Selasa, 03 Mei 2016

Profil Gender dan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015

Permasalahaan mendasar pembangunan adalah belum tersentuhnya hasil pembangunan ke kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan. Karena memiliki daya tawar yang rendah maka kelompok ini sering terabaikan dalam pembangunan. Kelompok rentan ini meliputi penduduk miskin, penduduk penyandang cacat, penduduk wilayah terpencil, penduduk usia lanjut, petani, nelayan dan sebagainya. Dalam kelompok-kelompok tersebut perempuan dan anak adalah kelompok terbesar yang seharusnya juga mendapatkan perhatian. Atas dasar tersebut kesetaraan Gender telah menjadi perhatian dan menjadi salah satu strategi pembangunan nasional. Namun hal ini perlu ditunjang dengan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Pengarusutamaan Gender antar kementerian dan lembaga, antar-tingkat pemerintahan hingga antar-kewilayahan. Sehingga koordinasi sangat diperlukan dalam terutama dalam menyusun Program dan kegiatan yang memberikan manfaat kepada kelompok perempuan dan laki-laki.

Aspek yang perlu diperhatikan dalam efektifitas program dan kegiatan adalah analisa yang dilakukan terhadap serangkaian data dan fakta dalam perumusan sasaran dalam menunjang program dan kegiatan yang akan dilakukan. Dengan analisa yang tepat maka dapat meningkatkan derajat dan kesetaraan dan keadilan gender agar merata dari pusat hingga daerah. Sebagai prasyarat menghasilkan perencanaan dan penganggaran yang berkualitas diperlukan ketersediaan data terpilah yang dapat dirinci menurut jenis kelamin, yang dapat memperlihatkan kesejangan pemanfataan hasil-hasil pembangunan dan juga dapat mengambarkan hal-hal apa yang menyebabkan terjadinya kesejangan tersebut yang dapat dilihat sumber permasalahaan apakah dari kondisi sosial budaya masyarakat umumnya atau pelaku pembangunan khususnya. Sehingga data terpilah yang tersedia dapat memberikan kerangka analisa bagi perumusan kebijakan, prioritas, sasaran pembangunan yang akan dilaksanakan. Kesetaraan akses dalam semua pelayanan pemerintah harus mempertimbangkan pengarusutamaan gender dengan mengalokasikan sumber daya yang memadai.

Salah satu wujud ketersediaan data terpilah adalah tersedianya profil pembangunan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang dapat dijadikan sarana untuk mendapatkan data, merancang data, menyajikan data dan memanfaatkan data. Ketersediaan data yang akan dipilah dapat memberikan stimulus dalam percepatan pembangunan melalui pengarusutamaan gender melalui pelaksanaan Perencanaan Penganggaran Responsif  Gender (PPRG) yang lebih sesuai harapan baik di tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten/kota. Sehingga dapat menghasilkan data terpilah yang dapat dijadikan sebagai analisa pembandingan dalam mengimplementasikan perencanaan dan penganggaran responsif gender yang menjangkau semua sektor pembangunan. Sehingga program dan kegiatan pembangunan akan memberikan hasil yang optimal dan menjangkau seluruh kelompok masyarakat.

Ketersediaan data terpilah untuk memudahkan analisis gender yang mana merupakan proses penelahaan data dan informasi secara sistematis tentang kondisi laki-laki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan, fungsi, peran dan tanggung jawab mereka masing-masing dalam proses pembangunan serta faktor-faktor yang mempengaruhi akses, partisipasi, kontrol dan manfaat masing-masing. Analisis gender dimaksudkan untuk menelaah kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat agar dapat diketahui peran serta laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan kebutuhan khusus masing-masing.

Sementara itu dimaksudkan dengan data terpilah adalah data yang diuraikan secara terpilah menurut jenis kelamin yang menggambarkan status serta kondisi perempuan dan laki-laki di seluruh bidang pembangunan yang meliputi kesehatan, pendidikan, ekonomi dan ketenagakerjaan, bidang politik dan pengambilan keputusan, bidang hukum dan sosial budaya serta kekerasan dan lain sebagainya. Pemilihan data dimaksudkan untuk melokalisir atau mempersempit ruang pemecahan masalah pembangunan pada suatu bidang tertentu. Data dapat dipilah menurut berbagai ciri atau karakteristik tergantung pada jenis analisis yang akan dilakukan. Bila akan melakukan analisis gender, data perlu dipilah berdasarkan jenis kelamin. Untuk melakukan analisis tentang kesenjangan kemiskinan, data perlu dipilah menurut status sosial ekonomi. Bila ingin diketahui dampak pembangunan menurut wilayah atau analisis spasial, data perlu dipilah menurut wilayah. Begitu pula analisa dapat dilakukan berdasarkan umur atau waktu kejadian seperti analisis chart dan analiss deret waktu atau analis time series.



