![]() |
photo: www.1st-art-gallery.com |
Tanpa sengaja saya menemukan lukisan
potret seorang perempuan cantik yang berjudul “Study for The Lady Clare”, karya pelukis aliran klasik asal Eropa, John William
Waterhouse (1849-1917).
Lukisan tentang kecantikan yang tiada bandingnya, bahkan menurut saya jauh
lebih anggun dari “Mona Lisa” karya Leonardo da Vinci
yang dilukis pada abad ke-16, yang telah menjadi Karya paling terkenal di dunia
dan berada di Museum Louvre Paris, Prancis. Kekaguman saya pada lukisan ini lebih
pada sebuah ekspresi dasar perasaan, atau ada yang menyebutnya dengan sebuah
“pedalaman jiwa”, entahlah!. Saya bukan bermaksud membanding-bandingkan kedua
karya ini dari sisi ekspresi enigmatik yang misterius.
Sejurus kemudian saya lebih
memahami lukisan ini sebagai gambaran seorang tokoh dalam roman terkenal
Pramodya Ananta Toer, Bumi Manusia (salah
satu bagian dari tetralogi Buru). Adalah Annelies Mallema dengan panggilan Ann, sebagai seorang indo atau peranakan
Belanda-Jawa yang memiliki rambut dan mata pribumi dan selebihnya adalah Eropa.
Tatapan matanya bagai bintang kejora dengan bibir yang sensual. Rambutnya
disanggul sehingga menampakan garis leher yang jenjang.
Dalam roman tersebut ia bertemu
dengan tokoh lainnya bernama Mingke, seorang pelajar pribumi terdidik dari Hogere Burger School (HBS), sekolah
lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda kala itu. Keduanya tanpa
menenggelamkan perasaan masing-masing, akhirnya saling mencintai dan memiliki.
Mingke sangat mencintai dara yang cantik menawan hingga tak habis kata bagi Mingke
untuk memuji Annelies Mallema, kecantikan
yang dimilikinya bisa saja menyulut terjadinya perang.
Memang Ann adalah sosok sungguh rupawan dan ramah. Namun ia memiliki kepribadian yang manja karena dalam kungkungan kesepian dan sebelum bertemu dengan Mingke, tak ada lelaki yang berani mendekatinya apalagi untuk melamarnya. Ann adalah perempuan yang bertumbuh menjadi wajar dengan kecerdasannya, sayang mentalnya bagai bocah perempuan mungil sepuluhtahunan. Bahkan sewaktu bertemu anak kecil maka ia akan beryanyi seolah berada di masa kanak-kanaknya. Hidup Ann berkubang dengan kekayaan, namun ia tidak menikmati masa kecilnya karena seolah terpaksa bertanggungjawab melalui pekerjaan terhadap perusaahaan milik keluarganya. Kecantikannya yang kemudian pada akhirnya padam, karena permasalahan pelik yang diurai dalam klimaks kelanjutan novel tersebut.
Memang Ann adalah sosok sungguh rupawan dan ramah. Namun ia memiliki kepribadian yang manja karena dalam kungkungan kesepian dan sebelum bertemu dengan Mingke, tak ada lelaki yang berani mendekatinya apalagi untuk melamarnya. Ann adalah perempuan yang bertumbuh menjadi wajar dengan kecerdasannya, sayang mentalnya bagai bocah perempuan mungil sepuluhtahunan. Bahkan sewaktu bertemu anak kecil maka ia akan beryanyi seolah berada di masa kanak-kanaknya. Hidup Ann berkubang dengan kekayaan, namun ia tidak menikmati masa kecilnya karena seolah terpaksa bertanggungjawab melalui pekerjaan terhadap perusaahaan milik keluarganya. Kecantikannya yang kemudian pada akhirnya padam, karena permasalahan pelik yang diurai dalam klimaks kelanjutan novel tersebut.
Betapa hebat pengarang
mendeskripsikan kecantikan Annelies Mallema,
apalagi kemudian bermuara pada sebuah lukisan. Hingga sempat saya berandai-andai bahwa lukisan karya John William
Waterhouse inilah yang dimaksudkan Pramodya, menjadi imajinasi, inspirasi dan ide dalam
romannya, inilah lukisan potret yang seolah telah dilukiskan
oleh sahabatnya Jean Marais, yang kemudian tersimpan
dan akan dipajang di ruang tamu kelak. Apalagi periode dalam roman sama dengan
masa lukisan tersebut dibuat oleh pelukis sesungguhnya. Memang perempuan yang menghadirkan tatapan hampa, selalu memberikan
misteri yang terkandung didalamnya. Sebuah tatapan nanar yang kosong pada
sebuah ruang tanpa khayal dengan langit-langit tanpa tersentuh.(*)
Kupang, 29 Mei 2012
©daonlontar.blogspot.com