Selasa, 26 April 2016

Alhamdulillah, Tiga Bulan Pertamaku!

Aku sudah berusia 3 bulan sekarang, sudah seperempat tahun masaku. Menurut buku petunjuk pengasuhan bayi, aku sudah boleh dibawa keluar rumah mengenal lingkungan tempat tinggal disekitarku. Aku juga sudah mengenal bagian tubuhku, aku selalu memperhatikan jemariku dengan seksama, mengengamnnya, menguncangkannya dan seolah mulai berhitung, dan berhitung sepertinya adalah pengalaman manusia sejak dilahirkan. Sejak bulan kedua aku memang suka memasukan jari di dalam mulutku, hingga kini aku bisa memasukan keempat jari dalam mulutku dan bergantian jari kanan dan kiri. Sekarang mulutku juga sering mengeluarkan sedikit lidah seperti menyusu, memainkan lidah seperti bercanda dan itu membuat orang tuaku tertawa.

Di luar perkiraan orang tua, aku sudah pandai menonton tivi. Jika aku sedang menangis kadang dengan mendudukkan aku dalam gendongan atau membaringkan aku menyamping sehingga aku bisa melihat televisi maka aku sejenak terdiam dan serius mengamati warna-warni pancaran tivi. Walau sebenarnya melihat kotak itu tidak baik bagi kesehatan mata bayi. Bersamaan dengan itu aspek kognitif dan afektifku mulai berkembang, aku sudah sering mengajak ngobrol dengan orang-orang terdekatku dan juga mulai merasakan empati dari belaiaan kedua orang tuaku. Aku juga sudah melewati satu tahapan syiar agama, di mana aku sudah ditebus dengan seekor kambing jantan atau aqiqah. Kini aku telah menyandang nama muslimah yang cantik, semoga secantik isteri Rasulullah.

Aku hingga saat ini masih berusaha untuk menggulingkan badan, walau dengan susah payah aku belum bisa tengkurap. Aku baru saja belajar menegakkan kepala, karena kurang bimbingan orang tua aku terbilang terlambat untuk bisa duduk dalam gendongan dan menegakkan kepala, mungkin karena orang tua masih terbilang takut merawatku ibaratnya masih melihatku sebagai gelas kaca. Bantal guling mungil yang selama ini hanya menjadi aksesoris tempat tidurku, kini sudah menjadi mainanku. Aku sudah bisa memeluk guling bahkan meletakkannya melintang ditubuhku serta memainkan temali bantal. Selain bantal aku juga sudah bisa bermain dengan menguncangkan boneka-bonekaku. Aku di tahapan bulan ini sering juga mengalami perubahan siklus, kata oma dan beberapa orang lainnya aku melewati tahapan bulan atau beda bulan, sehingga beda apa yang aku lakukan, seperti menangis tanpa ada suatu sebab hingga mau mengobrol dengan orang tuaku hingga malam begitu larut. (*)

Kupang, 26 April 2016
©daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;