Minggu, 24 April 2016

Aku, Kambing Jantan & Aqiqah

Usiaku sudah hampir tiga bulan dan orangtuaku baru memiliki kesempatan untuk menghidupkan syiar dan sunnah Rasulullah SAW dengan mengadakan tasyakuran/aqiqahku. Seekor kambing jantan berwarna kream yang kuat dan sehat telah disediakan, untuk disembelih sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dengan niat dan syarat tertentu. Kata aqiqah berasal dari kata Al-Aqqu yang berarti memotong, yang dimaksudkan rambut di kepala aku yang baru lahir. Sehingga Kambing yang dipotong di sebut aqiqah karena rambutku dipotong setelah kambing jantan yang disiapkan oleh ayah disembelih. Semoga kambingku yang menjadi wujud pengorbanan menjadi penebusku, seperti Nabi Ismail yang ditebus dengan seekor kibas (kambing) dalam kisah Nabi Ibrahim AS. Ada juga pendapat bahwa aqiqah adalah pembebasan diriku dari jin yang mengiringi semenjak lahir. Selain itu dengan aqiqah aku telah dapat melepaskan syafaat bagi kedua orangtuaku.

Menjalankan aqiqah adalah salah satu syariat Islam yang dilakukan oleh pemeluk Islam di seluruh dunia. Karena aku perempuan, maka seekor kambing aqiqah sudah cukup berdasarkan sunnah. Aqiqah diibaratkan menumpahkan (penebus) darah (sembelihan) dan membersihkan kotoran (cukur rambut). Aqiqah merupakan awal rambutku, untuk pertama kalinya di potong oleh dua imam dari dua mesjid berbeda, lalu beberapa potongan rambutku di simpan dalam buah kelapa muda hijau. Entah apa maksudnya harus buah kelapa, mungkin agar aku bermanfaat selayaknya seluruh pohon kelapa. Pada kesempatan ini juga, orangtuaku mulai meresmikan namaku yang akan digunakan sepanjang hayat, sebagaimana tertulis di surat undangan tasyakuran. Undangan disebarkan ke keluarga, handai taolan dan para tetangga.


Dari aqiqahku, banyak hal yang diperoleh, diantaranya membebaskan aku dari ketergadaian, pembelaan orangtuaku di hari kemudian, menghindarkan aku dari mara bahaya, dilunasinya utang orangtuaku kepadaku, mengungkapkan rasa gembira demi tegaknya syiar Islam dan memuliakan keturunan yang di kemudian hari akan memperbanyak umat Islam, memperkuat tali silahturahmi di antara keluarga, kerabat dan anggota masyarakat dalam menyambut kedatangan aku yang baru lahir. (*)
Kupang, 24 April 2016
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;