa ia harus ikut nagis ketika aku disuntik imunisasi BCG.

Kini wajahku semakin ekspresif, hal yang sangat disukai oleh kedua orang tuaku. Aku bisa menunjukan wajah berbagai karakter dari senyum manis, tertawa kecil, kecut, jaim, kaget, heran, galau, sedih hingga marah. Hal yang mengelitik kedua orang tuaku saat memperhatikan wajah innocent face ku saat mereka rutin bergantian menganti lampin dan loyorku ketika aku bab dan bak. Kadang juga aku sering berceloteh sendirian di tempat tidur tanpa ditemani, namun dikala tertentu aku merasa harus ditemani, jika tidak maka aku akan menangis sekerasnya. Hari-hari di bulan pertamaku membuat kedua orang tuaku sibuk, saat siklus tidurku yang belum sesuai siklus tidur normal. Aku bisa banyak tidur di antara pagi selepas mandi hingga saat waktu mandi sore dan selanjutnya banyak bermain dan menyusu di saat magrib hingga shubuh menjelang, maka di saat itulah orang tuaku kurang tidur, terutama ayah yang beberapa kali harus terlambat datang kantor.

Aku semakin banyak merasakan suasana alam, panasnya suhu kota, dinginnya shubuh hingga hujan yang kadang besar atau hanya sekedar rintik-rintik, jika hujan membesar tangisku bisa berhenti dan aku terdiam pilu, mungkin karena aku segan dengan suara hujan. Bukan hanya itu aku bahkan sudah merasakan gempa bumi berskala 5,2 R sejak hari ke sembilanku dan tentunya gerhana matahari total yang akan berlangsung 9 Maret 2016 nanti. (*)

Catatan Anakku!
Kupang, 26 Februari 2016
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;