Selasa, 19 Juli 2016

Panggung Perempuan Biasa di Kota Kupang


Beberapa tahun terakhir pembangunan fisik di Kota Kupang meningkat pesat. Kehidupan sosial, politik dan ekonomi mengalami perkembangan yang lebih masif dibandingkan waktu sebelumnya. Walau perkembangan Kota Kupang bisa dikatakan terlambat jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia bagian Timur, namun kini kehidupan masyarakat kota Kupang mengalami pergeseran kehidupan ala urban yang mempengaruhi paradigma dalam berpikir, mengambil keputusan dan bertindak. Ada pergumulan batin dalam mencerna berbagai realitas, apakah pembangunan selamanya memberikan manfaat yang besar atau pada sisi lain memberikan ujian. Sehingga dibutuhkan ruang partisipasi antara ide dan realitas, dimana suara-suara itu bisa terdengar tanpa ada kekangan idiologi, ekonomi dan terlebih politik.

Perlu adanya keseimbangan kosmos bagi warga kota, keseimbangan antara nilai materil dan spirit, antara logis dan emosi dan antara substansi atau periferi. Di mana ruang-ruang budaya dibangun, ruang-ruang di mana nalar dibebaskan. Salah satunya melalui pementasan panggung kesusastraan dalam wujud puisi, monolog dan teater. Terbilang baru beberapa kali saja panggung seni diadakan di Kota Kupang selama tiga atau empat tahun terakhir, yang berbayar sebagai wujud kontribusi. Dahulunya sepi. Kini dengan panggung sederhana secara material, namun sudah cukup memberikan substansi yang kaya akan pemaknaan dan nilai. Panggung itu dihadirkan!.



Duduk dalam deretan terakhir pementasan Panggung Perempuan Biasa, Sabtu, 16 Juli 2016 di Taman Dedari Sikumana. Tak hadir dari awal, saya hanya sempat menikmati tiga monolog yaitu Perempuan Paling Bahagia (Santji Muskanan), Perempuan Rembulan (Linda Tagie) dan Pidato Tujuh Menit (April Artison), serta satu teater Du’a Buhu Gelo atau yang berarti Perempuan Kentut Kemiri yang dibawakan oleh Komunitas Sastra Kahe. Saya mencermati bagian demi bagian monolog dan menyimpannya sebagai bahan diskusi dalam batin. Saya seolah menjadi warga urban yang mulai mencari keseimbangan dalam urusan intelektual, emosional dan spritual. Seperti orang-orang di kota-kota metropolitan, diakhir pekan mereka berada di ruang lisan dengan cahaya redup, menegaskan diri berada di ruang kesusastraan untuk mengisi jiwa-jiwa membutuhkan sentuhan seni dan imajinasi.




Di akhir acara, benar apa yang dikatakan seniman Abdy Keraf, harus ada solusi dari setiap permasalahaan yang disajikan dalam monologia. Kalau saya melihatnya bahwa ruang-ruang ini ibarat tempat disediakan layaknya podium bagi para pengkritikan, penghakiman dan pemberontakan realitas yang dibalut dengan nuansa sarkastis, ironis dan satir. Karenanya kita melihat bagaimana adanya tetapi kita lupa bahwa ada ruang sempit yang diberikan untuk kembali melihat sebuah persoalan realitas bagaimana harusnya, tidak selamanya bagaimana adanya. Tapi tunggu dulu, bukankah ruang sastra juga adalah dimensi filsafat yang terus mempertanyakan dan mempertanyakan tanpa memerlukan jawaban.


Tentang perempuan biasa, realitasnya begitu kompleks. Masalah perempuan baik di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi begitu memprihatinkan, demikian juga dengan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan perempuan yang menjadi korban human trafficking. Para TKW dari NTT pergi dengan semangat untuk membangun ekonomi keluarga di kampung, sayangnya di antara mereka harus dipulangkan dengan duka dan kehilangan organ-organ tubuhnya. Haruskah kemiskinan yang dipersalahkan!, di saat kemiskinan dan berbagai persoalan pembangunan masih berwajah feminim, mirisnya pembangunan selama ini berwajah maskulin, sehingga yang tampak adalah disparitas pembangunan.

Kini panggung itu ada bagi perempuan. Panggung untuk bersuara tentang perempuan. Bersuara tentang ketidakadilan, dimana selama ini mereka dipinggirkan dalam lembaran sejarah, sosial, ekonomi dan budaya. Memang panggung perempuan biasa untuk perempuan biasa, namun perempuan adalah orang yang luar biasa dalam setiap kehidupan mereka yang walau terlihat biasa-biasa saja. (*)

Kupang, 19 Juli 2016
©daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;