Kamis, 26 Mei 2016

Di Bulan ke Empat


Waktu memang bergulir cepat, usiaku sudah empat bulan. Di saat rambutku mulai memanjang, yang kadang suka memelintirnya di saat menyusu. Tanganku semakin kuat mencengkram dan bisa memegang mainan-mainanku. Kuku-kuku jemariku cepat sekali memanjang, hingga ayah ibuku harus hati-hati untuk memotongnya menjadi pendek, karena bisa saja melukai wajahku sendiri atau menyakiti ayah ibuku. Kini aku tidak lagi serius menghitung jari jemari tetapii lebih suka menguncangkannya kuat-kuat seperti orang dewasa yang baru habis menyelesaikan pekerjaan besar. Kini tanganku juga sudah meraih jemari kaki-kakiku, mengengam erat dan ingin meariknya lebih kuat lagi. Jari-jemariku juga sudah ingin menjelajah merasakan berbagai tekstur ferlak kasur hingga apa yang berhasil aku raih.

Aku sudah punya tiga boneka pemberian pimpinan kantor ayahku, tetapi yang paling aku sukai adalah batal gulingku yang sudah ada sejak aku lahir, dinamai Pongky, memainkan temalinya, mencengkramnya hingga memindah-mindahkan ke sekelilingku. Sedangkan tiga bonekaku adalah Pingki (besar), sepasang Helow dan Kitty (kecil), mereka juga sering menjadi mainanku. Diantara mainan-mainan pertamaku, aku paling menyukai giring-giring, jika aku menangis tanpa sebab cukup bunyi giring-giring ini akan mendiamkanku sejenak.



Dan di usiaku empat bulan ini ayah baru pertama kali mau menerima tugas ke luar daerah, karena selama ini Ia menolaknya agar bisa menemaniku di bulan-bulan pertamaku. Sehingga aku ditinggalkan ayah untuk pertama kalinya selama empat hari. Juga untuk pertama kali aku menerima imunisai DPT, yang sempat membuatku selama dua hari merasa tidak nyaman karena panas dan hampir tidak tertidur. Air mata bercucuran dengan tangisan sedih, menjadi lebih rewel dan tentunya membuat orang tua menjadi panik.

Di bulan inilah momen aku untuk pertama kalinya belajar berguling, dimulai dengan bantuan orang tua agar aku bisa tengkurap, hingga aku bisa tengkurap dengan sendirinya. Aku kini dapat memberikan senyuman yang paling lebar dan bisa tertawa berulang-ulang di waktu yang sama, jika ada hal-hal lucu yang dibuat oleh ayah dan ibuku. Aku juga bila diperlihatkan di depan cermin, aku akan serius melihat rupaku sambil terus tertawa dengan gemas. Kadang juga ketika aku didekatkan dengan kelender bargambar bayi, akupun tertawa gemas seolah-olah itu adalah kawan seusiaku.

Saat ini fungsi kelenjar keringatku belum maksimal berfungsi sehingga kakiku kadang sering berkeringat. Satu hal lagi adalah kebiasaan menjerit-jerit yang terlihat lucu seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan. Tak berselang lama kebiasaan ini aku tinggalkan. (*)

Kupang, 26 Mei 2016

©daonlontar.blogspot.com
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;