Sabtu, 16 Juni 2012

Kota Bogor, Kota Hujan


Tugu Kujang
Baru pertama kali menginjakan kaki di Kota Bogor. Memang awalnya udara terasa panas, namun menjelang sore hari, hujanpun tumpah ruah membasahi Kota Bogor. Mafhum saja kalau Kota Bogor telah dikenal dengan sebutan kota hujan. Letaknya di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede, membuat Kota Bogor memiliki curah hujan yang sangat tinggi sehingga turun hujan (hujan orografis) hampir setiap harinya. Hal inilah yang membuat Kota Bogor menjadi unik. Kota Bogor berjarak 60 kilometer dari pusat Kota Jakarta dan berada pada ketinggian 190-350 mdpl, dengan suhu udara yang relatif sejuk. Kota ini terkenal dengan ikon Tugu Kujang, yang merupakan bentuk senjata tradisional khas masyarakat Sunda yang terletak berhadapan dengan Kampus IPB Baranag Siang.

Media lokal terbitan Bogor
Objek wisata yang paling terkenal di Bogor adalah Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor. Kedua objek wisata ini bahkan dikenal luas di mancanegara. Istana Bogor dibangun tahun 1745, pada masa kekuasaan Belanda oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, bersamaan dengan pembangunan Jalan Raya Daendels. Istana ini merupakan salah satu dari enam Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Sedangkan Kebun Raya Bogor, awalnya dibangun kekuasaan Inggris oleh Gubernur Jendral Thomas Rafless dengan merenovasi Istana Bogor dan lalu sekitar Istana dijadikan Kebun Raya (Botanical Garden). Pada tahun 1817, Kebun Raya Bogor dikembangkan oleh Prof. Dr. Reinwadt, seorang ahli botani dari Jerman dengan penambahan koleksi tanaman tropis dari berbagai jenis. Di Kota Bogor juga masih terdapat banyak tempat wisata lainnya seperti bangunan kolonial, museum dan perpustakaan.

Salah satu pohon besar di Jalan Raya Pajajaran yang menyulitkan pengguna trotoar

Keberadaan istana dan kebun serta iklim lokal membuat Bogor menjadi tempat peristirahatan yang dikenal dengan nama Buitenzorg, diambil dari nama salah satu spesies palem, yang juga berarti aman tenteram. Kemudian hari Bogor juga dikenal sebagai pusat pendidikan dan penelitian pertanian, salah satunya diasosiasikan dengan berdirinya Institut Pertanian Bogor. Sebagai jalur menuju puncak, Bogor juga terkenal dengan pepohonan besar di tepi jalan. Keberadaan pohon ini yang membuat kesejukan dan kenyamanan Kota Bogor, namun di sisi lain dapat menjadi bencana kala musim penghujan yang diiringi angin badai datang. Beberapa jenis pohon yang ada seperti Pohon Kenari, Angsana dan Flamboyan.


Bogor, 16 Juni  2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

-

 
;