Minggu, 24 Juni 2012

Bunga Rampai Vs Rumpu Rampe

photo: http://theirhands.blogspot.com

Dari judul di atas seolah mengambarkan perbedaan antara kedua kosa kata tersebut baik dari peristilahaan, arti atau juga berkaitan dengan makna. Istilah bunga rampai sudah begitu jamak dipergunakan dalam pembedaharaan bahasa Indonesia. Konon istilah ini berasal dari Sumatra Selatan yang artinya kumpulan bunga-bunga untuk digunakan sebagai sesajen, wadah interaksi supranatural dan merupakan salah satu syarat untuk jampi-jampi dukun. Selain itu bunga rampai juga digunakan untuk bunga tabur makam.

Pada tahun 1890, terbit sebuah karya sastra yang ditulis oleh seorang Belanda, A.F van Dewall yang berjudul Boenga Rampai dengan penerbit Percetakan Goebernemen – Batavia. Kemudian bunga rampai diserap dalam sastra Indonesia yang artinya kumpulan atau campuran. Bunga rampai di sini tidak diartikan sebagai nama satu jenis bunga, tetapi merupakan sebuah kumpulan bunga-bunga. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, bunga rampai diartikan sebagai (1) beberapa jenis bunga harum yang dicampur; (2) kumpulan karangan atau cerita pilihan, antologi; (3) kumpulan lagu-lagu pilihan. Hingga kini istilah bunga rampai lebih utama menjadi judul buku-buku yang berarti kumpulan, atau juga sering diperistilahkan dengan kapita selekta, yang merupakan garis besar mengenai hal-hal penting dan terpilih. Muncul karya-karya ilmiah yang berjudul, Bunga Rampai Hukum Sipil, Bunga Rampai Ekonomi Pedesaan dan Perkotaan, Bunga Rampai Sastra Perempuan atau lain sebagainya.

Jauh dari Sumatra yang merupakan tempat istilah bunga rampai lahir, di selatan nusantara muncul pembendaharaan kata baru yakni rumpu rampai. Jauh dari makna bunga rampai, rumpu rampai malahan lebih tinggi pemaknaannya. Rumpu rampai sebenarnya adalah nama masakan khas Nusa Tenggara Timur yang berasal dari Kepulauan Flores bagian timur. Masakan ini adalah oseng-oseng atau tumisan yang terdiri dari jantung pisang, daun ubi, bunga, daun dan buah pepaya muda, udang rebon sangrai serta bumbu-bumbu seperti tomat, cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih dan lainnya. Masakan ini merupakan pengabungan hasil bumi dan hasil laut, yang sesuai namanya menghadirkan sensasi campuran rasa pahit, manis, asin dan sedikit asam serta rasa bumbu yang kuat. Masakan ini cocok dinikmati dengan gurihnya ikan bakar dan lesatnya ikan kuah.

Penggambaran masakan yang berasal dari beberapa jenis bahan ini memperlihatkan kemajukan budaya, bahasa dan agama yang berkembang di wilayah tempat masakan ini berasal. Justru dari lapisan kultur heterogen dalam kuliner ini terlihat harmonisasi dalam konteks kehidupan masyarakat yang majemuk. Sehingga kebudayaan cenderung menghasilkan nilai kebersamaan yang dapat diterima sebagai sebuah kebanggaan. Hasil kebudayaan tidak hanya berupa upacara adat, pakaian adat, sastra, tari-tarian atau benda kerajinan tetapi juga kuliner.

Memang bunga rampai dan rumpu rampai hampir memiliki tekstur arti yang sama yakni kumpulan atau campuran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rumpu rampai belum menjadi sebuah pembendaharaan kata, namun dengan makna filosofi yang terkandung didalamnya, ada sebuah kebanggaan lokalitas dalam kultur masyarakat yang majemuk. Walhasil makna rumpu rampai bisa berada pada ranah apa saja, bukan hanya sekedar berbicara tentang kuliner lokal. Bisa jadi suatu saat rumpu rampai menjadi sebuah istilah atau terminologi baru, sehingga kelak akan muncul judul buku seperti, Rumpu Rampai Kebudayaan Nusantara, Rumpu Rampai Pendidikan Nusa Tenggara Timur atau Rumpu Rampe Kepulauan Lamaholot dan lain sebagainya! (*)


terinspirasi ketika pernah menikmati rumpu rampai
yang ditemani dengan ikan bakar dan ikan kuah asam
di Kota Larantuka, Flores Timur.

Kupang, 24 Juni 2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;