Rabu, 10 Januari 2018

Ode untuk Almarhumah Sri Wulandari Nurmia


Saya masih ingat di sekitaran awal tahun 2000-an di tanah leluhur bugis, saya masih menyaksikan dudukan adat antara tetua keluarga kami dengan ayahmu, yang mana terlihat ayahmu dengan wajah datar mengambil keputusan berat yang kelak sangat berpengaruh besar pada dirimu. Kamu hanyalah bocah kecil bermata sipit dengan wajah yang bulat. Namamu Wulan!.

Seiring jarum jam yang  terus berputar, kamu tumbuh dewasa dan menjadi anak gadis yang cantik. Teman-temanmu mengatakan wajahmu ala korean girls. Seorang gadis yang tumbuh dengan kecerdasan sosial yang tinggi, mudah bergaul dan sejatinya memiliki banyak teman. Sebagai anak milenial yang tumbuh dalam pusaran kecanggihan teknologi, kamu manjadi satu dari sekian anak-anak yang menunjukkan diri sebagai anak sosmed. Kamu curhat di media sosial dan segalanya hingga memuji kebesaran hati ibu membesarkanmu dengan jerih payahnya sendiri.

Temanmu banyak, dan semuanya menjadi sahabat. Jangankan itu seseorang yang baru dikenal sekali dua kali tak lama telah menjadi sahabat terdekatmu. Sifat periangmu dan pandai bergaul membawa fitrahmu banyak dikenal orang. Dan tak heran ada yang menjulukimu artis dari Sulilie, sebuah dusun di kecamatan Ajengale tanah Ugi.

Engkau adalah mahasiswa di semester lima STIA Puangrimaggalatung Sengkang yang  sedang mencari jati diri, dan berusaha menjadi dirinya sendiri. Dengan berbagai problema kehidupan masa muda, dari masalah kekasih hati, pergaulan dengan sahabat, penampilan modis hingga eksisting di sosmed. Gadis ceria yang mempunyai hobby menyanyi dan jalan-jalan, pengemar klub sepak bola Barcelona dan rider Moto GP Marc Marquez.

Di penghujung tahun 2017, awal mula kisah pedih, dirimu dalam keadaan sakit. Sakit yang kemudian dibawa dalam perjalanan panjang Sulilie tanah Ugi hingga Betun tanah Timor, sakit yang dibawa dalam etape ribuan kilometer menyusuri buana melintasi bahari. Sakit yang semoga mengugurkan dosa-dosamu. Perjalanan yang membawamu ingin menghadiri pernikahan kakakmu.

Pernikahan kakakmu dilangsungkan tanggal 7 Januari 2018. Malam, belum di penghujung gelaran pesta selesai, dirimu koma dan di Senin tanggal 8 Januari 2018, pukul 5.45 pagi dirimu menghembuskan nafas terakhir dari nafas yang pertama kau hembuskan sesaat keluar dari rahim ibumu, itu 20 tahun yang lalu. Tak butuh waktu lama, sakit itu telah mengakhirimu, Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un. Apa daya, di tempat yang sama, sehari yang lalu kakakmu melangsungkan akad nikah dan sehari kemudian engkau terlentang terbujur diam dalam senyuman tipis dengan mata terpejam dalam tidur panjangmu.

Kabar itu seperti belati dalam pikiran dan ingatan orang-orang terdekatmu. Seketika dinding sosial mediamu dipenuhi dengan rasa tidak percaya, seolah mimpi, ruang maya yang dipenuhi dengan potongan antologi kesedihan dari keluarga, teman, sahabat dari yang saat itu berada dekat deganmu hingga di tempat yang jauh, dengan kata-kata tanda tanya apa sebab musebab mengapa engkau mangkat di usia muda. Ada yang membagi foto kenangan, ada yang merangkainya dalam jigsaw, ada janji teman-temanmu yang belum saling dipenuhi dan janji bersua yang belum tunai hingga ikon kesedihan, foto kebersamaan, dan lain sebagainya. Semua merasa kehilangan teramat sangat! 

Mereka yang ada disamping jasadmu meratap kehilangan, dan mereka yang jauh di tanah Ugi menunduk dalam tangis. Meninggal dunia dengan sakit yang tak terobati. Memang takdir tak dapat ditepis, dan siapa yang paling bersalah atas kematianmu. Tak ada waktu lagi untuk mencari siapa yang salah. Kita semua bersalah atas kematianmu!

Hingga hari ketiga, masih banyak yang belum bisa melupakanmu, dan tampaknya untuk waktu mendatang tak akan bisa melupakanmu. Sifatmu yang manja kekanak-kanakan, sifat periang hingga judes, kecentilan, kecerewetan, suara cempreng, pandai bertegur sapa (magalak), bergaya (ledo) dan sifat-sifat lainmu membekas dalam ingatan keluarga, teman dan sahabat. Membawa kerinduan ingin bersua kembali denganmu, walau sekedar dalam imajinasi!

Dan bagaimana perasaan ibumu, aku melihatnya seperti lagu untuk seorang ibu dalam kereta yang tengah meratapi kepergian anak gadisnya seumpama dalam lagu perjalanan yang dinyanyikan Sarasvati. Dan bagaimana dengan dua saudara kembarmu dan adik-adikmu mereka teramat kehilangan adik dan kakak tercinta. Kita semua ibarat sebuah benih yang diberi kesempatan tumbuh menjadi pohon-pohon yang kuat, di suatu waktu daun-daun kita berguguran, menunjukan bahwa kita semua begitu dekat dengan kematian. Dan kamu kini tidak hanya menjadi daun yang gugur tatapi pohon yang mati dan akan terurai menjadi tanah kembali. Kamu memilih mangkat di tanah kelahiranmu!

Kematianmu membawa cerita yang seolah tak berkesudahan, selalu ada cerita menyimpang dan tak baik itu dibawa terus, laksana angin berhembus. Biarlah kami keluarga menelannya menjadi hikmah dan sebuah pembelajaran. Manusia memiliki batasan episode dalam hidup, tak banyak yang bisa menyelesaikan dengan tuntas. Bukankah hidup ini seperti buku, ada yang tipis dan ada yang tebal, dan semua memori itu tertanam dalam pikiran kita. Akhirnya kamu harus pergi tanpa menuntaskan bab-bab selanjutnya. Di saat kamu tengah menyusun rancangan epilog yang bahagia, tentang memiliki sebuah gitar, segera menyelesaikan kuliah dan wisuda, menikah di usia muda dengan jejaka pilihanmu, hingga bisa memberangkat ibundamu ke tanah suci.

Dan kamupun telah berisitirahat, tidak seperti kami yang harus melanjutkan hidup, hingga tiba masa bagi kita untuk berakhir. Dalam istirahat panjangmu, semoga semua amal ibadah sekecil apapun InsyaAllah dapat menerangimu. Kamu pernah berpesan “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan dan dua melenyapkan”. Kamu tentu tak memilih ganjil diantara yang genap. Tapi kamu memilih duluan daripada yang lain.

Menjadi pusara, sebagai penanda tempat terakhir dibumi! Diakhir tahlilan 3 malammu!

Al-fatiha untuk Almarmhumah Sri Wulandari Nurmia

Selamat jalan Sri Wulandari Nurmia, dari Pamanmu, Bibimu dan Sepupu 2 kalimu!
Maman – Intan -- Aisya

Kupang, 10 Januari 2018
@daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;