Minggu, 10 Juni 2012

Perahu Kertas: Menulis dengan lukisan dan melukis dengan tulisan!


Jika kita memasuki dunia melukis maka kita tak bisa lepas dari salah satu nama yaitu Vincent van Gogh. Seorang seniman dunia yang menggeluti seni lukis dan menjadikan sebagai jalan hidup. Dikisahkan bahwa Van Gogh ingin merasakan penderitaan bersama buruh tambang di Borinage, Belgia. Ia bergabung dan hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Disitulah Van Gogh mulai menghibur, menolong bahkan merelakan hartanya untuk para buruh miskin tersebut. Namun hal ini dikritik oleh sastrawan Emile Zola, yang menganggap bahwa tindakan tersebut bodoh dan tidak akan membantu kehidupan para buruh tambang. Sebagai sastrawan Emile Zola lalu menulis buku yang menggambarkan kehidupan dari para buruh tambang tersebut. Jauh lebih banyak membantu mereka dengan membuat penderitaan mereka lebih diketahui secara universal dari pada yang dapat dilakukan oleh Van Gogh dengan cara menderita bersama mereka. 
 
Kemudian baru diketahui bahwa tidak sepenuhnya Van Gogh salah menurut penilaian Zola. Van Gogh sengaja memasuki kehidupan para buruh untuk merasakan empati yang dalam, bukan dengan sekadar simpati dari suatu jarak. Inilah yang mengilhami kecenderungan sikap Van Gogh terhadap realitas dengan menyajikan dalam bentuk lukisan. Berbeda dengan Zola yang mengandalkan tulisan dan kata-kata, maka Van Gogh dengan garis, gambar dan warna yang emosional sebagai wujud simpati terhadap rakyat jelata yang termarginalkan. Sehingga benar bahwa sastrawan dengan tulisannya dan pelukis tentu dengan lukisannya.

Dari prespektif historis di atas saya memulai masuk pada cara pandang yang berbeda lagi. Dari sini saya mencoba melihat pertautan hubungan antara penulis dengan tulisannya dan pelukis dengan lukisannya. Wujudnya dapat dibaca dalam novel terbaru Dewi Lestari (Dee). Dalam novel tersebut sang penulis mencoba mengaitkan antara melukis dan menulis. Menurutnya pelukis harus dapat mengungkapkan semuanya sekalipun itu hanya kekosongan. Karena bagaimanapun kekosongannya juga dapat bersuara. Tanpa hadirnya kekosongan, mustahil bagi siapapun untuk mengawali sesuatu.  Lukisan juga seharusnya menghadirkan sebuah penjiwaan yang tinggi dan terus bergradasi pada batin orang yang melihatnya. Memunculkan energi yang dibangkitkan dari pancaran ruh kehidupan, menyentuh dari apa yang terlukis seolah lukisan itu hidup dan menghampiri kita. Sang pelukis menghadirkan sebuah persepsi baru, berkata-kata dengan garis, gambar, warna dan komposisi. Bagaimana lukisan memperangkapkan perasaan secara magis dalam sebuah kehidupan yang lain.


Trailer Perahu Kertas yang diangkat dalam film

Lalu bagaimana dengan menulis. Penulis tidak hanya pintar merangkai kata tetapi juga harus memberi nyawa, yah nyawa sebuah tulisan. Seperti melukis yang memadukan garis, gambar, warna dan komposisi, maka penjiwaan tulisan terdapat dalam pilihan kata-kata dengan plot dan alur yang menarik. Kata-kata seperti senjata atau sentuhan yang siap membentuk apapun. Kata-kata dapat dilukis, diukir bahkan ditarikan. Katanya, “kita bisa melukis kata-kata seindah lukisan, mengukir kata-kata seindah ukiran dan membuat kata-kata menari gemulai seperti tarian.” Begitupun, setiap penulis harus memulai dengan lembaran-lembaran kosong. Kekosongan merupakan permulaan yang baik dari sebuah ketidaktahuan. Sedangkan guratan tinta juga adalah guratan perasaan dari liuk-liukan jemari yang menumbuhkan kehidupan dalam sebuah tulisan. Demikianlah gambaran novel ini mengisahkan tentang cinta yang bersenyawa di antara lukisan dan kata-kata.

Novel ini diperankan oleh dua tokoh utama yaitu Keenan (sang pelukis) dan Kugy (sang penulis dongeng). Keduanya dipertemukan dalam sebuah bingkai kosong yang oleh Dee ditulis dan dilukis. Menghubungkan berbagai isu sentral kehidupan, dari keluarga, cita-cita, pendidikan, pekerjaan, persahabatan hingga percintaan. Dengan karakter tokoh dalam novel yang kuat mampu memberikan inspirasi, bahwa hidup itu adalah pilihan dan sebagaimana judulnya “perahu Kertas”, bahwa kehidupan tentunya harus terus mengalir karena semuanya akan dipertemukan kembali dalam lautan yang maha luas.


Selesai membaca novel Perahu Kertas!
Kupang, 10 Juni  2012
©daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;