Selasa, 26 Juli 2016

Beranjak Setengah Tahun Usiaku…


Tak terasa aku telah genap berusia enam bulan dan beranjak setengah tahun usiaku. Di masa inilah semakin banyak pengalaman muda yang aku lalui di bulan ini. Seperti pengalaman naik pesawat dan mudik untuk pertama kalinya, berlebaran bersama keluarga besar ibuku. Aku akhirnya sampai ke Kota Ende - Flores, kota dimana ibuku dilahirkan dan dibesarkan, bertemu dengan semua om dan tante dari ibuku. Seminggu puasa Ramadhan 1437 menjelang lebaran aku sering menemani keluargaku untuk sahur bersama dan kemudian Lebaran 1 Syawal 1437 pertama kalinya aku di kota Ende bersama sanak keluarga ibu, dan aku adalah anggota keluarga paling kecil atau yang terakhir.



Aisya dengan bunda di ruang tunggu Bandara Eltari 


Aisya dengan bunda dan latar belakang Gunung Meja Ende

Adalah hal heboh pada penerbangan perdanaku, ketika tiba di bandara satu jam lebih awal sebelum penerbangan dan menunggu waktu keberangkatan, aku tampak seperti biasanya masih melakukan penyesuaian dengan lingkungan ruang tunggu Bandara El Tari yang ramai dalam suasana puncak libur lebaran. Namun ketika tiba waktu kberangkatan, pesawat dinyatakan delay karena cuaca tidak mendukung, di saat itu pula aku sudah mulai tidak nyaman dan mulai rewel dengan tangisan keras, sepertinya aku mengalami rasa dinginnya ruang tunggu dan lambung kosong serta enggan menyusui. Ruang laktasi di bandara tidak juga mendukung. Hampir semua orang di ruang tunggu melihat kepanikan orangtuku menghadapi aku yang sedang menangis sejadi-jadinya hingga terdengar berbagai penjuru ruangan, bahkan ayahku ingin membatalkan penerbangan, dan ingin kembali pulang ke rumah. Antiklimaksnya setelah ada seorang ibu teman ayah yang menanganinya hingga pesawat tiba dan jadwal kebarangkatan dilanjutkan. Kurang lebih empat jam kami berada di bandara yang sungguh menyiksa. Namun beruntung hal ini tidak terulang di penerbangan keduaku. 

Selama di Ende, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan sepupu-sepupuku, yang semuanya perempuan, ada yang tertua bernama Nayra Arung Saujana dan adiknya Najwa Sahara Pujangga. Aku menhabiskan waktu di Kota Ende selama dua minggu dari tanggal 29 Juni – 13 juli 2016 dan kemudian pulang membawa banyak kenangan.

Di bulan ini aku menjalani imunisasi DPT yang ketiga, tapi kali ini berbeda dengan imunisasi DPT yang pertama dan kedua, aku tidak lagi mengalami panas. Diluar perkiraan kedua orang tuaku yang kuatir seolah telah bersiap-siap menunggu tubuhku panas, tapi kali ini aku seperti biasa, ceria dan terus bermain dengan semangat. Memang aku sering mengalami banyak perubahan siklus, seperti begadang hingga larut bahkan tampak bermain sendirian di dini hari.


Aisya begitu senangnya naik pesawat

 Aisya sedang jalan-jalan menikmati sunset Pantai Ria Ende-Flores



Aisya dengan jempol yang terluka

Aisya sedang memetik bunga


Satu kali tanganku terluka, ketika ibuku salah menguting kuku jempolku, sebelumnya jemariku juga pernah merasakan strum raket nyamuk, memang sih itu kelalaian ibuku tapi ibuku memang tidak sengaja. Aku tetap mencintai ibuku. Dibulan ini pula, ayahku memangkas rambutku yang sudah mulai memanjang, memang butuh waktu yang agak lama, karena aku tak bisa diam, tak seperti pengujung barbershop yang sering terlihat duduk manis saat rambutnya dipangkas.


Aisya sedang naik sepeda punya sepupu Najwa


Aisya dengan pramugari cantik dan pak pilot dibelakangnya

Aisya punya dua boneka souvenir dari Garuda bernama Gama dan Pilo

Di bulan ini juga aku sangat terobsesi dengan botol air mineral besar, seperti menjadi saingan bagi bantal pongkyku. Aku juga sudah terbiasa tidur menyamping, paling sering menyamping sebelah kiri, dan juga aku sudah bisa mengaruk-garuk tubuhku sendiri karena gigitan nyamuk, layaknya orang dewasa. Selain sudah biasa tertawa riang dan menagis terisak, aku juga sudah pandai membuat tangis yang dibikin-bikin atau bahkan batuk yang sepertinya disengaja.

Aku sekarang sudah bisa melakukan dua kali guling atau dari tengkurap ke berguling dan juga bisa memutar 360 derajat poissi tengkuprap sesuai dengan objek apa yang memancing perhatiaku dan seraya ingin mengapainya.

Kupang, 26 Juli 2016
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;