Rabu, 31 Juli 2013

Pameran Seni Rupa di Kota Kupang



Mungkin untuk pertama kalinya digelar pameran seni rupa di Kota Kupang, yang setidaknya memberi warna terhadap perkembangan dan minat terhadap karya seni. Bahwa seni senantiasa dapat menampilkan isu-isu kontemporer dalam pengaruhnya terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi dan tema-tema urban lainnya. Pameran ini mengambil tema potpuri: reposisi medium dan lokasi, dengan melibatkan 30 peserta seniman seni rupa dari Kota Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Kupang. Menampilkan dan memadukan karya seni rupa seperti seni lukis, karya grafis, keramik dan karya instalasi kontemporer dalam media dua dan tiga dimensi.  

Puluhan karya seni ini dipamerkan di Kompleks Gereja Kota Lama Kupang, dalam rangka menyambut semarak Sail Komodo 2013, yang diantaranya adalah karya pelukis yang kini mulai menunjukkan kiprahnya di ranah nasional dan lokal. Diantara lukisan-lukisan yang menarik perhatian pengunjug adalah lukisan-lukisan putra-putri Flobamora.

Lukisan di bawah ini sepertinya mewakili aliran seni lukis Romantisme yang menceritakan tentang kehidupan manusia. Corak lukisan menggambarkan bangkitnya kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya dan pelukis tanah air yang terkenal dengan aliran ini adalah Raden Saleh. 


 Duta Amuk / Ubed Mashonef


 Gaung Kesunyian dan Pemanen Tuak / Fecky Messah


Lukisan di bawah ini mewakili aliran seni lukis Naturalisme sebagai aliran yang melukis sesuai dengan alam dan keindahannya.


  Bayang-bayang / Ever E. Lomi Rihi



Nyanyian Putri / Ever E. Lomi Rihi

Ada juga lukisan yang mewakili aliran Realisme,  yang menceritakan sesuatu secara tampak atau nyata sesuai dengan keadaan yang terlihat.


Anak-Anak Timor / Jecky Lau

Sementara itu lukisan berikut adalah aliran seni Surealisme yang merupakan aliran yang mempunyai makna berbanding terbalik dengan Realisme yaitu sesuatu yang mengambarkan berdasarkan hasil imajinasi sehingga tampak dilebih-lebihkan atau juga berdasarkan mimpi-mimpi yang hanya terdapat alam bawah sadar manusia. Para pelukis mencoba untuk membebaskan cara berpikir logis dan menenggelamkan dalam makna yang berbeda.


Menatap Zaman / Jecky Lau



Persembahan Terakhir / Ubed Mashonef



 Jelajah Zaman / Fecky Messah


Merenung / Fery Wabang


Pasola / Fery Wabang


Habitus Baru / Yohanis Liliweri

Ada yang menarik dari lukisan beberapa tokoh-tokoh dunia ini, prespektif berbeda dihadirkan oleh pelukis dan kemudian terlihat sama untuk semua lukisan para tokoh, tampaknya mereka sedang memahami kondisi global dengan menu kearifan lokal yaitu sedang menikmati  siri pinang, dengan gigi dan bibir yang memerah kurang lebih demikian. Menikmati siri pinang setidaknya melambangkan persahabatan dan penghormatan.

Sedangkan yang terakhir adalah lukisan yang mewakili aliran seni lukis Imperesionalisme, yang merupakan aliran dengan menggambarkan sesuatu secara impresif, yang maksudnya sesuatu yang tidak menampakan kejelasan tetapi masih ada pemaknaannya.


Dalam Damai / George Eman 

Yang belum terlalu tampak pada pelukis Flobamora adalah yang bisa mewakili aliran seperti ekspresionis yang mengejawantahkan ekspresi dan keadaan jiwa si pelukis dalam kanvas seperti pada pelukis tanah air Affandi. Selain itu juga belum tampak ada yang menekuni seni lukis aliran Kubisme dan Abstraksionisme.

Sedangkan karya lainnya seperti seni keramik dan karya instalasi kontemporer dapat dilihat pada gambar berikut:


Berkah dari-Nya untukku juga untuk-Mu / Evi Yonathan
 

Ama dan Ina / Apri Manu


Bengong / Timbul Rahardjo


Komodo / Yus Foe


Mandi Kucing Tujuh Keliling / Argya D. Nindita


Megawati / Yus Foeh


Resort Back / Bathseba Alangghya


Mold Flash / Ricko Gabriel


Spiral / Timbul Rahardjo

Beberapa gambar diatas mewakili perkembangan kesenian dalam konteks dunia seni modern dan fenomenanya. Karya seni dalam sejumlah hal kadangkala dihubungkan dengan perkembangan filsafat dan teori pemikiran post-modern yaitu pola teori pemikiran yang merupakan perlawanan terhadap konsep modernisme yang dianggap terlalu mengaggungkan ilmu pengetahuan dan sains, keseragaman, serta mengabaikan kemajemukan dan kearifan lokal. Sehingga karya seni instalasi hadir sebagai sikap kritis terhadap fenomena tersebut.



Kadang bentuk karya seni memang lebih banyak membuat para pengujung umum merasa kebingungan dan kurang mampu menikmati esensi yang bersembunyi di balik setiap eksistensi yang ada, karena bagaimanapun cara menikmati adalah mengapresiasi lebih dalam makna yang tersimpan dengan menghadirkan persepsi. Sehingga setiap karya seni memiliki makna yang tersirat dan memaksa orang untuk berpikir secara kritis terhadap setiap fenomena dari unsur kreatif yang ada. Hadirnya pameran ini membuka cakrawala penikmat seni dalam mengasah minat, mempergunakan nalar objektivitas bahkan subjektifitas dan sekaligus sebagai media pada khalayak Kota Kupang untuk mendapatkan pengalaman dan kesan pertama terhadap perkembangan karya seni lokal serta mengapresiasi pada kesempatan yang lain.

Kupang, 31 Juli 2013
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;