Penyerahan Buku Profil Gender & Anak Provinsi NTT Tahun 2015 oleh Wakil Gubernur NTT, Benny Litelnoni kepada
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Yohana Yambesi pada
Rakor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tingkat Provinsi NTT
Sumba Barat Daya, 28 April 2016

Dengan tersedianya data profil dapat menjadi bahan evaluasi pelaksanaan pembangunan baik oleh pelaku pembangunan dan penerima manfaat pembangunan. Kedudukan data memiliki nilai yang strategis dalam pencapaian visi dan misi pembangunan daerah. Data yang akurat dan mutakhir merupakan informasi dasar yang sangat menentukan penyusunan kebijakan, perencanaan, dan pelaksanaan kegiatan pembangunan. Dalam penyelenggaraan otonomi daerah, informasi memiliki posisi strategis untuk merealisasikan terwujudnya kebijakan pemerintah yang memiliki responsivitas, cermat, dan tepat sasaran. Semangat desentralisasi dalam otonomi daerah menuntut pemerintah daerah lebih mendayagunakan dan mengembangkan potensi daerah. Dengan adanya tuntutan tersebut, daerah memerlukan data potensi dan kondisi daerah yang obyektif, akurat dan aktual, sebagai bahan informasi kebijakan daerah. Hal tersebut dikarenakan suatu informasi tidak akan bernilai tanpa didukung data. Informasi yang baik dan berbobot hanyalah informasi yang didukung oleh data.

Untuk menghasilkan data yang berkualitas diperlukan keterlibatan berbagai pihak  pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat maupun pemangku kepentingan terkait. Tiap pihak yang terkait diwakili oleh berbagai kepentingan dan sektor yang menjadi kewenangan mereka, dibutuhkan kerjasama dalam pengumpulan data, sehingga agenda pembangunan bisa terpadu untuk mencapai kesejahteraan rakyat lebih efisien dan dan efektif.


Tujuan ketersediaan Profil Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berdasarkan data terpilah adalah 1) tersedianya data terpilah yang bisa dijadikan sebagai alat advokasi dalam perencanaan penganggaran responsif gender dan peduli anak; 2) tersedianya statistik standar yang dapat dimanfaatkan di dalam perencanaan, penganggaran, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan yang responsif gender dan peduli anak dan terpenting adalah; 3) mewujudkan integrasi kepentingan, aspirasi dan kondisi kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan.

Ketersediaan data dan statistik yang dirinci menurut jenis kelamin dan kelompok umur, termasuk data dan statistik anak di dalam buku profil ini, sangat penting dalam perencanaan, penganggaran, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kabijakan, program dan kegiatan yang responsif gender dan peduli anak. Dengan menggunakan profil gender dan anak ini, pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan diharapkan dapat tepat sasaran dan tepat guna sehingga memberikan dampak yang setara bagi perempuan dan laki-laki dalam Pengarusutamaan Gender (PUG). Demikian pula dengan tersedianya data anak akan mempermudah proses Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA) dalam kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah. Dalam era otonomi daerah sekarang ini, sebagian besar proses pembangunan berada di tangan pemerintah daerah. Oleh sebab itu pemahaman tentang kondisi daerah di Nusa Tenggara Timur sangat diperlukan. Khususnya dalam upaya pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, melalui penyediaan data terpilah menurut jenis kelamin dan kelompok umur di berbagai bidang. Profil Gender dan Anak ini dapat mengambarkan berbagai isu gender dan anak yang selama ini terabaikan atau belum optimal antara lain:

