Jumat, 09 September 2016

Promosi Timor Leste di NTT


Pada pelaksanaan event kegiatan Sunda Kecil Expo 2016, yang berlangsung 07-10 September 2016 di Kupang. Sebagai implementasi dari semangat “historika Sunda Kecil” yang melahirkan kerjasama antara 3 (tiga) Provinsi yaitu, Bali, NTB dan NTT, sebagai wujud sarana promosi dalam mendukung sinergitas antara pemerintah dan swasta/investor/pelaku usaha untuk mendukung percepatan proses pengembangan investasi di daerah. Kegiatan ini dalam menunjang segi tiga pertumbuhan ekonomi antara Indonesia (NTT), Timor Leste (Dili) dan Australia (Darwin) dengan melakukan serangkaian kegiatan berupa pameran pembangunan, pariwisata, potensi investasi, industri dan perdagangan, UKM dan industri kreatif serta pergelaran seminar, kesenian, kebudayaan dan hiburan lainnya.





Terdapat stand pameran dari negara tetangga Timor Leste. Sebagai negara muda yang memiliki kedekatan sejarah sosial politik dengan Indonesia, Timor Leste telah beberapa kali aktif dalam promosi ekonomi di Indonesia terutama di Kupang – NTT. Pertanyaan apakah Pemerintah NTT melakukan hal yang sama juga di Timor Leste (Dili) dan Australia (Darwin). Karena gaungnya belum kedengaran hingga saat ini, di saat Negara Timor Leste kini aktif mencari peluang untuk mempromosikan pariwisata dan peluang usaha investasi di negeri jiran. Di stand Timor Leste tersedia beberapa aksesoris budaya, hasil bumi unggulan berupa kopi, replika rumah adat, kerajinan boneka, tembikar, kelewang dan lain-lain.




Namun menjadi catatan bagi Pemerintah Timor Leste dalam melakukan promosi wisata dan peluang usaha adalah memperhatikan bahasa, bahwa dalam brosur-brosur yang ada di stand pameran, hanya berbahasa Tetun, Portugis dan Inggris. Padahal dengan target promosi kepada warga negara Indonesia sepatutnya menggunakan bahasa Indonesia, terlepas dari tidak menggunakan bahasa indonesia dengan alasan idiologis-politik masa lalu. Hal yang mendukung adalah juru penerang stand bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Hal yang sama juga perlu diperhatikan oleh pemerintahan Indonesia (NTT), Timor Leste (Dili) dan Australia (Darwin), bahwa bahasa juga menjadi perhatian dalam melakukan promosi daerah.

Bahwa dikemudian hari, harapannya adalah terjalinnya kerjasama yang nyata melalui terbukanya aksesibilitas antara ketiga negara sehingga mempermudah transfer informasi dan pengalaman antara pemerintah (G to G), antar pemerintah dengan pelaku bisnis/investor, pengusaha (G to B), dan antar para pelaku usaha/investor (B to B), serta antar masyarakat (P to P). (*)


Kupang, 09 September 2016
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;