1.      Bidang Kesehatan: Angka Harapan Hidup di NTT mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari 67,25 di tahun 2009 meningkat menjadi 68,05 di tahun 2013. Angka Kematian Ibu tahun 2012 sebesar 306 per 100.000 kelahiran hidup, sedikit lebih rendah dibandingkan AKI nasional pada periode yang sama sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Di tahun 2014 kunjungan ibu hamil pertama (K1) ke posyandu dan puskesmas sekitar 87,17 persen, sedangkan pada kunjungan ke empat (K4), hanya sekitar 63 persen dan hanya 25 persen ibu hamil yang menerima imunisasi TT minimal 2 kali serta 72,37 persen ibu hamil mendapatkan tablet zat besi (Fe);
2.        Bidang Pendidikan: pada tahun 2014, terdapat 7,62 persen penduduk usia 10 tahun ke atas buta huruf. Angka buta huruf perempuan sebesar 8,52 lebih tinggi dari pada laki-laki sebesar 6,68 persen. Pada kelompok umur 10 tahun ke atas, perempuan yang menamatkan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar (SD/sederajat), persentasenya lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Sebaliknya untuk jenjang pendidikan menengah (SMP/sederajat hingga SMA/sederajat) ternyata persentase perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki;
3.        Bidang Ekonomi dan Ketenagakerjaan: Jumlah penduduk usia kerja di Nusa Tenggara Timur tahun 2014 sebesar 3,26 juta jiwa, yang terdiri dari 1,59 juta jiwa laki-laki dan 1,67 juta jiwa perempuan. Dari 1,67 juta jiwa penduduk perempuan usia kerja, 58,33 persen di antaranya merupakan angkatan kerja. Persentase perempuan sebagai pengangguran terbuka sebesar 3,30 persen. Persentase perempuan yang mengurus rumah tangga secara total adalah 25,92 persen. Sementara itu Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TKPK) perempuan yaitu sebesar 58,33 persen lebih rendah dari laki-laki sebesar 80,00 persen. Persentase perempuan yang bekerja pada kegiatan formal hanya sebesar 35,52 persen dan yang bekerja pada kegiatan informal sebesar 45,52 persen. Pekerja perempuan informal terbanyak adalah sebagai pekerja keluarga atau pekerja tidak dibayar (70,16 persen) dan pekerja bebas di pertanian (48,01 persen). Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) perempuan secara total sebesar 3,30 persen dan laki-laki sebesar 3,23 persen.
Data tahun 2014, jumlah anggota koperasi se Nusa Tenggara Timur sebanyak 698.470 orang yang terdiri dari anggota laki-laki sebanyak 432.557 orang dan anggota perempuan sebanyak 265.557 orang. Pada tahun 2012, rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan sebesar 16,66 persen yang kebanyakan berada di perdesaan;
4.        Bidang Politik dan Pengambilan Keputusan: Anggota DPRD Provinsi & DPRD Kabupaten/Kota se Provinsi Nusa Tenggara Timur periode 2014-2019 berjumlah 715 orang anggota, yang terdiri dari anggota laki-laki sebanyak 615 orang (91,04%) dan anggota perempuan sebanyak 64 orang (8,95%). Hasil ini sedikit lebih baik jika di bandingkan dengan anggota DPRD Provinsi & DPRD Kabupaten/Kota se Provinsi Nusa Tenggara Timur periode 2009-2014 berjumlah 679 orang anggota, yang terdiri dari anggota laki-laki sebanyak 627 orang (92,34%) dan anggota perempuan sebanyak 52 orang (7,65%);
5.     Bidang Hukum dan Sosial Budaya: Jumlah narapidana yang menjalani hukuman di Rutan dan Lapas se Nusa Tenggara Timur tahun 2014 sebanyak 2.555 orang yang terdiri dari narapidana dewasa dan anak. Narapidana dewasa berjumlah 2.506 orang, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 2.408 orang dan perempuan sebanyak 98 orang. Sedangkan narapidana anak berjumlah 49 orang yang kesemuanya laki-laki. Sementara itu jumlah tahanan di Rutan atau Lapas se Nusa Tenggara Timur tahun 2014 sebanyak 592 orang yang terdiri dari tahanan dewasa dan anak. Tahanan dewasa berjumlah 591 orang, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 555 orang dan perempuan sebanyak 36 orang. Sedangkan tahanan anak berjumlah 1 orang laki-laki.
Persentase perempuan penyandang disabilitas di NTT sebanyak 2,31 persen terhadap total penduduk NTT. Angka ini lebih rendah dari persentase laki-laki penyandang disabilitas sebesar 2,94 persen;
6.      Kelangsungan Hidup Anak: Pada tahun 2014 terdapat 3.830 bayi dengan berat badan lahir kurang atau 5,1  persen dari total bayi baru lahir yang ditimbang. Tahun 2014 sebanyak 97,59 persen balita di Nusa Tenggara Timur pernah diberi ASI, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap balita laki-laki (97,07 persen) maupun perempuan (98,13 persen) yang pernah diberi ASI. Pada tahun 2014, hanya sebesar 30 persen dari penduduk 0-17 tahun yang memiliki akte kelahiran dapat menunjukkannya, sedangkan 23 persen mengaku memiliki akte kelahiran namun tidak dapat menunjukkannya. Penduduk usia 0-17 tahun yang tidak memiliki akte kelahiran menurut Susenas 2014 adalah sebesar 45 persen;
7.      Tumbuh Kembang Anak: Pada tahun 2014, jumlah anak peserta Pendidikan Anak Usia Dini jalur formal dan non formal sebanyak 258.720 orang siswa. Di tahun 2014 APK SD/sederajat sebesar 114,68 persen, APK SMP/sederajat sebesar 88,66 persen, dan APK SMA/sederajat sebesar 71,86 persen. APS 7-12 tahun pada tahun 2014 tercatat sebesar 97,99 persen, berarti bahwa dari 100 anak usia 7-12 tahun, sekitar 98 anak masih bersekolah dan 2 anak tidak bersekolah (baik yang tidak/belum pernah sekolah maupun tidak sekolah lagi). Sementara itu APS 13-15 tahun tercatat sebesar 94,26 persen dan APS 16-18 tahun sebesar 73,96 persen. Sedangkan APM SD tercatat sebesar 94,56 persen, APM SMP sebesar 65,86 persen dan APM SMA sebesar 52,15 persen;
8.    Perlindungan Anak: pada tahun 2014 jumlah anak sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial di Nusa Tenggara Timur tahun 2014 yaitu: anak balita terlantar berjumlah 17.081 orang, anak terlantar berjumlah 55.768 orang, anak berhadapan dengan hukum berjumlah 190 orang, anak jalanan berjumlah 2.867 orang, anak dengan kedisabilitas berjumlah 6.706 orang, anak korban tindak kekerasan berjumlah 965 orang dan anak yang memerlukan perlindungan khusus berjumlah 61 orang;
9.    Kekerasan terhadap Perempuan & Anak serta Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO): Data kasus kekerasan terhadap perempuan dari 2.114 kasus di tahun 2012 menurun menjadi 1.568 kasus di tahun 2013 dan kemudian menurun lagi menjadi 1.054 kasus di tahun 2014. Sedangkan data kekerasan terhadap anak di tahun 2012 sebanyak 608 kasus, sedangkan di tahun 2013 menurun menjadi 521 kasus dan menurun lagi menjadi 279 di tahun 2014. Walau terjadi penurunan dari tahun ke tahun kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan berarti tren penurunan selalu menunjukan realitas, karena banyak juga kasus yang tidak dilaporkan atau telah diselesaikan secara kekeluargaan. Sementara itu kasus traficking di NTT semakin menurun dari tahun ke tahun, namun sebaliknya jumlah korban semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kasus traficking yang terjadi tahun 2012 sebanyak 312 kasus, menurun menjadi 15 kasus di tahun 2013 dan 12 kasus di tahun 2014. Sedangkan jumlah korban 42 orang di tahun 2012, bertambah menjadi 122 orang ditahun 2013 dan meningkat lagi menjadi 131 orang di tahun 2014.

Berdasarkan gambaran di atas, maka data dan informasi merupakan sesuatu yang dibutuhkan bagi para penentu kebijakan dan perencana pembangunan di segala tingkat administrasi. Profil Gender dan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan untuk menilai pencapaian program baik di tingkat kabupaten/kota maupun di lingkungan instansi Pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan adanya penyajian data dan informasi di dalam Profil Gender dan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur diharapkan dapat digunakan untuk mengambil langkah-langkah perbaikan dan peningkatan dari setiap program, bukan hanya di lingkungan Badan pemberdayaan Perempun dan Perlindungan Anak saja melainkan juga program yang berada di dinas/instansi di lingkungan Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota, sehingga hasilnya dapat lebih dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk pelayanan yang prima bagi masyarakat.

Data dan informasi yang tercantum dalam Profil Gender dan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 ini adalah berdasarkan penilaian kinerja dan output dari kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan di Badan/Dinas/Instansi mulai dari tingkat provinsi sampai tingkat kabupaten/kota. Dengan adanya berbagai terobosan dalam pengumpulan data dan informasi diharapkan Profil Gender dan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur di tahun yang akan datang menjadi lebih baik. Dalam upaya perbaikan kedepan terhadap substansi penyajian ataupun waktu terbit Profil Gender dan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur dibutuhkan adanya komitmen bersama, keseriusan dan dukungan dari berbagai pihak khususnya dari Badan/Dinas/Instansi di lingkungan Pemerintah Provinsi maupun kabupaten/Kota sehingga tujuan Profil Gender dan Anak sebagai penyedia data yang up to date dan berkualitas dapat tercapai. (*)


Kupang, 3 Mei 2016
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;